ABDUL AZIZ, SKM.

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Ramadhan adalah bulan disyariatkan puasa bagi orang-orang beriman. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah (2): 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Orang-orang yang beriman akan menyambutnya dengan gembira, karena orang yang berpuasa akan menjadi orang yang bertakwa jika ia mengerjakan puasanya dengan sebenar-benarnya. Dan tidak ada yang ingin dicapai oleh orang beriman selain dari ketakwaan kepada Allah .

Takwa adalah sebaik-baik perbekalan, sebaik-baik pakaian, dan wasiat Allah untuk orang-orang terdahulu dan kemudian. Takwa adalah bekal pada saat susah, bantuan pada saat menderita, tempat berlabuhnya kegembiraan dan ketenteraman serta takwa adalah tempat turunnya kesabaran dan ketenangan. Sehingga tidak satupun orang beriman yang tidak tergoda dengan kebaikan di balik puasa ini. Oleh karena itu, orang beriman akan menyambutnya dengan gembira, mempersiapkan jiwa dan raganya untuk melalui hari-hari di bulan ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata mengenai tafsir ayat ini: “Puasa adalah salah satu faktor ketakwaan terbesar, karena di dalam puasa terdapat ketaatan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Diantara cakupan takwa adalah :

  1. Orang yang berpuasa harus meninggalkan apa yang diharamkan Allah kepadanya berupa makan, minum, bersetubuh dan sejenisnya yang mana jiwanya cenderung kepadanya, guna mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Ini merupakan takwa.

  2. Orang yang berpuasa melatih dirinya untuk muraqabatullah (merasa diawasi Allah ), lalu ia meninggalkan nafsunya kendatipun mampu melakukannya, karena ia mengetahui bahwa Allah mengawasinya.

  3. Orang yang berpuasa menyempitkan tempat masuk setan karena setan mengalir pada tubuh Bani Adam lewat aliran darah. Dengan berpuasa aktifitas setan akan lemah dan kemaksiatan berkurang.

  4. Orang yang berpuasa pada umumnya ketaatannya bertambah, sedangkan ketaatan adalah sifat takwa.

  5. Apabila orang kaya pernah merasakan pedihnya kelaparan, maka itu membuatnya peduli terhadap fakir miskin dan orang-orang terlantar. Ini merupakan sifat-sifat takwa.

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini dalam tafsirnya, “Allah berfirman kepada orang-orang beriman dari kalangan umat ini dan memerintahkan mereka untuk berpuasa, yaitu menahan makan dan minum serta hubungan suami istri (di siang hari) dengan niat yang ikhlas karena Allah , karena didalamnya terkandung zakat, penyucian dan pembersihan jiwa dari segala kekotoran dan akhlak yang hina”. Beliau juga berkata: “Karena puasa mengandung penyucian dan pembersihan diri serta mempersempit jalan setan, maka Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shohihain: ‘wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang mampu menikah maka menikahlah, dan jika tidak bisa maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penawar”.

Kebersihan dan kesucian jiwa itulah yang senantiasa dicari orang-orang yang beriman. Kalau orang-orang kafir berlomba-lomba untuk membersihkan fisiknya, mempercantik bentuk tubuhnya dan memperindah badannya, maka orang-orang beriman akan berlomba-lomba untuk membersihkan dan menyucikan jiwanya. Karena hal inilah yang akan menyelamatkan mereka dari siksa dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (AsSyu`ara: 88-89).

KEBERKAHAN BULAN RAMADHAN

Bulan ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Mengingat banyaknya keberkahan yang Allah sediakan bagi orang beriman di bulan suci ramadhan, maka sudah selayaknya jika setiap orang beriman berlomba-lomba meraih dan mendapatkannya. Tidak sepatutnya orang beriman lalai dan terlena dengan kehidupan dunia. Allah berfirman dalam surat al Muthoffifin ayat 26 :

وَفي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ المُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba

Juga firman Allah dalam surat Al Qashash ayat 77 :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”

Diantara keberkahan yang harus diraih oleh setiap orang beriman di bulan suci ramadhan adalah :

  1. AMPUNAN

Ampunan sangat diharapkan oleh setiap mukmin. Banyak beramal tetapi dengan banyak dosa sangat berat bagi orang yang beriman. Sehingga seorang mukmin butuh banyak ampunan dari-Nya. Ampunan yang dapat diharapkan salah satunya bersumber dari puasa di bulan ramadhan. Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA sebagaimana ada dalam kita Shohihain: “Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.

Namun untuk mendapatkan ampunan dari Allah ada syarat yang harus dipenuhi seseorang yang berpuasa. Ibnu Hajar berkata dalam menjelaskan hadis ini: “Pernyataan Beliau iimaanan (karena iman), yakni membenarkan janji Allah yang bakal memberi pahala kepadanya. Sedangkan ihtisaaban (mencari pahala), puasa yang ia kerjakan bukan untuk tujuan yang lain seperti riya’ dan sebagainya”. Puasa seperti inilah yang mendatangkan ampunan atas dosa-dosa orang-orang beriman yang telah lalu.

Hadis ini menunjukkan kepada makna yang agung. Yaitu setiap muslim harus berpuasa karena keimanan, keikhlasan, mencari pahala dan mengagungkan syiar-syiar Allah , bukan karena riya’, sum’ah, atau taklid. Oleh karena itulah, kita mendapati orang yang berpuasa karena keimanan dan mencari pahala sebagai orang yang ridho, jiwanya tenteram, lapang dada, bergembira dengan puasanya, bersyukur kepada Rabb-nya yang telah melapangkan umurnya sehingga bisa kembali berjumpa dengan bulan ramadhan kembali. Kita juga tidak melihat kekacauan dalam jiwa mereka, tidak juga keburukan dalam akhlaknya, dan tidak pula kesempitan dalam dadanya. Bahkan kita melihat mereka sebagai orang yang paling lapang dadanya, paling kuat jiwanya dan paling baik akhlaknya.

  1. PUASA ADALAH PERISAI

Puasa yang dilakukan secara baik dan benar akan menjadi perisai bagi pelakunya. Rasulullah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam kitab shohihain: “Puasa adalah perisai”. Sa’id bin Manshur menambahkan dari Abu Az Zinad: “Puasa adalah perisai seperti perisai perang salah seorang kalian”. Menurut riwayat Ahmad dari Abu Hurairah : “Perisai dan benteng yang melindungi dari api neraka”.

Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari mengenai penjelasan hadis ini: “Junnah dengan jim di-dhammah, artinya adalah pelindung dan penutup”. Dari riwayat-riwayat tersebut jelaslah, puasa adalah pelindung dari api neraka. Inilah yang dipegang oleh Ibnu Abdil Bar . Adapun pengarang an Nihayah mengatakan, “Makna puasa sebagai junnah yang artinya penutup, yakni sesuai dengan yang disyariatkannya”. Oleh karena itu, sepatutnya orang yang berpuasa melindungi dirinya dari segala yang merusak puasanya dan mengurangi pahalanya. Hal ini sebagaimana disyariatkan dalam sabda Beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah : “Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata keji, berteriak-teriak dan berbuat bodoh”. (Muttafaq ‘alaih)

Iyadh berkata dalam kitab al Ikmal, “Maknanya adalah penghalang dari dosa-dosa, dari neraka atau dari semua itu”. Dan terakhir itulah yang dikuatkan oleh Imam Nawawi. Adapun Ibnul Arabi berkata: “Puasa hanyalah disebut sebagai perisai karena menahan diri dari syahwat, sedangkan neraka dilingkupi dengan syahwat. Artinya, jika ia menahan dirinya dari syahwat di dunia maka itu menjadi pelindung baginya dari api neraka di akhirat kelak”. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap muslim berpuasa dengan sungguh-sungguh, sehingga puasanya menjadi perisai baginya.

  1. LAILATUL QADAR

Lailatul qadar adalah malam yang banyak sekali kebaikannya, mulia nilainya, keutamaannya dan bermacam-macam keberkahannya. Diantara keberkahannya adalah :

  1. Lailatul qadar lebih utama daripada seribu bulan sebagaimana firman Allah : “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (al Qadr: 3). Tentang ayat ini, Ibnu Abu Hatim sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Ali bin ‘Urwah: “Rasulullah suatu hari pernah menyebutkan 4 orang dari kalangan Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama 80 tahun dan tidak pernah melakukan kemaksiatan sedikitpun. Beliau menyebut nama Ayyub, Zakaria, Hizqiil bin al ‘Ajuz, dan Yusya’ bin Nun. Maka para sahabat Rasulullah takjub perihal ibadah mereka. Maka Jibril mendatangi Beliau dan berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu takjub terhadap ibadah mereka selama 80 tahun dan tidak pernah melakukan kemaksiatan sekalipun? Allah telah menurunkan yang lebih baik dari itu”. Maka Jibril membacakan kepada Nabi Muhammad …(surat al Qadr)…. Jibril berkata: “Ini lebih utama dari apa-apa yang engkau dan umatmu takjub”. Maka Rasulullah dan orang-orang yang hadir bersamanya senang akan hal ini”.

  2. Al Quran diturunkan pada malam tersebut. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkan al Quran pada malam keberkahan. Sesungguhnya Kami benar-benar memberi peringatan” (ad Dukhan: 3).

  3. Orang yang melakukan ibadah pada malam tersebut karena iman dan mencari pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, sebagaimana disebutkan dalam Shohihain dari hadis Abu Hurairah .

Inilah sebagian keberkahan malam tersebut yang merupakan limpahan keberkahan yang Allah khususkan untuk umat ini. Karena umat ini adalah umat yang diberkahi, kitab mereka adalah kitab yang diberkahi, dan Nabi mereka adalah Nabi yang diberkahi. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika kaum muslimin berlomba-lomba mendapatkan keberkahan malam ini, malam lailatul qadar.

  1. PAHALA YANG BERLIMPAH

Hal ini hanya didapatkan dengan melakukan banyak ketaatan. Diantara ketaatan yang harus diperbanyak orang beriman selama bulan suci ramadhan antara lain :

  1. Banyak Berbuat Kebaikan Dan Membaca al Quran

Mengenai masalah ini, Abdullah bin Abbas pernah menceritakan perihal ibadah Rasulullah di bulan ramadhan. Ia berkata: “Nabi adalah manusia terbaik dalam melakukan kebaikan, Beliau lebih baik lagi di bulan ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril senantiasa menemuinya setiap malam di bulan ramadhan hingga keluar bulan ramadhan. Beliau membacakan al Quran kepadanya . Maka jika Jibril menemuinya, Beliau menjadi manusia terbaik dalam melakukan kebaikan melebihi kebaikan angin yang bertiup” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini memberikan pelajaran kepada orang-orang yang beriman untuk banyak melakukan amal sholeh selama bulan ramadhan, dan itu semua dilakukan dengan lebih baik jika dibandingkan dengan yang dikerjakan di luar bulan ramadhan. Lebih khusus adalah membaca al Quran.

  1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit dalam kitab Shohihain: “Manusia senantiasa mendapatkan kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. Dalam kitab Sunan at Tirmidzi dari Abu Hurairah , Rasulullah bersabda: “Allah Berfirman: hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah orang yang menyegerakan berbuka” (At Tirmidzi). Mengapa hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang menyegerakan berbuka? Penyebabnya mungkin karena Allah Maha Pemurah dan mencintai apabila hamba-hamba-Nya bersegera menuju apa yang dihalalkan kepada mereka sejak tenggelamnya matahari. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menyegerakan berbuka agar banyak mendapatkan kebaikan dan pahala.

  1. Mengakhirkan Sahur

Nabi bersabda dalam hadis muttafaq ‘alaih: “Makan sahurlah kalian, sebab dalam sahur ada keberkahan”. Hadis ini berisi perintah untuk makan sahur, yaitu makan dan minum pada waktu menjelang fajar, untuk menyiapkan diri berpuasa. Disebut juga hikmahnya, yaitu mendapatkan keberkahan. Keberkahan berarti turunnya kebaikan ilahi pada sesuatu dan kebaikan tetap melekat padanya. Keberkahan juga berarti bertambahnya kebaikan dan pahala serta segala yang dibutuhkan oleh hamba berupa kemanfaatan dunia dan akhirat. Namun kebaikan sahur juga terdapat pada mengakhirkan pelaksanaannya. Nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d as Sa’idi: “Manusia senantiasa akan mendapatkan kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur” (Bukhori Muslim). Jika kita mengakhirkan sahur maka kita mengikuti sunnah Nabi dan mendapat pahala, sebaliknya jika kita menyegerakan sahur maka kita tidak mengikuti sunnah Nabi .

  1. Sedekah

Keutamaan sedekah pada bulan ramadhan adalah berdasarkan dalil-dali berikut ini: “Orang yang memberi makanan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi sedikitpun” (Ahmad dan Tirmidzi). Atau dalam riwayat yang lain disebutkan “Orang yang memberi makanan dan minuman untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dari hartanya yang halal, maka malaikat akan memanjatkan shalawat baginya selama beberapa saat pada bulan ramadhan dan Malaikat Jibril akan memanjatkan shalawat baginya pada malam Qadar (lailatul qadar)” (Thabrani dalam Al Mu’jam al Kabir dan Abu Asy Syaikh).

  1. I’tikaf

yaitu menetap di masjid untuk melakukan ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah . Rasulullah selalu melakukan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan sampai Allah memanggilnya sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih Muslim 1171.

  1. Umrah

yaitu melakukan ziarah ke baitullah Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf dan sa’i pada bulan ramadhan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah : Umrah pada bulan ramadhan sama dengan haji bersamaku” (Muttafaq ‘alaih).

Keberkahan bulan ramadhan tidak sebatas ampunan, puasa sebagai perisai bagi orang-orang yang berpuasa, lailatul qadar dan berlimpahnya pahala yang disediakan bagi orang yang berpuasa, namun masih banyak keberkahan yang harus dikejar orang-orang yang beriman. Diantaranya adalah bau mulut orang yang berpuasa lebih dicintai Allah , kebahagiaan ketika berbuka dan bertemu dengan Rabb alam semesta, masuk pintu salah satu pintu surga yang bernama rayyaan, dll. Intinya adalah setiap orang beriman akan berlomba-lomba untuk mendapatkan itu semua, karena itu semua lebih baik jika dibandingkan dengan dunia beserta isinya. (AZ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *