• Pada video ke 6 dari rangkaian *Mengapa subuh di Indonesia terlalu Awal?*

telah saya tunjukkan bahwa data astronomi hasil perekaman SQM untuk evaluasi subuh daerah Labuanbajo NTT milik BHR (Badan Hisab Rukyat) Kemenag memiliki cacat yang sangat mendasar: 1) Datanya _prematurely aborted_ (dihentikan sebelum masanya, sehingga secara matematik data tersebut cacat; 2) Lebih parah lagi, cara pemrosesannya juga *highly manipulative*, sehingga secara saintifik juga cacat. Padahal, Labuanbajo adalah daerah yang sangat penting untuk memperoleh statistik angka dip awal subuh secara nasional. Untuk itu, pada 12-13 Mei 2018, ISRN mengirimkan seorang saja (tidak perlu puluhan orang seperti BHR-Kemenag): *Sdr. Adi Damanhuri*, Sekretaris ISRN mengambil data astronomi di Labuanbajo. Berikut adalah analisisnya *Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? (7)* melalui link

Video ini menjelaskan kesimpulan penting dari 8 video sebelumnya yang berjudul Mengapa subuh di Indonesia terlalu awal? ISRN telah menggunakan 206 data (hari) yang mencakup secara lengkap seluruh wilayah politik Indonesia.

Ini merupakan statistik dari semua data yang digunakan tersebut yang, insya Allah, sangat reliable. Inilah hasil dip subuh nasional dan sekaligus menjelaskan berapa lama sebetulnya rentang subuh di Indonesia. Ternyata bukan sekitar 80 menit (dip= -20 derajat), tapi, hanya sekitar 53.6 derajat (dip= -13.34 derajat) sejak fajar muncul sampai dengan syuruq. Silahkan ikuti penjelasan tersebut melalui: https://www.saksono.org/2018/12/statistik-rentang-subuh-nasional.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *