Meminta Fatwa Hakim Tentang Mimpi

Oleh: Ahmad al-Ghanim dari Kitab Ru’a

Diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Syahri

Telah diceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang pergi kepada seorang hakim untuk meminta fatwa tentang mimpi yang dilihatnya, yang membuat penasaran. Maka begitu ia  bertemu dengan sang hakim segera saja ia berkata:
“Saya akan menyampaikan kepada  anda sebuah perkara penting yang belum pernah saya sampaikan kepada orang yang paling dekat sekalipun. Saya telah bermimpi bahwa saya memiliki empat orang istri, di mana mereka memiliki keistimewaan dan perbedaan.”
“Istri yang keempat adalah istri yang paling mahal dan paling manis di antara mereka. Dialah yang  dimanjakan. Dia telah mendapatkan segenap perhatian, dan kedudukan dariku karena kecantikan dan keelokannya. Saya mendahulukannya pada setiap perhatian dan perlindungan.”
“Di bawahnya adalah istri yang ketiga. Sungguh saya sangat mencintainya dengan kecintaan yang besar. Saya banggakan dia di hadapan kenalan dan kawan-kawan, akan tetapi -dengan suara lantang- keraguan telah merasukiku tentangnya. Saya khawatir suatu hari nanti dia akan pergi bersama orang lain.”
“Adapun istri yang kedua, maka saya juga mencintainya. Di antara para istri tersebut dia istimewa dengan pemahaman dan kesabarannya. Sekalipun cinta saya kepadanya tidak seperti pada istri yang keempat dan ketiga. Akan tetapi dia telah mendapatkan kepercayaanku. Benar jika dikatakan setiap kali saya dihadapkan kepada sebuah permasalahan, saya bersandar kepadanya. Dia adalah sebaik-baik penolong saat kesempitan.”
“Adapun istriku yang pertama, maka dia adalah sekutu yang sempurna dalam kehidupanku. Bahkan dialah yang memiliki saham besar dalam perhatiannya terhadap berbagai urusanku, dalam mengatur berbagai keperluanku, di samping perhatiannya terhadapku dan terhadap rumahku. Sayang sekali, terpaksa saya katakan kepada anda bahwa saya tidak mencintainya sekalipun dia sangat mencintaiku dari lubuk hati yang paling dalam. Dan sungguh sebuah kehidupan yang buruk jika dibangun di atas kecintaan salah satu pihak.”
“Saya bermimpi seakan-akan saat kematianku sudah datang. Kematian tengah mencariku. Maka pada saat itulah istri-istriku hadir secara bergantian. Saya berkata kepada istriku yang keempat: “Engkau adalah orang yang paling aku cintai, aku kenakan kepadamu pakaian yang paling indah, perhiasan yang paling mahal, dan aku limpahkan kepadamu segenap perhatianku, sekarang aku akan mati, maka maukah kamu menyertaiku?” Maka diapun menjawab dengan cepat: “Tidak mungkin.” Kemudian dia berpaling membelakangiku. Saya merasa seakan-akan jawabannya adalah sebuah pisau yang dihunjamkan kelubuk hatiku.
Hadirlah istri yang ketiga, saya katakan kepadanya: “Aku mencintaimu sepanjang hidupku, sekarang aku akan meninggalkan kehidupanku ini, maka maukah kamu menemaniku.” Dia menjawab: “Kehidupan ini manis, sayang sekali engkau harus tahu bahwa aku akan menikah lagi sepeninggalmu.” Sungguh perkataannya sangat menyakitkanku.
Saya lihat kepada istriku yang kedua, saya mengingatnya dan apa-apa yang telah kukerjakan untuknya, maka  saya katakan kepadanya: “Ini adalah saat aku memerlukan pertolonganmu, maka maukah kamu menemaniku dalam kesendirianku?” Dia menjawab: “Sayang sekali, aku tidak bisa membantumu saat ini, akan tetapi aku akan menemanimu hingga pemakaman saja.”
Di saat saya mengingat jawabannya, dan saya merasakan kesedihan akan susahnya keadaanku dan penolakan mereka, tiba-tiba saya mendengar sebuah suara lantang  : “Saya, saya, saya akan menemanimu, dan saya akan mengikutimu kemana saja engkau pergi.”
Sayapun melihat kepada sumber suara itu, ternyata dia adalah istri pertama saya, dia tampak kurus kering seperti dia hidup tanpa makanan untuk masa yang panjang. Tampak padanya guratan kesedihan akan apa yang kuperbuat terhadapnya, sedikitnya perhatian, dan pengertian hingga dia menjadi seperti itu keadaannya.
“Mohon pak Hakim  menjelaskan kepada saya -mudah-mudahan Allah menjagamu- rahasia mimpi ini yang sangat menggelisahkan saya.”
Saat itulah sang hakim tersenyum, mengangguk-anggukan kepalanya. Sebelum menjawab dia menarik dafas dalam-dalam dan berkata:
“Setiap kita memiliki empat orang istri. Istri yang keempat adalah jasad-jasad kita, betapapun kita merawat dan menjaganya, maka dia tidak akan meninggalkan dunia pergi bersama kita.
Istri yang ketiga adalah harta-harta kita, dan barang-barang milik kita, kita mencitainya, berbangga dengannya. Tapi saat kita mati, dia berpindah kepada selain kita dari para ahli waris.
Istri yang kedua, adalah kerabat dan kawan-kawan kita, betapapun kuat ikatan kita bersama mereka, betapapun dalamnya hubungan yang kita capai dengan mereka, mereka hanya akan menemani kita sampai di batas pemakaman.
Adapun istri yang pertama, yang tidak mungkin seorangpun melihatnya adalah roh yang paling banyak mendapatkan bagian kelalaian, dan kelupaan kita karena mabuk dengan kenikmatan kehidupan dunia.
Jika demikian, bukankah masuk akal memberikan perhatian dan penjagaan kepadanya dengan kebaikan, dan amal shalih, terlebih-lebih dia adalah satu-satunya orang yang akan menyertai kita pada hari perhitungan?!! (AR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *