Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

(Artikel Pernah Dimuat Pada Majalah al-Umm Edisi I, November 2012)

Ma’asyiral muslimin, jamaah Jum’at rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya. Dan mari hiasi diri kita dengan akhlakul karimah (akhlak yang mulia/baik), untuk menyempurnakan agama kita. Karena Islam ini dibangun dengan tiga pilar sekaligus yang tidak bisa dipisah-pisahkan, yaitu: 1) akidah, 2) syari’ah (yang terdiri dari ibadah dan mu’amalah), dan 3) akhlak. Maka orang Islam yang sempurna ialah orang yang memiliki akidah yang benar, melaksanakan ibadah dan mu’amalah sesuai tuntunan syariat, dan memiliki akhlak yang mulia. Ini baru disebut muslim sejati.

Hadirin, jamaah rahimakumullah,

Apakah akhlak itu? Ibnul Atsir menyebutkan al-khuluqu dan al-khulqu dalam an-Nihayah (2/70), berarti dien, tabiat, dan sifat. Hakikatnya adalah potret batin manusia, yaitu jiwa dan kepribadiannya.1

Menurut Ibnu Maskawaih, akhlak adalah kondisi kejiwaan yang mendorong manusia melakukan sesuatu tanpa pemikiran dan pertimbangan.2

Sedangkan Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, bahwa akhlak merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah bisa menghasilkan perbuatan, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika perbuatan itu baik maka disebut akhlak yang baik, dan jika buruk disebut akhlak yang buruk.3

Senada dengan pendapat tersebut, al-Jurjani mengatakan, al-khuluq (akhlak) ialah tabiat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan dengan mudah tanpa perlu berpikir dan mempertimbangkan terlebih dahulu.4

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Apakah ada hubungan antara akhlak dan akidah?

Antara akhlak dengan akidah dan iman terdapat hubungan yang sangat erat, karena akhlak yang baik itu sebagai bukti dari keimanan. Sebaliknya, akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman seseorang. Semakin sempurna akhlak seseorang, maka semakin kuat imannya. Dari Abi Hurairah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنينَ إيمَاناً أَحْسَنُهمْ خُلُقاً. وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لنِسَائِهِمْ خُلُقاً

“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya.” (HR. Ahmad (7374), At-Turmudzi (1158), hadits hasan, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan, pemiliknya sangat dicintai oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab masuknya seseorang ke surga. Nabi  bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلَ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. At-Turmudzi, Abu Dawud, di hasankan oleh al-Albani)5

Akhlak yang baik mencakup pelaksanaan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk. Akhlak yang baik kepada Allah mencakup tiga perkara: 1) membenarkan berita-berita dari Allah, 2) melaksanakan hukum-hukum Allah, dan 3) sabar serta ridha kepada takdir-Nya. Sedangkan akhlak baik kepada sesama makhluk ialah: 1) menahan diri dari menyakiti orang lain, 2) berderma, dan 3) bermuka manis.

Pertama, tidak menyakiti orang lain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ،

“Sesungguhnya darah kalian, harta-harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyakiti orang lain bisa dengan lisan seperti menggunjing, mengadu domba, memperolok-olok, menjuluki dengan gelaran buruk, menuduh dengan tuduhan dusta, saksi palsu, dll. Juga bisa dengan perbuatan seperti mengambil harta, menipu, berkhianat, merampas, mencuri, memukul, membunuh, memperkosa, berzina, korupsi, memakan harta anak yatim, menahan hak orang lain, dan sebagainya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدهِ،

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari (10))6

Jadi, seorang muslim tidak akan menyakiti kaum muslim lainnya baik dengan lisan maupun dengan perbuatannya.

Kedua, berderma. Yaitu membantu orang lain berupa materi, saran, ilmu, tenaga, pikiran, pengaruh dan sebagainya.

Ketiga, bermuka manis. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَىٰ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau menganggap enteng perbuatan baik sedikitpun, meskipun engkau berjumpa saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim (6642))7

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Akhlak mulia ini adalah perintah Allah dan Rasul-Nya. Akhlak mulia merupakan dasar tegaknya peradaban. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبَعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan perbuatan baik niscaya akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad (20975), ad-Darimi (2790) dari Abu Dzar )8

Dr. Musthafa Dieb al-Bugha dalam kitabnya, Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, menjelaskan: “Dalam pesan ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan kita kepada perkara yang membawa kebaikan bagi individu dan tegaknya sistem kemasyarakatan. Perkara tersebut adalah berinteraksi dengan orang lain dengan akhlak yang terpuji, sehingga seorang muslim menjadi pribadi yang lembut, mencintai dan dicintai orang lain, menghormati dan dihormati orang lain, berbuat baik kepada orang lain dan mereka pun berbuat baik kepadanya.”9

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Keutamaan Akhlak yang Baik

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menyebutkan: banyak keutamaan, manfaat dan maslahat dari akhlak yang baik (mulia) yang disebutkan para ulama berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya ialah:

  1. Dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan perintah Rasul-Nya serta meneladani akhlak Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang agung.

  2. Orang yang berakhlak baik akan dicintai oleh orang yang dekat maupun yang jauh. Musuh dapat berubah haluan menjadi teman, dan orang yang jauh akan terpikat lalu mendekat.

  3. Orang yang berakhlak baik dapat memantapkan dakwah yang dijalankan oleh juru dakwah dan guru (pendidik) yang mengajarkan kebaikan.

  4. Akhlak yang baik itu sendiri merupakan ihsan (berbuat baik kepada orang lain) yang terkadang mempunyai nilai tambah melebihi ihsan dengan harta.

  5. Dengan akhlak yang baik memberikan kesempatan bagi orang yang berdiskusi untuk mengemukakan hujjahnya dan ia dapat memahami hujjah lawan diskusinya; sehingga ia dapat terbimbing kepada kebenaran dalam hal ucapan dan perbuatan.

  6. Dengan akhlak yang baik seseorang dapat menunaikan hak-hak yang wajib dan sunnah kepada keluarga, anak-anak, kerabat, teman, tetangga, pelanggan, dan semua orang yang berinteraksi dengannya.

  7. Akhlak yang baik itu menyerukan kepada sifat adil.

  8. Orang yang berakhlak baik selalu dalam keadaan tenang dan penuh dengan kenikmatan, hatinya tenteram sebagai modal untuk menggapai kehidupan yang bahagia.10

Sementara Syaikh Salim bin Id al-Hilali menyebutkan bahwa keutamaan akhlak mulia itu antara lain:

  1. Penyebab masuknya seseorang ke dalam surga.

  2. Penyebab seseorang dicintai Allah.

  3. Penyebab seseorang dicintai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

  4. Mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat, berdasarkan hadits at-Turmudzi tersebut di atas.

  5. Meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, berdasarkan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: (yang artinya): “Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaknya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang shalat malam dan shaum di siang hari.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim; hadit shahih.

  6. Akhlak mulia merupakan sebaik-baik amalan manusia. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal; keduanya itu sangat ringan dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibanding selain keduanya?” Abu Dzar menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Engkau harus berakhlak yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya.” (HR. Ibnu Abi Dunya (ash-shamt, 112 dan 554); al-Bazzar (Kasyful Astar, 4/220))

  1. Dapat menambah umur.

  2. Menjadikan rumah makmur. Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur.” (HR. Ahmad, hadits shahih)11

Hadirin, jamaah Jum’at rahimakumullah,

Cara Memperoleh Akhlak Mulia (baik)

Akhlak yang baik dapat dimiliki manusia dengan dua jalan:

  1. Sifat dasar yang sudah ada sebelumnya sebagai pemberian dari Allah; dan Allah memberikan karunia-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya.

  2. Dengan cara berusaha agar dapat memperoleh akhlak yang baik. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang terpuji baik yang nampak maupun yang tersembunyi pasti dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkannya. Di samping usaha kita, maka watak dasar yang sudah ada sebagai pembawaan merupakan faktor terbesar yang dapat membantu seseorang untuk memperoleh akhlak yang baik, dengan sedikit usaha saja tercapai apa yang dikehendaki.12

Dari uraian Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan Ibnu Qudamah, maka Ustadz Fariq bin Gasim Anuz menyimpulkan ada enam hal yang dapat membantu seorang muslim memperoleh akhlak yang baik, yaitu: 1) iman yang kuat, 2) tekad yang membara dan niat yang tulus, 3) ilmu yang bermanfaat, 4) amal shalih, 5) sabar, dan 6) doa.13

DR. Musthafa Dieb al-Bugha memberikan tips yang lain, ia menjelaskan bahwa manusia sangat mungkin memiliki akhlak yang terpuji, sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menganjurkan hal itu. Berusaha memiliki akhlak terpuji bisa dengan cara-cara berikut: 1) Mencontoh akhlak Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam, dan 2) bergaul dengan orang-orang yang bertakwa, para ulama, orang-orang yang memiliki akhlak yang mulia, dan menjauhi orang-orang jahat serta orang-orang yang mempunyai kebiasaan buruk dan sebagainya.14

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Melihat begitu besar manfaat dan keutamaan dari akhlak mulia ini baik untuk diri kita maupun masyarakat, baik di dunia maupun di akherat, maka marilah kita semua berupaya untuk memilikinya dengan berusaha keras dan penuh kesungguhan, termasuk kita tanamkan kepada anak-anak kita sebagai generasi harapan masa depan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita dan keluarga kita untuk memiliki sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya ini, yaitu akhlakul karimah. Aamiin ya mujibas-sa’ilin.

Khutbah kedua

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Di khutbah yang kedua ini mari kita renungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:

(133)وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran:133-134)

Sekali lagi, mari kita wujudkan sifat orang yang bertakwa, yang oleh Allah dalam ayat ini disebutkan bahwa surga itu disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa, yang di antara sebagian sifat orang yang bertakwa itu suka menafkahkan hartanya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, menahan amarah, dan suka memaafkan, serta selalu berbuat kebaikan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya ini. Aamiin ya rabbal ‘alamin. [*]

——————————————–

 

1 Fariq bin Gasim Anuz, Bengkel Akhlak, (Jakarta: Darul Falah, 1423 H/ 2002), 13.

2 Syaikh Ahmad Farid, Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah wal Jamaah, terj. Najib Junaidi, (Surabaya: Pustaka eLBA, 2012), 237.

3 Fariq bin Gasim Anuz, Bengkel Akhlak, 16.

4 Syaikh Khumais as-Sa’id, Beginilah Rasulullah  Mengajari Kami, (Jakarta: Darus Sunnah, 2008), 24.

5 Al-Mundziri, At-Targhib wat-Tarhib, Dar al-Kutub al-Ilmiah, (3/270)

6 Shahih al-Bukhari, 1/77

7 Shahih Muslim, 16/152

8 Musnad al-Imam Ahmad, (6/190); Sunan ad-Darimi, (2/323)

9 Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, 129.

10 Bengkel Akhlak, 58-64.

11 Ibid, 65-69

12 Ibid., 120.

13 Ibid, 141.

14 Al-Wafi…., 130.

Sumber Rujukan:

1. Fariq bin Gasim Anuz, Bengkel Akhlak, (Jakarta: Darul Falah, 1423 H/ 2002)

2. Syaikh Ahmad Farid, Pendidikan Berbasis Metode Ahlus Sunnah wal Jamaah, terj. Najib Junaidi, (Surabaya: Pustaka eLBA, 2012)

4. Syaikh Khumais as-Sa’id, Beginilah Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam Mengajari Kami, terj. Ali Fauzan, Lc. dan Muhammad Ashim, Lc. (Jakarta: Darus Sunnah, 2008)

5. Al-Mundziri, At-Targhib wat-Tarhib, Dar al-Kutub al-Ilmiah

6. DR. Musthafa Dieb al-Bugha Muhyidin Mistu, Al-Wafi: Syarah Kitab Arba’in an-Nawawiyah, terj. Muhil Dhofir, Lc., (Jakarta: Al-I’tishom, 2008)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *