Oleh:

Abdul Aziz Setiawan

KEUTAMAAN DZIKIR

Dzikir adalah ibadah yang sangat mudah namun memiliki faedah yang sangat besar bagi pelakunya. Allah berfirman dalam surat Al‘Ankabut 45, yang artinya: “Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).”. Walaupun konteks ayat menunjuk kepada shalat karena shalat juga masuk dalam kategori dzikir, namun bisa juga digunakan untuk menjelaskan tentang keutamaan dzikir secara keseluruhan.

Dalam ayat yang lain Allah -Subhanahu wa ta’ala- menunjukkan faedah yang lebih besar bagi orang-orang yang mengingat Allah -Subhanahu wa ta’ala- dalam surat Al Baqarah: 152, yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”. Allah -Subhanahu wa ta’ala- juga memerintahkan kepada kita untuk mengingat-Nya agar tidak termasuk orang-orang yang lalai dalam firman-Nya surat Al A’raf 205, yang artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. Demikian juga dalam surat Al-Jumu’ah: 10, yang artinya: “Ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi orang-orang yang mengingat Allah -Subhanahu wa ta’ala- dalam firman-Nya surat Al-Ahzab: 35, yang artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. Oleh karena itulah, Allah -Subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kepada kita untuk banyak-banyak berdzikir dalam firman-Nya surat Al-Ahzab: 41-42, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. Ini semua diperintahkan oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala- kepada kita agar kita semua mendapat rahmat dan nikmat-Nya yang sangat banyak.

Demikian juga halnya dengan Rasulullah _Shalallahu alaihi wa salam- yang pernah menunjukkan keutamaan mengucapkan tasbih dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -Radiallahu anhu-, dimana Beliau -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda, yang artinya:

Ada dua kalimat yang ringan untuk diucapkan namun berat di timbangan, sangat dicintai oleh Ar Rahmaan, yaitu Subhaanallaah wabihamdih Subhaanallaahil Azhim!” (Muttafaq ‘alaih).

Sabda Nabi ini menunjukkan bahwa perbuatan ini sangat bernilai tinggi jika dibandingkan dengan lainnya. Mudah untuk diucapkan tetapi memiliki pahala yang sangat besar. Demikian juga halnya dengan dzikir-dzikir yang lain, yang memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat.

Oleh karena itu, dalam riawayat Abu Hurairah -Radiallahuanhu- yang lain, Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- pernah mengungkapkan kecintaan Beliau -Shalallahu alaihi wa salam- terhadap dzikir.

« لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ »

Sungguh, aku mengucapkan Subahaanallaah wal Hamdulillaah wa Laa ilaaha illallaah Wallaahu akbar lebih aku cintai daripada dunia yang disinari matahari.” (Muslim)

Dzikir-dzikir seperti inilah yang harus diperbanyak oleh orang-orang yang beriman, karena hal ini lebih baik pahalanya di sisi Allah dan lebih baik untuk diharapkan. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman dalam surat Al-Kahfi: 46,

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Ibnu Katsir -Rahimahullah- mengutip pendapat Ibnu Abbas -Radiallahuanhuma- melalui jalan ‘Atha bin Rabah dan Said bin Jubair, bahwa ia berkata: “Amalan-amalan yang kekal lagi saleh (al baaqiyaatus shaalihaat) adalah ucapan subhaanallaah wal hamdulillaah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.

Demikian juga jawaban Amirul Mukminin Ustman bin Affan -Radiallahuanhu- ketika ditanya tentang “Amalan-amalan yang kekal lagi saleh (al baaqiyaatus soolhaat)” sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, maka ia menjawab, “Itu adalah ucapan laa ilaaha illallaah wasubhaanallaah wal hamdulillaah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illa billaah.”

Said bin Al Musayyib -Rahimahullah- berkata sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik: “Akan tetapi ia (al baaqiyaatus soolhaat) adalah laa ilaaha illallaah wallaahu akbar wasubhaanallaah wal hamdulillaah walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

DZIKIR DI ANTARA BENTUK SEDEKAH

Dzikir tidak saja merupakan amalan-amalan yang kekal lagi saleh, namun ia juga merupakan sedekah bagi orang-orang yang mengucapkannya. Ini adalah berita gembira bagi orang-orang fakir miskin yang ingin banyak bersedekah dalam kehidupan dunia namun terkendala dengan harta benda yang tidak mereka miliki.

Abu Dzar menceritakan bahwa orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, orang-orang yang memiliki harta telah memborong pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka juga bersedekah dengan kelebihan harta mereka!” Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

« أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ »

Bukankah Allah telah menetapkan bagi kalian apa-apa yang bisa kalian sedekahkan: sesungguhnya di setiap tasbih (ucapan subhaanallaah) ada sedekah, setiap takbir (ucapakan Allahuakbar) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan laa ilaaha illallaah) adalah sedekah, setiap ajakan kepada yang baik dan larangan dari yang mungkar adalah sedekah, dan di setiap kemaluan seseorang dari kalian ada sedekah.”

Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah seseorang mendatangi syahwatnya lantas ia mendapatkan pahala dari syahwatnya itu?” Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- menjawab:

«أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ»

Coba katakan (kepadaku), jika hal itu dia letakkan di tempat yang haram, apakah ia memikul dosa? Demikianlah jika ia meletakkannya di tempat yang halal, maka ia mendapatkan pahala!” (HR. Muslim)

Imam Nawawi -Rahimahullah- menjelaskan hadis ini dalam Syarah beliau terhadap Imam Muslim yang menukil pendapat al-Qadhi: bahwa penamaan shadaqah terhadap setiap dzikir ini karena ia memiliki pahala sebagaimana shadaqah memiliki pahala, bahwa ibadah-ibadah ini setara pahalanya dengan semua shadaqah. Menurut Imam Nawawi -Rahimahullah-, ada juga yang berpendapat bahwa dzikir-dzikir ini adalah shadaqah itu sendiri.

Ibnu Utsaimin -Rahimahullah- menjelaskan makna “Bukankah Allah telah menetapkan bagi kalian apa-apa yang bisa kalian sedekahkan,” beliau mengatakan: “Jika kalian tidak dapat bersedekah dengan harta, maka ada sedekah yang berbentuk amalan sholeh, yaitu: di setiap tasbih, takbir, tahmid, tahlil dan amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Adapun amar makruf dan nahi mungkar diantara bentuk sedekah yang paling utama….

Demikian juga dalam hadis riwayat Abu Hurairah -Radiallahuanhu-, bahwa orang-orang fakir dari kalangan muhajirin mendatangi Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- dan berkata : “Orang-orang yang memiliki harta telah memborong derajat yang tinggi dan nikmat yang kekal, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka memiliki kelebihan harta hingga mereka haji, umrah, jihad dan bersedekah.” Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

« أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ »

Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian dapat menyusul (mengejar) orang-orang yang telah mendahului kalian dalam beramal dan dapat meninggalkan orang-orang yang datang sesudah kalian, dan tidak ada orang yang lebih baik dari kalian kecuali jika ia melakukan seperti yang kalian lakukan?”

Para sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah!” Maka Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

« تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ مَرَّةً »

Kalian ber-tasbih, ber-tahmid, ber-takbir setiap selesai shalat sebanyak 33 kali.”

Abu Sholeh yang meriwayatkan dari Abu Hurairah -Radiallahuanhu- berkata: ketika Beliau  ditanya tentang bagaimana cara menyebutkannya, maka dia berkata: “Mengatakan subhaanallaah wal hamdulillaah wallaahu akbar, hingga setiap kalimat diucapkan sebanyak 33 kali.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam Muslim -Rahimahullah- menambahi dalam riwayatnya: maka orang-orang yang fakir dari kalangan muhajirin kembali menemui Rasulullah -Shallahu alaihi wa salam- dan berkata: “Saudara-saudara kami yang memiliki kelebihan harta telah mendengar perbuatan kami, sehingga merekapun berbuat seperti yang kami perbuat!” Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

« ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ »

Itulah karunia Allah yang Ia berikan kepada siapa yang Ia kehendaki.”

Kedua hadis di atas menjelaskan bahwa:

  • Para sahabat adalah golongan yang senantiasa berlomba-lomba menuju akhirat. Ketika mereka mendapati saudara mereka yang seiman berlomba-lomba dalam sedekah dan derma, maka mereka-pun mengadu kepada Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- agar ditunjukkan kepada suatu amalan yang dapat mengimbangi amalan saudara seiman mereka yang diberi kelapangan rizki.

  • Pintu-pintu ketaatan dan sedekah sangat banyak, salah satunya adalah berdzikir.

Ini adalah berita gembira bagi orang-orang fakir dan miskin, sehingga tidak ada alasan bagi orang-orang fakir dan miskin untuk kalah dari orang-orang kaya karena Allah -Subhanahu wa ta’ala- melalui Nabi-Nya  telah menunjukkan pintu-pintu kebaikan kepada mereka semua.

ANJURAN UNTUK BERDZIKIR SETIAP WAKTU

Dari petunjuk Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- ini, sudah sepatutnya setiap muslim secara keseluruhan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan yang sangat ringan ini, namun memiliki ganjaran dan pahala yang sangat besar. Hindaklah kita melakukannya di manapun kita berada. Di jalan, di tempat kerja, di rumah, di majelis-majelis ilmu, dan di mana saja berada.

Syaikh Bin Baz -Rahimahullah- berkata: “Sepatutnya bagi setiap orang yang beriman mengisi waktu-waktunya dengan berdzikir di rumahnya, di jalan, di pasar, di masjid, dll. Hendaklah setiap mukmin senantiasa mengisi waktunya dengan dzikir lisan, karena Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah mensyariatkannya dan memerintahkannya, demikian juga dengan Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- yang telah berwasiat dan menganjurkan akan hal ini. Karena dzikir adalah kebalikan dari lalai, dan orang-orang yang lalai adalah calon penghuni neraka.”

Ibnu Utsaimin -Rahimahullah- memberikan nasehatnya kepada kita semua :Wahai hamba Allah! Ucapkanlah senantiasa dua kalimat ini (subhaanallaah wabihamdihi subhaanallaahil azhim), karena keduanya berat di timbangan dan sangat dicintai Allah -Subhanahu wa ta’ala-. Dua kalimat ini tidaklah sulit untuk diucapkan, maka sepatutnya setiap manusia mengucapkannya dan memperbanyaknya! Demikian juga dengan ucapan subhaanallaah wal hamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar yang lebih baik daripada dunia dan isinya sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah -Radiallahuanhu-. Ucapan ini juga ringan!

Manusia saat ini banyak sekali yang melakukan perjalanan jauh dengan menaklukkan gurun-gurun, padang pasir dan tempat-tempat berbahaya hanya untuk mendapatkan sedikit keuntungan dunia, terkadang mereka beruntung dan terkadang juga mereka merugi. Akan tetapi jika dibandingkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat ini, mereka lemah karena syaitan telah menghalangi manusia untuk mengucapkannya. Syaitan telah mengalahkan manusia…!

Yang penting adalah kita membiasakan diri untuk mengingat Allah -Subhanahu wa ta’ala-! Hal ini tidaklah berat untuk diucapkan. Lisan kita tidaklah lelah untuk mengucapkannya! Ia mudah dengan pahala yang sangat besar!”

Semoga Allah -Subhanahu wa ta’ala- senantiasa menolong kita dalam membiasakan diri mengucapkan kalimat-kalimat yang mulia ini, amien! [*]

*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *