Kaidah Parenting Islam: Pendidikan Adalah InteraksiAt-Tarbiyatu Tafa’ul

Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang hadir secara fisik. Mereka membutuhkan perhatian, percakapan, keteladanan, dan hubungan hati.

🌱 1. Bersihkan Lahannya Sebelum Menanam Benih

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menggambarkan hati manusia seperti tanah atau lahan pertanian.

Sebelum menanam benih kebaikan, tanah perlu dibersihkan dari rumput liar dan gulma.

Begitu pula dalam mendidik anak.

Ketika kita ingin menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an, akhlak, ilmu, dan ibadah, kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang dapat menjadi penghalangnya.

Misalnya, penggunaan gawai dan game yang berlebihan.

Bukan berarti teknologi selalu buruk, tetapi ketika sesuatu mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan anak, bisa jadi ia menjadi penghalang bagi nilai-nilai lain yang ingin kita tanamkan.

Sulit menumbuhkan dua hal yang saling bertentangan pada ruang yang sama.

🤝 2. Bangun Interaksi, Bukan Sekadar Kehadiran

Duduk bersama anak belum tentu berarti kita benar-benar berinteraksi dengannya.

Anak mungkin berada di depan kita, tetapi pikirannya jauh. Begitu pula sebaliknya, orang tua bisa berada di rumah setiap hari, namun tidak benar-benar hadir dalam kehidupan anak.

Karena itu, mari mulai dengan hal-hal sederhana:

👂 Dengarkan mereka.
Ketika anak bercerita, bertanya, atau menyampaikan perasaan, jangan selalu buru-buru memarahi atau menghakimi. Berikan ruang agar mereka merasa aman untuk berbicara.

💭 Ajarkan mereka berpikir.
Tidak semua pertanyaan anak harus langsung dijawab. Sesekali, ajukan pertanyaan balik yang bijak agar mereka belajar berpikir, berpendapat, dan berani mengungkapkan isi hati.

💬 Bicarakan hal-hal yang bermakna.
Bicarakan cita-cita, tokoh yang mereka kagumi, kehidupan, prinsip, dan nilai-nilai Islam. Jangan biarkan percakapan di rumah hanya berkisar pada nilai sekolah, tugas, dan larangan.

🤲 Libatkan mereka.
Berikan kesempatan kepada anak untuk ikut mengambil keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mereka belajar bertanggung jawab sekaligus merasa bahwa pendapat mereka dihargai.

❤️ Pada akhirnya, anak akan mengingat hubungan kita

Anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari apa yang mereka rasakan ketika bersama kita.

Mereka akan mengingat apakah rumah terasa sebagai tempat yang aman untuk bercerita.
Mereka akan mengingat apakah pertanyaan mereka didengarkan.
Mereka akan mengingat apakah kesalahan mereka menjadi kesempatan untuk belajar atau justru alasan untuk selalu dimarahi.

Karena itu, mendidik anak bukan hanya tentang apa yang ingin kita tanamkan, tetapi juga tentang bagaimana hubungan kita dengan mereka ketika menanamkannya.

🌿 Pendidikan adalah interaksi.
Semakin baik interaksi yang kita bangun, semakin besar ruang bagi nasihat, keteladanan, dan nilai-nilai kebaikan untuk tumbuh di hati anak.

📺 Tonton kajian selengkapnya:
Kajian Parenting Islam bersama Dr. KH. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *