Pengantar penerbit

 

Kami sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kami kesempatan untuk turut serta dalam melanjutkan dakwah Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dan para sahabatnya di bumi Nusantara yang sunni ini, khususnya di Provinsi Jawa Timur yang mayoritasnya adalah muslim, yaitu 97 % dari total 38 juta penduduk Jawa Timur.

Kini, kami bersyukur kepada Allah bisa menindak lanjuti pertemuan kami dengan Ketua Umum MUI Jawa Timur, Bapak KH. Abdussomad Buchori -hafizhahullah- yang didampingi sekretaris MUI, Ustadz Mochammad Yunus, pada hari Kamis, 20 September 2012, di Kantor MUI Jawa Timur. Pada kesempatan itu kami memohon izin untuk menerbitkan fatwa MUI Jawa Timur tentang kesesatan Syi’ah dan beliau menyambutnya dengan baik dan beliau memberikan file-file yang kami perlukan.

Untuk memberikan kemantapan kepada kaum muslimin tentang kesesatan syi’ah ini maka kami lengkapi buku ini dengan beberapa lampiran; Surat Edaran Kemenag RI, Fatwa MUI Pusat tahun 1984, Sepuluh Kriteria Aliran Sesat (tahun 2007), dan terakhir Peraturan Gubernur Jawa Timur no. 55 tahun 2012. Semua itu diharapkan bisa mendorong kaum muslimin untuk semakin membumikan sunnah di wiliayah tercinta ini, bahu-membahu dengan para ulama dan umara`.

Semoga Allah -Subhanahu wa ta’ala- menerima amal kita dan membalas kaum muhsinin dengan berlipat ganda, serta menyelamatkan orang-orang yang kita cintai dari bahaya dan kesesatan syi’ah. Walhamdulillahirabbil ‘alamin [Malang, 10 Oktober 2012].

———————————————————————————–

Alhamdulillah, dengan terbitnya buku Fatwa MUI Jawa Timur Tentang Kesesatan Syi’ah tersebut, Yayasan Bina Masyarakat secara bersamaan juga meluncurkan program penyediaan buku fatwa tersebut bagi ormas, masjid, maupun lembaga dakwah Islam lainnya. Untuk informasi dan keterangan lengkap program tersebut, bisa menghubungi nomor 081 332 675 653 (Abu Hasan), atau via email di alamat info@binamasyarakat.com.

6 Replies to “Buku Fatwa MUI Jawa Timur Tentang Kesesatan Syi’ah”

    1. Kalau ga jago asal ngomong, bukan syiah namanya. Kalau ga jago ngumpat, bukan syiah namanya. Kalau ga merasa paling anti zionis, bukan syiah namanya. Parahnya, ga sadar kalau selama ini dibodohi dan dimanfaatkan oleh zionis, sehingga merasa berada di barisan depan dalam memerangi zionis (dalam sejarah, tidak ditemui secuil pun peperangan yang terjadi antara zionis dengan negara iran dan agama syiahnya. Malah syiah sendiri yang rajin menggembosi Islam sepanjang sejarah). Atau memang hafi bodoh ya… :-p
      Bahkan pendiri Syiah sendiri, Abdulah bin Saba, merupakan seorang Yahudi dari Yaman. Dalam perang salib, kerjasama antara Syiah dengan pasukan salib juga terjadi.
      Salah satu contoh sejarah, ketika Paus Urbanus II menggelorakan perang salib di Eropa, ketika pasukan-pasukan salib tengah direkrut di Eropa sebelum memulai perjalanan untuk merebut Yerusalem, pasukan Syiah Fatimiyah terlebih dahulu menyerang Yerusalem dan membantai umat Islam Dinasti Abbasiyah yang menguasai kota suci itu. Yerusalem jatuh ke tangan Syiah Fathmiyah setahun sebelum kedatangan tentara salib pada tahun 1099 (Carole Hillenbrand, Guru Besar Studi Islam dan Bahasa Arab di University of Edinburgh, dalam bukunya yang tebal berjudul “Perang Salib: Sudut Pandang Islam”).
      Menurut Hillenbrand, pasukan Syiah Fathimiyah sesungguhnya telah bekerjasama merebut Yerusalem dari tangan Dinasti Abbasiyah yang sunni, dan pertempuran yang terjadi tatkala pasukan salib pimpinan Godfroi de Bouillon mendatangi gerbang Yerusalem tahun 1099 sebenarnya hanya berada di tingkat akar rumput saja guna menghilangkan aroma konspirasi tingkat tinggi itu.

    2. Semoga orang2 bodoh seperti hafi disadarkan akan kebodohannya. Dan semoga ahlussunnah yang mendakwahkan kesesatan syiah laknatulloh alaih, diberikan kekuatan dalam berdakwah

      1. assalamu’alaikum..

        al-afwu minkum..

        mungkin Hafi sebenarnya tidak bodoh,
        hanya saja mungkin dia belum mendapatkan pengetahuan dan hidayah.

        semoga Hafi terus semangat dalam menuntut ilmu, dalam mencari kebenaran dan hidayah..

        wahai saudaraku Hafi, mari kita ikhlaskan niat kita dalam mencari kebenaran..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *