Diangkat dari Khutbah Jum’at Syaikh Khalid ar-Rasyid,

Imam Masjid Umar ibn Khaththab Riyadh

Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, ucapan syukur bagi-Nya atas taufiq dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan mengagungkan urusan-urusan-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak kepada keridhaan-Nya.

Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam, dan berikanlah keberkahan kepada beliau , keluarga, para sahabat dan ikhwan beliau….

Aku wasiatkan kepada anda sekalian, juga kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah .

Bertakwalah anda sekalian wahai hamba-hamba Allah. Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa, dikarenakan dengan sebab takwa keberkahan akan tercurah, dan rahmatpun akan melimpah.

Allah telah memuji bulan Ramadhan di dalam kitab-Nya dengan firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ القُرْآَنُ

“Bulan Ramadhan, yang al-Qur`an telah diturunkan di dalamnya…’ lalu Dia menjelaskan bahwa padanya ada malam lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Maka kaum musliminpun (dengan adanya keutaamaan tersebut) memberikan perhatian besar terhadap bulan yang agung ini. Lalu mereka bersungguh-sungguh dengan beribadah di dalamnya; berupa shalat, puasa, shadaqah, ‘umrah ke baitullah al-Haram, dan amal-amal baik lagi shalih yang lain…

Puasa Sya’ban:

Tatkala Nabi melihat perhatian manusia terhadap bulan Rajab pada masa jahiliyah, mereka sangat mengagungkan dan melebihkan atas seluruh bulan, dan tatkala beliau melihat kaum muslimin berambisi untuk mengagungkan bulan al-Qur`an (Ramadhan), maka beliau berkeinginan untuk menjelaskan kepada mereka keutamaan bulan-bulan dan hari-hari yang lain.

Dari Usamah bin Zaid , bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi , seraya berkata: “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat anda berpuasa pada sebuah bulan dari bulan-bulan seperti puasa anda pada bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“(Bulan Sya’ban) itu adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia, bulan yang berada di antara Rajab dan Ramadhan, itu adalah bulan yang di dalamnya amal-amal diangkat kepada rabbul ‘alamin, dan aku suka jika amalku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.” (Sunan an-Nasa`i (8/59), dihasankan oleh al-Albani, Silsilah as-Shahihah (1898))

Pertanyaan Usamah menunjukkan tingginya perhatian para sahabat yang mulia, serta teguhnya mereka dalam memegang sunnah Nabi .

Prakteknya, Nabi berpuasa penuh dalam bulan Sya’ban kecuali sedikit sekali tidaknya, sebagaimana dikabarkan oleh ‘Aisyah dalam hadits yang telah disepakati keshahihannya.

Maka, pasti ada sebuah perkara penting di balik pengkhususan puasa pada semisal bulan ini. Inilah yang diperingatkan oleh Nabi dengan sabda beliau: “Itu adalah sebuah bulan yang di dalamnya amal-amal diangkat kepada Allah .”

Jadi, amal-amal para hamba diangkat pada bulan ini dari setiap tahun, dan dihadapkan (dilaporkan) pada hari Senin dan Kamis dari setiap pekannya. Maka Nabi suka jika amalnya diangkat kepada rabbul ‘alamin sementara beliau dalam keadaan berpuasa. Karena puasa adalah termasuk bagian dari kesabaran. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴿١٠﴾

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Bulan Sya’ban adalah sebuah bulan agung yang diagungkan oleh Rasulullah , maka selayaknyalah bagi kita untuk mengagungkannya dengan memperbanyak ibadah, dan istighfar secara sempurna sebagaimana telah shahih dari Nabi dalam masalah tersebut.

Di dalam bulan ini terdapat satu malam yang agung juga, yaitu malam nisfu sya’ban. Dimana Nabi mengagungkannya dengan sabda beliau:

«يَطَّلِعُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ إِلىَ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ»

Allah melhat kepada makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban, lalu Dia akan mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang musyrik atau orang bertengkar.” (Hasan, HR. Ibnu Majah (1390), Ibnu Hibban (5665), at-Thabarani, al-Kabir (215), dan lainnya)

Barangsiapa berdo’a kepada selain Allah , maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa meminta kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa berziarah ke kuburan Nabi kemudian meminta terpenuhinya hajat-hajatnya maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa menyembelih untuk selain Allah maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa berhukum dengan selain syari’at Allah dan dia ridha dengannya maka dia telah berbuat syirik, dan barangsiapa berziarah ke kuburan para wali untuk meminta hajat keperluan mereka terpenuhi maka dia telah berbuat syirik. Sementara orang musyrik tidak akan diperhatikan oleh Allah dan tidak akan diampuni dosa-dosanya.

Demikian juga orang-orang yang ada diantara keduanya dendam dan permusuhan, maka Allah tidak akan mengampuni keduanya hingga kedua berdamai…

Subhanallah, manusia tengah menganggap kecil terhadap perkara seperti ini… manusia menganggap kecil perkara seperti ini…

Oleh karena itulah, engkau melihat pada masyarakat kita pada hari ini, munculnya sifat-sifat tercela diantara masing-masing individunya… terutama lagi mereka yang memakmurkan masjid-masjid, sebagian mereka saling membenci sebagian yang lain karena sekedar perkara remeh yang tidak berhak untuk disebutkan.

Dan sesungguhnya saya benar-benar mengingatkan mereka dengan hadits Nabi ini… dan yang dituntut dari mereka adalah mengatakan ‘kami mendengar dan kami taat…’

Dan hendaknya orang-ornag yang mereka berada diatas dendam dan permusuhan, benar-benar berada diatas ilmu dan penguasaan akan bahayanya perkara ini. Dan bahwa dendam dan permusuhan diantara saudara seiman adalah satu sebab tidak diterimanya shalat dan amal mereka, dan tidak melihatnya Allah kepada mereka pada malam nishfi sya’ban.

Allah berfirman:

يَومَ لا يَنفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ ، إلاَّ مَن أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلَيمٍ

“… pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak, melainkan orang yang mendatangi Allah dengan hati yang selamat…’

Yaitu hati yang tidak membawa dengki, hasud, dan kecurangan terhadap seorangpun dari kaum muslimin…

‘Ibadallah…

Hadits Lemah dan Bid’ah Sya’ban:

قبل أن نأتي على نهاية الكلام أود عرض بعض البدع والأحاديث الواهية عن ليلة النصف من شعبان ..

Sebelum kita mendatangi penghujung pembicaraan, saya ingin menyodorkan sebagian kebid’ahan dan hadits-hadits lemah tentang malam nishfu Sya’ban.

Pertama, kebid’ahan Shalat Alfiyah. Ini termasuk perkara baru dan bid’ah pada malam Nishfu Sya’ban. Yaitu shalat 100 rakaat secara berjama’ah, di dalamnya imam membaca surat al-Ikhlash sebanyak 10 kali pada setiap rakaat. Tidak ada hadits yang benar tentang shalat ini. Hadits-hadits yang menerangkannya adalah hadits palsu, yang didustakan atas nama Rasulullah . Maka berhati-hatilah wahai hamba-hamba Allah dari kebid’ahan dan kesesatan.

Kedua, pengkhususan malam nishfu Sya’ban dengan shalat, dan di siangnya dengan puasa. Berdasarkan hadits:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا

“Jika berada pada malam nishfu Sya’ban maka berdiri (shalat)lah kalian di malamnya, dan berpuasalah pada siang harinya….” (Hadits palsu, Silsilah ad-Dha’ifah (2132))

Hadits ini tidak ada asalnya, maka berhati-hatilah.

Ketiga, shalat enam rakaat pada malam nishfu sya’ban dengan niat menolak bala’, memperpanjang umur, dan mendapatkan pujian dari manusia. Serta membaca Surat Yasin dan berdo’a. Itu semua adalah bid’ah dan perkara baru yang menyelisihi petunjuk Nabi , dan menyalahi praktek para sahabat dan ulama ahli hadits.

Al-Imam al-Ghazzaliy berkata di dalam Ihya’ Ulumiddin, ‘Shalat yang masyhur ini ada pada kitab-kitab orang-orang mutaakhkhir (belakangan) dari tokoh-tokoh sufiy yang aku tidak melihatnya, tidak juga do’anya satu sanad yang shahih dari sunnah, melainkan itu adalah termasuk amaln ahlul bid’ah. Dan sungguh para sahabat kami telah mengatakan bahwa dibenci kumpul-kumpul dalam rangka menghidupkan (meramaikan, merayakan) malam-malam tersebut di dalam masjid-masjid atau selainnya.

Imam Nawawi berkata: “Shalat Rajab -yakni shalar Raghaib- dan shalat Sya’ban adalah dua bid’ah munkar dan buruk.”

Maka atas dasar inilah, wajib bagi anda sekalian wahai hamba-hamba Allah, untuk beribadah kepada Allah dengan apa yang telah Dia syari’atkan di dalam kitab-Nya atau dengan apa yang telah datang di dalam sunnah Nabi-Nya , serta sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk setelah beliau .

Berhati-hatilah anda sekalian wahai hamba-hamba Allah, dari perkara-perkara yang menyesatkan, dikarenakan kebid’ahan adalah kesesatan dan kehancuran, di mana seorang hamba tidak akan bisa mengambil manfaat dari amalnya tersebut kecuali semakin jauh dari Allah .

Maka fahamilah agama kalian wahai hamba-hamba Allah…!

Hari jum’at adalah hari yang paling utama…

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling utama…

Malam lailatul qadar adalah malam yang paling utama…

Masjidil Haram adalah masjid yang paling utama…

Jibril adalah malaikat yang paling utama…

Dan Muhammad adalah penghulu para nabi dan rasul, bahwa beliau adalah penghulu seluruh anak cucu Adam, dan tidak ada kesombongan.

Allah telah memerintahkan kalian untuk bershawalat kepada beliau seraya berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴿٥٦﴾

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam, serta berkahilah hamba dan Nabi-Mu, Muhammad , juga kepada keluarga, dan seluruh sahabat-Nya.

Ya Allah, ridhailah seluruh sahabat beliau, dan sahabat beliau yang empat, juga sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira dengan sorga, serta kepada seluruh para sahabat, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ridhailah kami bersama mereka dengan karunia-Mu, kelembutan-Mu, kedermawanan-Mu dan kemuliaan-Mu, wahai Dzat yang Maha Pemurah.

Ibadallah…

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Banyaklah berdzikir kepada Allah, maka Dia akan banyak menyebut kamu, bersyukurlah kalian kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, maka Dia akan menambah nikmat-Nya kepadamu. Sungguh dzikir kepada Allah adalah amalan terbesar. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat.

Diterjemahkan dari http://www.saaid.net/mktarat/12/8-14.htm oleh Abu Rafi’ Muhammad Syahri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *