PERJALANAN KE SURGA

JOURNEY TO HEREAFTER (AKHIRAT)

Kehidupan dunia pada hakikatnya adalah perjalanan menuju kehidupan akhir, dan Anak Adam adalah ibarat pengelana atau pengembara dalam kehidupan dunia ini. Maka seorang pengembara akan kembali ke asalnya, tidak akan lama menetap dan tinggal di dunia. Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda dalam hadis Ibnu Mas’ud:

مالي وللدنيا إنما مثلي ومثلُ الدُّنيا كراكبٍ استظلَّ تحت شجرةٍ ثم راحَ وتركها

Apa urusanku denga dunia, sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon, kemudian istirahat, dan meninggalkannya (Tirmidzi 2377, Ibnu Majah 4109, Ahmad 3709, Ibnu Hibban 1/276)

Perjalanan menuju kehidupan akhir adalah perjalanan wajib, bukan sunnah atau mubah, apalagi makruh. Setiap orang tidak bisa memilih, dan semua akan menuju ke sana. Perjalanan terpanjang, sehingga butuh banyak perbekalan.

  • Alam barzakh tidak akan lama (surat At Takaatsur 2)
  • Antara tiupan sangkakala 40 (hadis Bukhari Muslim dari Abu Hurairah)
  • Alam mahsyar, kadar sehari pada hari kiamat seperti 50 ribu tahun dibandingkan dengan hari di dunia (Al Muzani ketika berdalil dengan surat Al Ma’aarij 4), ada yang berpendapat seribu tahun hari di dunia (Ibnu Utsaimin ketika berdalil dengan surat Al Hajj 47)
  • Hisab amal perbuatan
  • Timbangan amal perbuatan
  • Melewati neraka (Maryam 71)
  • Surga dan neraka (kekal di dalamnya, semoga kita dan keluarga termasuk penghuni surga, aamiin)

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan (Maryam 71)

POS TERAKHIR, TUJUAN TERAKHIR

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ ٱلْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ فَرِيقٌ فِى ٱلْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِى ٱلسَّعِيرِ

Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam (Asy Syura 7)

TUGAS MANUSIA DICIPTAKAN ADALAH BERIBADAH

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah ta’aala. Dimana Allah ta’aala berfirman: “tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Adz Dzariyat: 56). (MBI: born to pray)

Allah ta’aala ciptakan dunia dan seisinya sebagai sarana untuk mencapai tujuan penciptaannya. Maka tidak semestinya seorang hamba yang diberi kesempatan hidup di dunia ini untuk kemudian terlena dengan dunia dan semakin jauh dari peribadatan yang menjadi tujuan penciptaannya di atas muka bumi.

JANGAN TERLENA DENGAN DUNIA

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (al Kahfi 7)

Ada yang menjadikan dunia kesibukannya hingga melupakan tujuan penciptaannya, dan ada yang memanfaatkan dunia untuk semakin dekat (taqarrub) kepada Allah ta’aala.

DUNIA TIDAK TERLARANG UNTUK DINIKMATI selama tidak lupa tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah ta’aala. Oleh karena itu, Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama pernah berdoa:

ولَا تَجْعَلْ الدنيا أكبرَ هَمِّنَا ، ولَا مَبْلَغَ عِلْمِنا

Dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai impian terbesar kami, serta pengetahuan kami yang tertinggi (Tirmidzi 3502, dan dihasankan oleh Al Albany)

MEMANFAATKAN KESEMPATAN HIDUP DI DUNIA UNTUK IBADAH

Oleh karena itu, Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama dalam banyak kesempatan mengingatkan kita umatnya untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh Allah ta’aala untuk menjadi yang terbaik di sisi Allah ta’aala. Nabi Muhammad shallaahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قبلَ خَمْسٍ : شَبابَكَ قبلَ هَرَمِكَ ، وصِحَّتَكَ قبلَ سَقَمِكَ ، وغِناكَ قبلَ فَقْرِكَ ، وفَرَاغَكَ قبلَ شُغْلِكَ ، وحَياتَكَ قبلَ مَوْتِكَ .

Manfaatkan 5 hal sebelum datangnya 5 hal: masa mudamu sebelum masa tuamua, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa lapangmu sebelum masa sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu (Ibnu Abi ad Dunya 111, al Hakim 7846, al Baihaqi 10248, hadis shahih)

Kita sadar bahwa kehidupan kita tidak sama dan tidak senantiasa stabil; tidak senantiasa memiliki harta berlebih, tidak senantiasa sehat, tidak senantiasa memiliki waktu luang, dan bahkan tidak selamaya hidup. Oleh karena itu, setiap ada kesempatan beramal, maka jangan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ingatlah bahwa dunia adalah sarana untuk kita menanam benih kebaikan sebanyak-banyaknya, untuk kemudian kita panen setelah kematian kita.

PENTINGNYA MENATA NIAT

Yang pertama harus dilakukan adalah: MENATA NIAT

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا في سَبِيل الله، إيمانًا بالله، وتَصْدِيقًا بِوَعْدِه، فإن شِبَعَهُ وريَّه ورَوْثَهُ وبَوْلَه في مِيْزَانه يوم القيامة

Dari Abu Hurairah –raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Siapa menyiapkan seekor kuda di jalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka makanan yang membuatnya kenyang, minum yang membuatnya puas, kotorannya dan kencingnya menjadi timbangan amal orang tersebut pada hari kiamat.”  (Bukhari 2853, Nasai 3582)

Uraian

Orang yang mewakafkan kuda untuk jihad di jalan Allah ta’aala dan mencari keridhaan-Nya supaya para pejuang dapat berperang di atasnya demi mencari keridaan Allah ta’aala dan membenarkan janji yang telah diberikan-Nya, di mana Dia berfirman, “Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu,” maka sesungguhnya Allah memberinya pahala dari segala apa yang dimakan, diminum oleh kuda itu, dan apa yang dikeluarkannya berupa kencing atau tinja, hingga Allah meletakkan pahala itu baginya di piringan timbangan kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat. Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

الخيلُ ثلاثةٌ فرسٌ يربطُه الرجلُ في سبيلِ اللهِ تعالى فثَمنُه أجرٌ وركوبُه أجرٌ وعاريتُه أجرٌ وعلَفُه أجرٌ وفرسٌ يُغالقُ عليها الرجلُ ويراهنُ فثمنُه وِزرٌ وعلفُه وزرٌ وركوبُه وزرٌ وفرسٌ للبطنةِ فعسى أن يكون سَدادًا من الفقرِ إن شاء اللهُ تعالى

Kuda terbagi menjadi tiga jenis: kuda yang ditambatkan seseorang demi Allah—di mana biaya pembelian, menungganginya, meminjamkannya, serta pakanannya semuanya mendatangkan pahala baginya; kuda yang dipelihara seseorang untuk tujuan perjudian dan taruhan—di mana biaya pembelian, pakan, dan aktivitas menungganginya semuanya mendatangkan dosa; serta kuda yang dipelihara untuk keperluan pribadi—yang dapat menjadi pelindung dari kemiskinan, jika Allah Yang Maha Agung menghendaki (Ibnu Abi Syaibah 33493, Ahmad 16696, Abu Nuaim 7153)

Dalam hadis panjang dari Abu Hurairah –raḍiyallāhu ‘anhu– disebutkan: “Kuda itu ada tiga macam: Kuda yang menjadi dosa bagi seseorang, menjadi penutup bagi seseorang dan menjadi ladang pahala bagi seseorang… Selanjutnya beliau bersabda, “Adapun kuda yang menjadi pahala, yaitu seseorang mengikatnya di jalan Allah untuk umat Islam, yang digembalakan di tempat penggembalaan atau kebun. Tidaklah kuda itu makan sedikit saja dari tempat penggembalaan atau kebun itu, melainkan dicatat untuk orang tersebut kebaikan sebanyak yang dimakan kudanya. Dicatat juga kebaikan untuknya sebanyak kotoran dan kencingnya. Tidak pula kuda itu menempuh dengan kakinya lalu berlari ke satu atau dua bukit, melainkan Allah catat untuk orang tersebut kebaikan sebanyak jejak dan kotorannya. Tidak juga pemiliknya melewati sebuah sungai dengan kudanya itu, lalu kuda tersebut minum dari sungai itu dan ia pun tidak ingin memberinya minum, melainkan Allah catat untuknya kebaikan sebanyak yang diminum kudanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Ini semua menunjukkan jika dalam urusan tunggangan/ kendaran saja, seseorang bisa mendapatkan pahala dan terhitung ibadah, maka bagaimana dengan lainnya? Tentu juga bisa bernilai ibadah jika diiringi dengan niat mendapatkan pahala dari Allah ta’aala.

Apalagi mencari ilmu agama, yang terhitung juga dalam lingkup fii sabiilillaah. Jika kita kembalikan kepada semboyan muslim bikers, diantaranya adalah indahnya touring nikmatnya kajian, bukankah kajian yang diikuti merupakan fii sabiilillaah? Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda dalam hadis Anas bin Malik:

من خرجَ في طلبِ العلمِ فهوَ في سبيلِ اللَّهِ حتَّى يرجعَ

Siapa yang keluar mencari ilmu, maka dia di jalan Allah hingga kembali (Tirmidzi 2647, hadis hasan)

Makna hadis: siapa yang keluar dari rumah dan negerinya, dalam rangka mencari ilmu syar’i, maka dia termasuk orang yang keluar untuk jihad di jalan Allah ta’aala, hingga kembali kumpul bersama keluarganya, karena dia seperti orang yang jihad dalam rangka menghidupkan ilmu agama, melemahkan setan dan melelahkan dirinya.

Faedah hadis:

  • Bahwa mencari ilmu adalah jihad di jalan Allah ta’aala
  • Orang yang mencari ilmu mendapatkan pahala orang yang jihad di medan peperangan, karena keduanya berperan dalam menguatkan syariat Allah ta’aala, dan mencegah yang tidak bersumber dari syariat-Nya.
  • Terdapat dalil, bahwa orang yang keluar mencari ilmu, dia mendapatkan pahala

perjalanan pergi dan pulangnya, hingga kembali ke keluarganya.

BERLOMBA DAN BERSEGERA DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN

Karena kita juga sadar bahwa KESEMPATAN yang kita miliki dalam kehidupan dunia TERBATAS, maka janganlah kita terpedaya. Hendaklah kita berlomba-lomba untuk memanfaatkan kesempatan yang Allah ta’aala berikan kepada kita, dan jangan sampai kita bersantai. Allah ta’aala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran 133)

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (Al Hadid 21)

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan (al Baqarah 148)

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba (al Muthaffifin 26)

kesempatan bersaing di atas muka bumi ini dalam beramal shalih sangatlah terbatas, maka perlombaan berlaku di atas muka bumi ini. Dalam perlombaan tersebut akhirnya manusia terbagi menjadi tiga golongan. Allah ta’aala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (Fathir : 32)

Golongan pertama : orang yang berbuat dhalim, mereka masih terjerumus dalam kemaksiatan, dunia telah melalaikannya, meskipun mereka masih tetap beribadah kepada Allah ta’aala.

Golongan kedua : golongan pertengahan, mereka tidak terlalu bersemangat dalam mengejar akhirat, namun bisa menghindarkan diri dari perkara-perkara yang Allah ta’aala telah haramkan atasnya.

Golongan ketiga : golongan terbaik, mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin Allah ta’aala. Dalam ayat yang lain, Allah ta’aala berfirman : “selain itu (golongan ketiga) adalah orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah” (al Waqi’ah : 10-11). Oleh karena itu, mereka selalu terdepan dalam amal shalih selama di dunia, mereka pun menjadi yang terdepan di akhirat kelak.

ORIENTASI UTAMA

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al Qashash 77)

SABDA NABI KEPADA AMRU YANG PERLU MENJADI RENUNGAN

Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda dalam hadis yang yang diriwayatkan oleh Amru bin Al Ash, ketika beliau mengutusnya untuk memimpin pasukan:

يا عَمرُو، …،‍ نِعْمَ المالُ الصَّالحُ للمَرءِ الصَّالحِ

Wahai Amru ….. sebaik-baik harta adalah yang dimiliki orang yang shalih (Bukhari dalam Al Adab al Mufrad 299, al Hakim 2130, al Baihaqy 1248)

Artinya sebaik-baik harta adalah harta di tangan orang yang shalih, dimana harta yang ada digunakan untuk taqarrub kepada Allah ta’aala; jabatan, kedudukan, kendaraan, dan lain-lain semuanya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’aala. Maka demikianlah seharusnya seorang muslim, menjadikan hartanya untuk taat dan taqwa kepada Allah ta’aala agar berpahala, dan menjadi bekalnya untuk perjalanan menuju kehidupan akhiratnya.

Wallaahu A’lam Bish Shawaab

Malang, 28 Juni 2026

Abu Halwa Aziz Setiawan

Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *