GANGGUAN JIN DALAM TATANAN SOSIAL MASYARAKAT bag.2

  1. (bag.1)*
  2. (bag.1)*
  3. (bag.1)*

    *) http://www.binamasyarakat.com/jin-merusak-sistem/

  4. Sebagai pemimpin; Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Semua orang adalah pemimpin (pemelihara) dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinanya, baik pemimpin negara, pemimpin keluarga, ibu rumah tangga, dan siapa saja yang memiliki tanggung jawab termasuk memimpin dirinya sendiri. Semua akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Oleh karena itu setiap muslim harus berusaha menjadi pemimpin yang baik, pemimpin yang adil dan betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan. Apabila seorang individu dengan segenap gangguan jin dalam dirinya menjadi seorang pemimpin, baik di rumah tangga, perusahaan, instansi, sampai yang tertinggi memimpin Negara maka akan memberikan kontribusi besar terhadap apa yang di pimpinnya. leadershipJika pemikiran dan tindakan itu merupakan produk dari provokasi jin/setan, maka apa yang dihasilkan bagi yang dipimpinnya juga tidak akan banyak memberikan manfaat. Misalkan saja, seorang pemimpin yang mempunyai kesalahan pemahaman terhadap hakekat Allah Ta’ala (gangguan jin yang paling besar terhadap diri manusia), maka banyak hal yang disentuhnya tidak barakah, banyak produk kebijakannya yang bertentangan dengan perintah-Nya, dan sebagainya. Kita bisa lihat kisah Firaun, seorang pemimpin dengan segenap kesalahan pemikiran dan kenyakinannya (produk dari gangguan jin, atau dari hawa nafsu yang ditunggangi dan dihiasi oleh setan jin) menguasai rakyatnya untuk mengikuti kenyakinannya. Belum lagi sifat-sifat buruk lainnya, berkhianat terhadap amanah, korupsi,sewenang-wenang, memutar balikan fakta (bohong), dan lain-lain.
  5. mulut resletingSebagai pegawai/karyawan; ketika jiwa terkena provokasi jin/setan ada saja celah yang dilakukan setan untuk merusak pribadi orang tersebut. Ketika berada dalam komunitas kerja seringkali ada ucapan tidak terkontrol, akhirnya banyak orang tersakiti tanpa disadari. Muncul juga kecemburuan sosial yang akhirnya muncul sifat mengadu domba di antara rekan kerja, selanjutnya muncul berbagai fitnah, etos kerja asal bapak senang, mudah mengeluh, Provokasi setan yang mondompleng ke dalam pribadi manusia ini bisa merusak berbagai tatanan, aturan, dan sistem itu sendiri.
  6. Sebagai guru/ustadz/ustadzah/kiyai/dosen; seorang guru/ustadz/kiyai adalah panutan bagi anak didiknya. Dalam Islam kedudukan ustadz/guru sangat mulia, karena beliau adalah yang mengajarkan ilmu pengetahuan agama atau pun ilmu bersifat duniawi. Zaman sekarang ini, seringkali kita mendengar berita perilaku guru/ustadz/kiyai yang tidak senonoh. Berita tentang ustadz di pesantren yang telah menodai beberapa santriwatinya, guru-guru di sekolah yang melakukan tindakan amoral terhadap murid putrinya, dan lain-lain. Hal ini adalah sebagian kecil gambaran dari seorang guru/ustadz yang terkena gangguan jin/setan. Karena perilaku buruk apapun yang muncul pada diri seseorang, pada dasarnya adalah produk dari provokasi jin/setan dalam diri orang tersebut.
  7. Da'wahSebagai da’i/da’iyyah: tidak bisa kita pungkiri bahwa seorang da’i/da’iyyah mempunyai kedudukan yang mulia dalam Islam. Karena beliau adalah pejuang Allah Ta’ala dan penerus Rasul-Nya dalam menyebarkan dien terhadap umat manusia. Seperti yang telah diketahui, bahwa pada zaman sekarang ini telah banyak bermunculan di facebook dan di dunia nyata para da’i atau khutoba’(penceramah) dan semakin sedikitnya ahli ilmu. Dan yang paling banyak adalah khutoba’ yang mengeluarkan fatwa dan jawaban yang sesat dan menyesatkan. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah mengabarkan tentang hal ini:

Artinya: “Sesungguhnya kamu pada hari ini berada pada zaman di mana banyak sekali ulamanya dan sedikit sekali khutoba’nya, barangsiapa yang meninggalkan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya) maka sesungguhnya ia telah mengikuti hawa nafsu. Dan akan datang nanti suatu zaman di mana banyak sekali khutoba’nya dan sedikit sekali ulamanya, barangsiapa yang berpegang dengan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya), maka sesungguhnya ia telah selamat.” (H.R. Ahmad)

Seorang yang berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia telah sesat dan menyesatkan orang lain. Dan apabila seseorang yang tidak memiliki ilmu kemudian memberi fatwa kepada orang lain, maka dia berdosa dan dia juga akan menanggung dosa orang yang diberi fatwa. Belum lagi banyak terjadinya perseteruan di antara para da’i. Mereka bukannya bersatu dalam dakwah tetapi justru berusaha saling menjatuhkan. Apa yang bisa kita katakan, ketika melihat seorang da’i yang seharusnya dengan ilmunya ini lebih bisa bersikap santun, bijaksana, dan tawadhu’, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Fenomena di atas hanyalah sebagian kecil bentuk gangguan jin/setan atau amalan yang diprovokasi oleh setan jin dalam sebuah sistem kehidupan. Kita masih bisa mengembangkan pada berbagai sisi kehidupan yang lain, tetapi pada dasarnya adalah sama yaitu merusak sistem untuk berjalan secara optimal. Maka dapat disimpulkan, ada satu kata yang harus kita jadikan patokan untuk menghadapi gangguan jin/setan, yaitu WASPADALAH…  Wallahu’alam bish- shawab. [*]

________________________

Artikel “GANGGUAN JIN DALAM TATANAN SOSIAL MASYARAKAT” dimuat  di Majalah al-Umm Edisi VIII Th. 1

1. Pemasaran, Sirkulasi, dan Iklan

CP: 0812-3133-8889
(jam kerja 08.00 – 16.00)

2. Redaksi

CP: 0812-3133-9008

3. Informasi, kritik, dan saran 

bisa disampaikan melalui alamat email: majalah@binamasyarakat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *