Halaqoh ke-2

Ustadz abu Hamzah

Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag

(Ketua Lembaga Bina Masyarakat Malang)

Islam artinya adalah:

الاستسلامُ للهِ بالتوحيدِ، والانقيادِ له بالطاعةِ، والبراءة مِنَ الشِّركِ وأهلِهِ؛ وهو ثلاثُ مراتبَ: الإسلامُ، والإيمانُ، والإحسانُ، وكلُّ مرتبةٍ لها أركانٌ.
والدين، ما شرعه الله تعالى من الاحكام على لسان نبيه عليه الصلاة والسلام، سمي دينا لانا ندين له، أي ننقاد.(إعانة الطالبين)

Berserah diri kepada Allah dengan bertauhid kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Islam terdiri dari tiga tingkatan, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Masing-masing tingkatan memiliki rukun-rukun.

Tingkatan Pertama: Islam

Rukun Islam ada lima, yaitu: bersyahadat laa ilaha illallah muhammad rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, menjalankan shoum Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah.

Dalil syahadat adalah firman Allah ta’ala:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Dia, Yang menegakkan keadilan . Para malaikat dan orang-orang yang memiliki ilmu (juga mengatakan yang demikian itu). Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Yang maha Perkas lagi Bijaksana.”(QS. Ali Imran: 18)

Makna kalimat laa ilaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah selain Allah.

 (قوله: وأشهد إلخ) أي أعترف بلساني وأذعن بقلبي أن لا معبود بحق موجود إلا الله.(إعانة الطالبين)

ويتعين لفظ أشهد، فلا يقوم غيره مقامه لان الشارع تعبدنا به.

قول البجيرمي أي أعلم وأذعن فلا يكفي العلم من غير اذعان وهو تسليم القلب حقيقة ما علمه اه قوله: (أي لا معبود بحق) أي في الوجود نهاية ومغني قول المتن (إلا الله) أي الواجب الوجود (حواشي شرواني)

 Kalimat laa ilaha artinya meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Kalimat illallah artinya menetapkan peribadatan hanya untuk Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya sebagaimana juga tidak ada sekutu bagi Allah dalam kekuasaan-Nya.

Tafsir kalimat laa ilaha illallah diperjelasa dengan firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya,’Sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kalian sembah.(Aku hanya menyembah) Dzat yang telah menciptakanku. Sesungguhnya Dia akan memberikan petunjuk kepada-Ku. Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya. Mudah-mudahan mereka kembali kepada kalimat tauhid tersebut.'”(QS.Az Zukhruf: 26-28)
Allah ta’ala berfirman:

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Dalil tentang syahadat muhammad rasulullah adalah firman Allah ta’ala:
“Sungguh telah datang seorang rasul kepada kalian dari kaum kalian sendiri. Dia merasakan berat penderitaan kalian, sangat menginginkan kalian (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(QS. At Taubah: 128)

Makna syahadat muhammad rasulullah adalah menaati perintahnya, membenarkan kabar yang dibawanya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegahnya dan tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan tuntunan beliau.

Dalil tentang shalat, zakat dan tafsir tauhid adalah firman Allah:
“Tidaklah mereka diperintahkan kepada Allah dengan menyerahkan ibadah hanya kepada-Nya dengan lurus, menegakkan shalat dan membayarkan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
Dalil tentang puasa adalah firman Allah ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk mengerjakan shoum sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Dalil tentang haji adalah firman Allah ta’ala:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

 

Tingkatan kedua: Iman

Iman memiliki tujuh puluhan cabang. Cabang iman yang tertinggi adalah mengucapkan laa ilaha illallah. Sedangkan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dalam iman.

Rukun iman ada enam: beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada takdir baik dan buruk.
Dalil tentang keenam rukun di atas adalah firman Allah ta’ala:

لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ

Bukanlah menghadapkan wajah kalian kea rah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al Baqarah: 177)

Dalil tentang beriman kepada takdir yang baik dan buruk adalah firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (QS. Al Qamar: 49)

 

Tingkatan ketiga: Ihsan

Ihsan merupakan rukun tersendiri. Makna ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau  melihat-Nya; dan kalau engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ


“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.”(QS. An Nahl:128)

Allah ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“(Allah) yang melihat kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.”(QS. Asy Syu’ara: 217-219)
Allah ta’ala berfirman:

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

“Kalian tidak berada dalam suatu keadaan , tidak membaca suatu ayat dari Al Qur-an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya.” (QS. Yunus: 61)

Dalil  dari hadits Nabi adalah hadits Jibril yang terkenal. Hadits itu diriwayatkan dari Umar bin Khotthob radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan:
Pada suatu hari, tatkala kami duduk bersama Rasulullah saw datanglah seorang lelaki yang berpakaian sangat putih dan memiliki rambut yang sangat hitam. Bekas  perjalanan jauh tidak tampak pada orang tersebut, namun tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Dia lantas duduk di depan Nabi saw dan menyandarkan lututnya kepada lutut Nabi serta meletakkan telapak tangannya di atas paha Nabi.
Lelaki itu mengatakan, “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam.” Rasulullah saw menjawab, “Islam itu adalah bersaksi Laa ilaha illallah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, menjalankan shoum Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanan ke sana.” Lelaki itu mengatakan, “Engkau benar.”
Kami terheran-heran dengan lelaki itu; dia bertanya namun dia juga yang membenarkan jawabannya. Lelaki itu kemudian berkata, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman.” Rasulullah menjawab, “Beriman kepda Allah, malaikat, kitb-kitab, para rasul, hari akhir dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.”
Lelaki itu berkata, “Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan.” Nabi menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan kalau engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesunguhnya Allah meilhatmu.”
Lelaki itu berkata, “Kabarkanlah kepadaku tentang hari kiamat.” Nabi menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.” Lelaki itu bertanya lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tanda hari kiamat.” Nabi menjawab, “Bila seorang budak wanita melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang dan miskin yang menggembalakan kambing saling berlomba meninggikan bangunan.”
Umar berkata, “Lelaki itu kemudian pergi dan aku pun diam sejenak. Nabi lantas berkata kepadaku,”Wahai Umar apakah engkau tahu siapa orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi berkata, “Lelaki itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian.”(HR. Muslim)

2 Replies to “Mengenal Agama Islam dengan Dalil-dalilnya”

  1. Afwan, itu tulisan arabnya kenapa di hp ana tidak dapat terbaca ya? Hal yg keluar hanya simbol2 yg tidak jelas maknanya

    1. iya, mohon maaf.. karena ada gangguan beberapa hari yang lalu, setelah maintenance tulisan-tulisan arab jd rusak.
      al-afwu minkum, atas ketidaknyamanan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *