Disampaikan oleh D r. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag. Yang disarikan Ustadz Dr. Abu Sholih Harno Purwanto S. P, M. Pi di Masjid An Nur Center, Ende.
Sabtu, 17 jan 2026
Jika kita selalu mengingat nikmat Allah, niscaya hidup akan terasa lebih tenang dan nikmat.
Ketika ditanya:
Apakah kita merasakan nikmat? Iya.
Apakah kita merasakan hal yang tidak enak? Iya.
Namun jika dibandingkan, nikmat Allah jauh lebih banyak daripada kesulitan yang kita rasakan.
Ini menjadi sebuah motivasi penting dalam hidup.
Hidup yang dibangun dengan tertata, rapi, kuat, dan indah disebut sebagai hidup yang berperadaban. Sebaliknya, kehidupan yang tidak mengenal pendidikan, nilai, dan adab—seperti kehidupan suku pedalaman yang terisolasi dari ilmu dan pembinaan—belum dapat disebut sebagai peradaban.
Peradaban Tertinggi adalah Peradaban Islam
Peradaban paling tinggi yang pernah ada adalah peradaban Islam, yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum datangnya Islam, manusia berada dalam masa jahiliyah, di mana hukum yang berlaku adalah hukum rimba: yang kuat memakan yang lemah.
Cita-cita Pancasila tentang “kemanusiaan yang adil dan beradab” sejatinya telah diwujudkan secara sempurna oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Misi utama Kanjeng Nabi ﷺ adalah sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Karena itu, akhlak manusia yang paling sempurna adalah akhlak yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukan hanya mengajarkan, tetapi berhasil membentuk generasi terbaik sepanjang sejarah.
Islam Menyebar dengan Hidayah, Bukan Penjajahan
Penyebaran Islam tidak dilakukan dengan penjajahan, melainkan dengan futūḥāt (pembukaan). Manusia dibukakan peradabannya dengan hidayah Islam, bukan dengan paksaan.
Lalu dari mana Rasulullah ﷺ mendapatkan kekuatan untuk mengubah dunia?
Jawabannya: dari Allah Ta‘ala.
Tauhid: Sumber Kekuatan Umat
Bagaimana cara mendapatkan kekuatan dari Allah?
Dengan tauhid, dengan mengesakan dan mengagungkan Allah Ta‘ala.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ucapkanlah laa ilaha illallah, niscaya kalian akan menguasai dunia (Arab dan non-Arab).”
Nabi ﷺ sangat yakin bahwa siapa pun yang bertauhid dengan benar akan diberi kekuatan dan kemenangan.
Lalu bagaimana dengan kita sebagai umat beliau?
Apakah kita memiliki kesempatan yang sama?
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan generasi awalnya baik.”
Yaitu tauhid laa ilaha illallah: menafikan seluruh sesembahan yang batil dan menetapkan bahwa satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah, serta meyakini bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya.
Siapa pun yang berpegang teguh pada dua kalimat syahadat, Al-Qur’an, dan Sunnah, pasti akan ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena itu mereka berusaha menuduh, mencekal, membonsai, dan mengubah kurikulum.
Namun siapa yang berpegang pada tauhid memiliki potensi yang sama dengan generasi awal Islam. Mereka pasti anti penjajahan, anti kerusakan, dan anti kezaliman—selaras dengan amanat kemerdekaan Indonesia.
Faktanya, berdirinya Pondok An-Nur, Yayasan Sabilul Mukminin, YBM Malang, dan lembaga-lembaga dakwah lainnya tidak lepas dari kalimat tauhid laa ilaha illallah.
Islam Membangun Manusia Beradab
Setiap muslim yang mau kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah pasti memiliki semangat membela agama sebagaimana generasi awal umat Islam. Dari sinilah akan lahir perubahan besar, membentuk manusia yang beradab.
Dalam urusan adab, Islam memiliki role model nyata, yaitu Rasulullah ﷺ dan para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Tuduhan kepada orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah bukanlah hal baru. Nabi ﷺ sendiri pernah dituduh sebagai pendusta, orang gila, tukang sihir, penyair, bahkan pemecah belah keluarga dan kabilah. Semua tuduhan itu tidak berdasar dan akhirnya hilang dengan sendirinya.
Jika ingin membentuk manusia yang benar-benar beradab secara sempurna, tidak ada jalan selain Islam, karena Islam bukan sekadar teori, tetapi telah terbukti berhasil dalam sejarah.
Hakikat Adab
Peradaban dibangun dengan manusianya, bukan semata-mata bangunannya.
Adab, menurut Dr. KH. Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag., adalah:
الجمال والرقي في القول والفعل شرعا وعرفا
Keindahan dan keluhuran dalam ucapan dan perbuatan menurut syariat dan kepatutan masyarakat.
Jika syariat telah mengatur, maka syariat menjadi standar. Jika belum, maka kepatutan masyarakat dijadikan ukuran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak menghinanya, tidak mendustakannya, dan tidak merendahkannya…” (HR. Muslim)
Dan beliau juga bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang tua.” (HR. At-Tirmidzi)
Kaedah Penting dalam Dakwah
-
Memerintahkan yang ma‘ruf wajib dengan cara yang ma‘ruf.
-
Mencegah kemungkaran tidak boleh dengan cara yang munkar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut kecuali akan memperburuknya.” (HR. Abu Dawud)




