JUJUR, AKHLAK MULIA

Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah  dengan sebenar-benarnya. Dan marilah kita hiasi diri kita dengan akhlak mulia, di antaranya ialah sifat jujur, karena jujur adalah salah satu sifat utama yang dimiliki oleh Baginda Nabi .

Tidak ada yang meragukan bahwa kejujuran adalah akhlak yang mulia. Makanya tidak heran jika Rasulullah  selalu menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri mereka dengan akhlak yang agung ini.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud  bahwa Rasulullah  bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ. فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَىٰ الْبِرِّ. وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَىٰ الْجَنَّةِ. وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّىٰ الصِّدْقَ حَتَّىٰ يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ صِدِّيقاً. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ. فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَىٰ الْفُجُورِ. وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَىٰ النَّارِ. وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّىٰ الْكَذِبَ حَتَّىٰ يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ كَذَّاباً

Berlaku jujurlah kalian, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Ketika seseorang selalu jujur dan menjaga kejujurannya, maka Allah  akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Dan janganlah kalian berbohong, karena kebohongan akan mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan mengantar seseorang masuk neraka. Jika seseorang selalu bohong dan membiasakan diri berbohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai pembohong. (HR. Bukhari, Muslim (6591), Abu Dawud, dan at-Turmudzi (1976))

Lawan jujur adalah bohong. Sedangkan sifat bohong termasuk sifat orang munafik, Nabi . Bersabda:

«آيةُ المُنافِق ثلاثٌ إذا حَدَّثَ كَذَب، وإِذا وَعَدَ أخْلَفَ، وإذا ٱؤْتُمِنَ خان»

Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia dusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya ia khianat. (HR. Bukhari (33), Muslim (173), Ahmad (8623), at-Turmudzi (2699))1

Jujur mempunyai banyak definisi, namun ada satu makna yang sering digunakan dan mudah dipahami, yaitu perkataan yang benar, sesuai dengan realita yang dilihat oleh orang yang mengatakannya meskipun orang lain tidak mengetahuinya.

Dalam bahasa Arab jujur disebut ash-shidq. Lafal ash-shidq (kejujuran) menurut Dr. Saad Riyadh, dipergunakan dalam enam makna, yaitu:

Pertama, jujur dalam perkataan. Artinya, kejujuran dalam pemberitaan atau hal-hal yang berkaitan dengan pemberitaan.

Kedua, jujur dalam niat dan kemauan. Ini dapat dikembalikan kepada makna ikhlas, yaitu orang yang motivasinya dalam segala aktivitas hanya karena Allah .

Ketiga, jujur dalam tekad. Contoh, dia berkata pada dirinya sendiri: “Jika Allah menganugerahkan rezki kepadaku maka aku akan bersedekah…” atau “Jika aku jadi penguasa, aku akan memimpin dengan adil…” dst. Nah, tekad yang benar-benar lahir dari lubuk hati inilah yang dinamakan tekad yang jujur.

Keempat, jujur dalam menepati tekad yang telah dikemukakan.

Kelima, jujur dalam beramal. Yaitu, upaya seseorang agar tindakan lahiriyah tidak berbeda dengan yang ada di dalam batinnya.

Keenam, jujur dalam segala sifat baik yang dianjurkan agama. Inilah tingkatan kejujuran yang paling tinggi. Contoh: jujur dalam rasa takut dan pengharapan kepada Allah, jujur dalam mengagungkan Allah, jujur dalam sikap zuhud dan tawakkal, atau menyayangi sesama.2

Dalam al-Qur’an, Allah juga meminta kaum beriman untuk bergabung bersama orang-orang yang benar dan jujur:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ -١١٩

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS.at-Taubah (9): 119)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Nabi Muhammad  terkenal sebagai pribadi yang jujur, baik di masa jahiliyah lebih-lebih di masa Islam. Sebelum wahyu turun dan sebelum beliau mendakwahkan ajaran Islam, kaum Quraisy sudah mengenal beliau sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Sejak kecil Rasulullah  sudah terbiasa dengan sifat jujur ini. Orang-orang yang berkawan dengan beliau sejak kecil, tidak pernah sekalipun mendengar Rasulullah  berbohong. Karenanya orang-orang juga tidak ragu atau curiga atas apa yang dikatakan olehnya. Namun, ketika risalah samawiyah turun, dan beliau hendak menyebarkannya, kaum kafir Quraisy mulai tidak mempercayainya. Pada permulaan dakwahnya, Nabi Muhammad  naik ke Bukit Shofa dan berseru: “Wahai kaum Quraisy pagi sudah menyingsing (kemarilah dan berkumpullah).” Beliau mengucapkan kalimat ini dengan harapan kaum Quraisy mau berkumpul. Setelah berkumpul, mereka bertanya, “Ada apa Muhammad?” Nabi melanjutkan orasinya, “Apa yang akan kalian katakan, jika saya mengabari kalian bahwa musuh akan datang pagi ini atau sore nanti. Apakah kalian mempercayaiku?” Kaum Quraisy menjawab, “Ya, Kami tidak pernah melihat engkau berbohong.” Nabi melanjutkan pidatonya, “Ketahuilah, saya ini adalah orang yang mengingatkan kalian supaya tidak mendapatkan siksa yang pedih.”

Mendengar seruan Rasulullah ini, Abu Lahab marah-marah, “Celaka kamu wahai Muhammad. Hanya untuk tujuan ini kamu mengumpulkan kami?” maka kemudian Allah  mengancam Abu Lahab dengan menurunkan Surat al-Lahab ayat 1-3.3

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Abu Jahal, musuh utama Nabi juga mengakui bahwa Nabi  adalah orang jujur dan tidak mungkin berbohong. Abu jahal adalah orang yang paling getol menggagalkan dakwah Nabi, baik dengan ucapan maupun yang lainnya. Dia menghina ajaran-ajaran Rasul, dan berusaha sekuat tenaga untuk membendung dakwahnya, baik siang maupun malam, tanpa lelah. Meskipun demikian Abu Jahal tetap mengakui bahwa Nabi adalah orang yang jujur. Abu Jahal berkata, “Kami tidak mendustakanmu. Di antara kami, kamu bukanlah seorang pembohong. Kami hanya mendustakan apa yang kamu ajarkan.” Kemudian Allah  menurunkan ayat:

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ -٣٣ 

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah4. (QS. Al-An’am (6): 33

Dalam al-Qur’an, Allah seringkali menegaskan bahwa di hari kiamat nanti Dia akan memberikan pahala kepada orang-orang yang benar dan jujur, serta akan menyiksa orang-orang yang bohong. Allah berfirman:

لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا -٢٤

Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab(33): 24)

Sementara Allah telah menyiapkan neraka bagi orang-orang yang berdusta dan sering melakukan kezaliman, Allah  berfirman:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ -٣٢

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?” (QS. Az-Zumar (39): 32)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Berdasarkan ayat-ayat dan keterangan tersebut, maka marilah kita perhatikan pendidikan anak-anak kita, kita tanamkan dan biasakan anak-anak dengan sifat jujur ini.

Rasulullah  memberi perhatian khusus tentang penanaman kejujuran ini pada diri anak. Beliau mengawasi perlakuan kedua orangtua kepada anak mereka agar terhindar dari hinanya berdusta kepada anak. Beliau menetapkan satu kaidah umum bahwa anak juga manusia yang memiliki hak-hak dalam hubungan sosial. Sehingga kedua orangtua tidak boleh membohonginya dengan media dan sarana apapun.5

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amir , ia berkata:

دَعَتْنِي أُمِّي يَوْماً وَرَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم قاعِدٌ في بَيْتِنا، فقالَتْ هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ، فَقالَ لَهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ؟ قالَتْ أُعْطِيهِ تَمْراً، فقالَ لَهَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: أُمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئاً كُتِبَتْ عَلَيْكَ كَذِبَةٌ

“Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah  duduk di rumah kami. Dia berkata, “Kemarilah, aku beri sesuatu!” Rasulullah  bertanya kepadanya, “Apa yang ingin engkau berikan kepadanya?” Ibu menjawab, “Aku akan memberikan buah kurma.” Rasulullah  bersabda: “Sungguh, seandainya engkau tidak memberikan sesuatu, maka akan dicatat atasmu (dicap) sebagai pendusta.” (HR. Abu Dawud (4987), Ibnu Abi Syaibah (21352))6

Dalam riwayat Abu Hurairah , bahwa Rasulullah  bersabda:

مَنْ قالَ لصَبيٍّ تعالَ هاكَ ثُمَّ لمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كِذْبَةٌ

“Barangsiapa yang mengatakan kepada seorang anak kecil, “Kemarilah aku akan memberikan sesuatu!” kemudia ia tidak memberinya, maka itu adalah suatu kedustaan.” (HR. Ahmad (9678))7

Dari sini, ma’asyiral muslimin rahimakumullah, pentingnya penanaman sifat kejujuran ini kepada anak semenjak masih kecil. Agar anak-anak tumbuh menjadi orang-orang yang jujur kelak ketika dewasa. Ini penting, karena sifat jujur ini sudah semakin langka di zaman ini dan di negeri ini. Orang-orang sudah semakin bangga dengan ketidakjujurannya.

Sekali lagi, metode penanaman dan pembiasaan ini menjadi salah satu metode pilihan Nabi  dalam mendidik karakter para sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang berhasil dengan gemilang. Ini sesuai pepatah Indonesia: kecil teranjak-anjak, besar terbawa-bawa. Artinya, kebiasaan sejak kecil akan dibawa sampai besar

Maka untuk menghasilkan anak-anak yang jujur harus diawali dari para orangtua dan guru yang jujur. Tanpa itu, jangan berharap anak kita menjadi jujur, karena contoh dan panutannya adalah orang-orang yang tidak jujur.

Semoga kita dan keluarga kita dijadikan oleh Allah  ke dalam golongannya orang-orang yang jujur. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

***

Sumber Rujukan:

  1. Abdul Mun’im al-Hasyimi, Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim, ter. Abdul hayyie al-Kattani, (Jakarta: Gemani Insani, 2009)

  2. Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting: Cara Nabi  Mendidik Anak, terj. Farid Abdul Aziz Qurusy, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010)

  3. Dr, Saad Riyadh, Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah , terj. Abdul hayyi al-Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2007)

***

foot note:

1-Shahih al-Bukhari, (1/124); Shahih Muslim, (2/39); Musnad al-Imam Ahmad, (3/40); Sunan at-Turmudzi, (7/365)

2-Dr, Saad Riyadh, Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah , terj. Abdul hayyi al-Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2007), 138-140.

3-Abdul Mun’im al-Hasyimi, Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim, (Jakarta: Gemani Insani, 2009), 123.

4-Dalam ayat ini Allah menghibur Nabi Muhammad  dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan Nabi, pada hakekatnya adalah   mendustakan Allah sendiri, karena Nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.

5-Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting: Cara Nabi  Mendidik Anak, terj. Farid Abdul Aziz Qurusy, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), 421.

6-Sunan Abi Dawud, 13/335; Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 6/124.

7-Musnad al-Imam Ahmad, 3/206.

sumber: Majalah al-Umm Edisi 02 Tahun I, Rubrik Khutbah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *