Agus Hasan B.Agus Hasan Bashori, Lc.,M.Ag.
Mudhir Ma’had ‘Aliy al-Aimmah & Penasihat Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Malang Raya

Teori “Benturan Peradaban (The Clash of Civilizations)” dari Prof Bernard Lewis yang kemudian disebarluaskan oleh Samuel P Huntington seolah menjadi gambaran dari kebijakan politik Barat, khususnya Amerika terhadap dunia Islam. Dr Adian Husaini melalui bukunya, Wajah Peradaban Barat, menyebutnya dengan istilah baru, yaitu konfrontasi permanen antara Islam dan Barat.

Menurut Adian Husaini, meskipun Barat sudah menjadi sekuler-liberal, sentimen-sentimen keagamaan terus mewarnai kehidupan mereka. Jika dalam masa kolonialisme klasik mereka mengusung jargon gold, gospel, dan glory, di era modern ini kita mendapatkan invasi Amerika terhadap Irak pada 2003 dan dukungannya kepada Israel tidak terlepas dari jargon tersebut. Bukti yang nyata adalah menguatnya sentimen Islamofobia di sebagian kalangan saat ini.

Di masa klasik, seorang misionaris legendaris Henry Martyn menyatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, menurutnya, untuk menaklukkan dunia Islam, dia mengajukan resep: gunakan “kata, logika, dan cinta (kasih)”. Ucapan Henry Martyin ini terbukti memiliki kaitan yang erat dengan upaya Barat dalam memerangi dunia Islam hingga tergulingnya Khilafah Turki Utsmani.

Kekuatan kata “freedom dan liberalisme” dan kekutan “kasih” dalam bentuk bantuan yang mengikat terbukti sangat ampuh dalam menggulung kekuatan-kekuatan Islam, yang biasanya disimbolkan dengan ungkapan tidak simpatik, seperti “ortodoks”, “beku”, “berorientasi masa lalu”, “emosional”, “intoleran”, “radikal”, dan terakhir “terorisme”.

Koran Republika 23-1-2015 LFTMemerangi Islam dan melanggar kedaulatan negara Islam atas nama memerangi terorisme dimulai dari momentum runtuhnya dua gedung WTC pada 11 September 2001 yang menewaskan 2.977 orang (ditambah 19 “pembajak pesawat” yang dikaitkan dengan Alqaidah pimpinan Usamah bin Ladin) dan melukai lebih dari 6.000 orang. Sejak itulah, babak baru hubungan Barat-Islam dimulai.

Kampanye membasmi teroris pun digelar oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dan Islam dijadikan sebagai kambing hitam. Islam dikesankan sebagai yang melahirkan radikalisme dan terorisme sampai bangsa Palestina yang dijajah oleh Israel pun tidak luput dari upaya untuk disebut sebagai teroris.

Setelah peristiwa penyerangan gedung WTC, kini dunia dihebohkan oleh penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo di Paris pada Rabu 7 Januari  2015. Dua orang bersenjata menyerbu kantor majalah yang menghina Nabi Muhammad tersebut, menewaskan 12 orang dan melukai 10 orang. Begitu aksi ini terjadi, dunia langsung bersuara mengutuknya dan mengaitkan dengan Islam.

Menariknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menggempur Gaza dan menewaskan 2.500 Muslim dalam penyerbuan terakhir, ikut hadir mengutuk aksi terorisme, seolah dia bersih dari terorisme. Pada Ahad (11/1), Benjamin Netanyahu ikut long march di Paris yang diikuti 50 pemimpin dunia dan hampir empat juta orang. Tujuannya adalah untuk menyatakan solidaritasnya terhadap korban penyerangan yang menghina Nabi SAW dan untuk mendukung kebebasan mengungkapkan pendapat, termasuk menghina Nabi SAW dan untuk memberantas lagi-lagi “terorisme”.

Di tengah arus Barat memojokkan Islam ini, ternyata ada arus lain yang menyuarakan bahwa terorisme tidak dilahirkan oleh Islam, tetapi oleh kezaliman Barat. Arus ini disuarakan lantang oleh Profesor Amerika Graham E Fuller. Mantan wakil ketua Badan Sentral Intelijen Amerika Serikat atau CIA itu menyatakan, “Kalau bukan karena Islam, niscaya dunia ini miskin peradaban, kebudayaan, dan intelektual. Bahkan jika Islam tidak ada pun, Barat akan berada dalam konflik dan perang, khususnya antara gereja-gereja Barat dan Timur.” Karena itu, menurutnya, “Barat tidak boleh membebankan kepada Islam dosa konflik antara Timur dan Barat atau yang disebut benturan peradaban.”

Pernyataan ini ada dalam bukunya yang berjudul, A World Without Islam, yang dalam versi Arabnya berjudul ‘Alam bi-la Islam (Dunia tanpa Islam). Fuller menyerang kebijakan negaranya yang bersifat menghancurkan Timur Tengah. Fuller mengajukan sembilan solusi untuk menghentikan konflik Barat-Islam. Fuller meminta agar Barat melaksanakan, di antaranya adalah Amerika Serikat harus menarik diri dari wilayah Arab dan Islam yang didudukinya.

Selain itu, menyelesaikan masalah Palestina secara adil, tidak melanggar kedaulatan negara-negara (Arab dan Islam) atas nama mengejar para teroris, dan Barat harus mau menerima kemenangan umat Islam (aktivis Islam) dalam pesta demokrasi mereka di negara mereka tanpa syarat dan tanpa intervensi.

Fuller menolak tuduhan bahwa dirinya membela Islam. Dia menegaskan, hanya membela kebenaran dan keadilan dalam konteks sejarah dan upaya menyuguhkan pemahaman yang lebih baik dalam memahami peristiwa yang terjadi sekarang ini.

Penulis buku yang terjemahannya dalam bahasa Arab akhirnya diterbitkan Dar Suthur ini mengatakan, “Sejarah tidak dimulai dari 11 September 2001 sebagaimana disangka oleh banyak orang Barat.” Dia beragumentasi bahwa “Sebelum Islam ada dua imperium: Sassania (Persia) dan Rumania (kemudian Bizantium). Antara keduanya telah meletus perang selama seratus tahun. Jadi, masalah Timur dan Barat sudah ada sebelum Islam yang tecermin dalam konflik Yunani Persia, kemudian Rumania Persia, kemudian Bizantium Persia. Sama saja apakah orang-orang Muslim atau non-Muslim, maka mereka pasti akan melawan Amerika Serikat dan akan menolak kolonialisme Prancis, imperialisme Inggris, kolonialisme Italia, dan lain-lain. Semua ini disebabkan oleh penjajahan Eropa kemudian usaha hegemoni Barat atas dunia.”

Buku ini membantah dengan tegas klaim dan tuduhan Barat, terutama Amerika Serikat terhadap Islam tentang munculnya terorisme. Penulis mengingatkan sejarah kuno Barat dan modern tentang perang-perang Eropa yang bersifat agama dan sekuler yang merenggut nyawa ratusan juta manusia dan hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Justru, menurutnya, “Tanpa Islam, dunia miskin peradaban, kebudayaan, dan intelektual.”

 

Artikel dimuat di Koran Republika edisi Jum’at, 23 Januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *