Oleh: Ustadz Abdul Aziz Setiawan, SKM
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Dalam kitab Riyadus Shalihin, Imam An-Nawawi rahimahullah membawakan sebuah bab yang sangat penting, yaitu bab Al-Mujahadah atau bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah. Bab ini mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan menuju ridha Allah membutuhkan keseriusan, kesabaran, dan usaha yang terus-menerus.
Seorang hamba tidak akan sampai kepada derajat yang tinggi di sisi Allah kecuali dengan mujahadah, yaitu berjuang melawan hawa nafsunya dan memaksa dirinya untuk tetap berada di atas jalan kebaikan.
Allah Akan Mendekat kepada Hamba yang Mendekat kepada-Nya
Di antara hadits yang agung dalam bab ini adalah hadits qudsi yang menjelaskan betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Allah berfirman bahwa apabila seorang hamba mendekat kepada-Nya sejengkal, maka Allah akan mendekat kepadanya sehasta. Jika hamba mendekat sehasta, Allah akan mendekat sedepa. Dan apabila seorang hamba datang berjalan menuju Allah, maka Allah akan mendatanginya dengan berlari.
Hadits ini memberikan harapan besar bagi setiap muslim. Allah tidak pernah menutup pintu bagi hamba yang ingin kembali kepada-Nya. Bahkan Allah menyambut dengan rahmat dan karunia yang jauh lebih besar daripada usaha yang dilakukan oleh hamba tersebut.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa terlambat untuk memperbaiki diri. Selama nafas masih berhembus, pintu taubat dan pintu kebaikan masih terbuka.
Dua Nikmat yang Banyak Disia-siakan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini sangat singkat, tetapi kandungannya sangat dalam. Rasulullah ﷺ menggunakan kata maghbun atau tertipu. Artinya, seseorang sebenarnya memiliki keuntungan yang besar, namun karena kelalaiannya ia justru mengalami kerugian.
Nikmat Kesehatan
Ketika badan sehat, seseorang mampu berdiri untuk shalat, mampu berpuasa, mampu menghadiri majelis ilmu, mampu membaca Al-Qur’an, dan mampu melakukan berbagai amal kebaikan lainnya.
Namun sering kali kesehatan tidak dimanfaatkan untuk mendekat kepada Allah. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya nikmat sehat ketika dirinya jatuh sakit dan tidak lagi mampu melakukan berbagai ibadah sebagaimana sebelumnya.
Karena itu, selama Allah masih memberikan kesehatan, hendaknya kita menggunakannya untuk memperbanyak amal saleh.
Nikmat Waktu Luang
Nikmat kedua yang sering membuat manusia tertipu adalah waktu luang.
Banyak orang memiliki kesempatan, memiliki waktu, dan memiliki kemampuan. Akan tetapi ia terjangkit penyakit yang sangat berbahaya, yaitu taswif atau suka menunda-nunda.
“Nanti saya akan bertaubat.”
“Nanti saya akan belajar agama.”
“Nanti saya akan memperbaiki shalat.”
“Nanti saya akan mulai menghafal Al-Qur’an.”
Padahal kita tidak pernah mengetahui apakah kata “nanti” itu benar-benar akan datang dalam kehidupan kita.
Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Oleh sebab itu, seorang muslim yang cerdas adalah mereka yang memanfaatkan setiap kesempatan untuk beramal sebelum kesempatan itu hilang.
Penyesalan Saat Kematian Datang
Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan keadaan manusia yang lalai dalam Surah Al-Mu’minun ayat 99–100. Ketika kematian datang, mereka memohon kepada Allah agar dikembalikan ke dunia untuk melakukan amal saleh yang dahulu mereka tinggalkan.
Namun penyesalan tersebut sudah tidak berguna.
Demikian pula Allah mengingatkan dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10–11 agar manusia segera berinfak dan beramal sebelum kematian menjemputnya. Sebab apabila ajal telah datang, Allah tidak akan menundanya walaupun sesaat.
Ayat-ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kesempatan beramal hanya ada selama kita hidup di dunia. Ketika kematian datang, seluruh kesempatan itu berakhir.
Nikmat-Nikmat Besar yang Wajib Disyukuri
Selain kesehatan dan waktu luang, ada banyak nikmat lain yang sering terlupakan.
Nikmat Islam
Nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah nikmat Islam. Dengan Islam, seseorang mengenal Tuhannya, mengetahui tujuan hidupnya, dan memiliki jalan menuju surga.
Seluruh dunia dan isinya tidak akan mampu menyamai nilai nikmat Islam.
Nikmat Akal
Kita sering lupa mensyukuri akal yang sehat. Padahal seseorang akan memahami besarnya nikmat ini ketika melihat orang-orang yang kehilangan kesadaran, mengalami gangguan jiwa, atau tidak mampu menggunakan akalnya dengan baik.
Akal adalah sarana untuk memahami ilmu dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nikmat Keamanan
Betapa banyak negeri yang dilanda ketakutan, peperangan, dan kekacauan. Sebaliknya, ketika seseorang dapat hidup dengan tenang, beribadah dengan aman, dan menjalankan aktivitas tanpa rasa takut, maka itu adalah nikmat yang sangat besar.
Termasuk di dalamnya adalah keamanan dari berbagai wabah dan penyakit yang dapat mengancam kehidupan manusia.
Nikmat Rezeki yang Cukup
Ketika Allah memberikan kecukupan rezeki, maka seharusnya nikmat tersebut mendorong kita untuk semakin banyak bersyukur dan semakin giat beribadah.
Jangan sampai harta yang diberikan Allah justru menjadi sebab kelalaian dan menjauhkan kita dari-Nya.
Terus Bersungguh-sungguh Sampai Akhir Hayat
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang luar biasa. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau justru semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam dengan berbagai bentuk ibadah dan mengajak keluarganya untuk melakukan hal yang sama.
Inilah hakikat mujahadah. Seorang mukmin tidak pernah berhenti memperbaiki dirinya. Ia terus belajar, terus beramal, terus berdakwah, dan terus mendekatkan diri kepada Allah sampai akhir hayatnya.
Karena sesungguhnya tujuan seorang mukmin bukanlah sekadar menyelesaikan satu ibadah, bukan pula sekadar mencapai satu target amal. Tujuan akhirnya adalah meraih ridha Allah dan masuk ke dalam surga-Nya.
Selama kaki kita belum melangkah masuk ke surga, maka selama itu pula kita harus terus bermujahadah di jalan Allah.
نسأل الله تعالى أن يجعلنا من عباده الصالحين، وأن يوفقنا لاستغلال أوقاتنا وصحتنا فيما يرضيه، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
والله أعلم بالصواب.



