Isro’ Mi’roj: Pondasi Sholat, Tauhid, dan Tanggung Jawab Membangun Generasi

Oleh: Dr. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.

Disarikan oleh: Ustadz Dr. Abu Sholih Harno Purwanto, S.P., M.Pi.

Masjid Baiturrahman, Ndona – NTT
Sabtu, 17 Januari 2026


Isra’ Mi’raj: Bukti Cinta Allah dan Rasul-Nya kepada Umat Ini

Peristiwa agung Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan luar biasa Rasulullah , tetapi juga sarat dengan pelajaran besar bagi umat Islam, khususnya tentang shalat, tauhid, dan akhlak.

Di antara hikmah terbesar dari Isra’ Mi’raj adalah:

1. Allah Maha Penyayang kepada Umat Islam

Pada awalnya, kewajiban shalat ditetapkan 50 kali sehari semalam. Namun, dengan kasih sayang-Nya, Allah meringankan kewajiban tersebut menjadi 5 waktu, dengan pahala tetap seperti 50.

Ini menunjukkan bahwa syariat Islam bukan untuk memberatkan, tetapi untuk menyelamatkan manusia.

2. Cinta Rasulullah kepada Umatnya

Nabi Muhammad berulang kali kembali menghadap Allah untuk memohon keringanan bagi umatnya. Semua itu dilakukan karena beliau tidak ingin umatnya terbebani.

Sifat Nabi adalah:

“Berat baginya apa yang memberatkan umatnya.”

3. Shalat: Ibadah Paling Agung

Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara Malaikat Jibril.

Rasulullah menegaskan:

  • Amalan pertama yang dihisab di hari kiamat adalah shalat
  • Meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kekufuran yang nyata

Maka, mencintai shalat adalah bukti keimanan.


Manusia dalam Tiga Golongan

  1. Kafir: Tidak shalat
  2. Munafik: Shalat tetapi malas dan tidak konsisten
  3. Mukmin: Menjaga shalat dengan sungguh-sungguh

Setelah syahadat, shalat adalah bukti kejujuran iman.


Oleh-Oleh Isra’ Mi’raj (Riwayat Ibnu Mas’ud)

  1. Kewajiban shalat lima waktu
  2. Penutup Surah Al-Baqarah
  3. Jaminan bahwa Allah tidak akan mengazab umat Nabi Muhammad yang tidak berbuat syirik

Islam adalah Akhlak Mulia

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Islam bukan hanya ibadah ritual, tetapi agama peradaban.

  • Tauhid: hubungan dengan Allah
  • Adab dan akhlak: hubungan dengan sesama makhluk

Tantangan Zaman & Peluang Pahala

Di era media sosial, tantangan mendidik anak semakin berat. Namun:

Semakin besar tantangan, semakin besar pahala.

Kesulitan yang dihadapi dengan kesabaran dan usaha akan diganjar pahala berlipat ganda.


Peran Sentral Ibu dalam Membangun Peradaban

Ibu adalah:

  • Sumber kasih sayang keluarga
  • Penentu masa depan generasi dan bangsa

Sejak lahir, anak paling banyak bersama ibu. Karena itu, tangan masa depan umat berada pada para ibu.

Islam memuliakan ibu dengan kedudukan yang sangat tinggi. Jika amanah ini dijalankan dengan benar, maka akan lahir generasi shalih dan beradab.


Setiap Kita Adalah Pemimpin

Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban:

  • Pemimpin negara atas rakyatnya
  • Ayah atas keluarganya
  • Ibu atas rumah tangga dan anak-anaknya

Maka mendidik anak bukan tugas sampingan, tetapi amanah besar dari Allah.


Tugas Utama Ibu yang Sebenarnya

Bukan sekadar:

  • Memasak
  • Menyusui
  • Mengobati saat sakit

Namun yang jauh lebih penting adalah:

  1. Merawat dan menjaga fitrah
  2. Mendidik, membimbing, melatih, dan merancang masa depan anak
  3. Memilih lingkungan dan pendidikan terbaik bagi anak

Anak Lahir di Atas Fitrah

Rasulullah bersabda:

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Orang tua adalah penentu arah aqidah dan karakter anak.


Menyiapkan Generasi Bertauhid Sejak Dini

Nabi mendidik Ibnu Abbas sejak usia sangat muda dengan kalimat tauhid, ketergantungan kepada Allah, dan keyakinan terhadap takdir.

Ini bukti bahwa:

Aqidah harus ditanamkan sejak kecil, bukan menunggu dewasa.


Pendidikan Shalat pada Anak

  • Sebelum 7 tahun: dikenalkan dan dibiasakan shalat
  • Usia 7 tahun: diperintahkan shalat
  • Usia 10 tahun: diberi disiplin jika meninggalkan shalat, serta dipisah tempat tidur

Membangun Generasi Beradab

Nabi mengajarkan adab sejak hal kecil, seperti adab makan kepada Umar bin Abi Salamah:

  • Membaca basmalah
  • Makan dengan tangan kanan
  • Makan dari yang terdekat

Inilah pendidikan adab yang membentuk peradaban.


Penutup

Membangun generasi bertauhid dan beradab bukan pekerjaan singkat, tetapi proyek peradaban. Ia dimulai dari:

  • Shalat yang benar
  • Aqidah yang lurus
  • Akhlak yang mulia
  • Peran ayah dan ibu yang sadar amanah

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang menyiapkan generasi yang dicintai-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *