Orang-orang awam memandang seorang yang rajin ‘ngaji’ sebagai orang yang berilmu agama.

Dan mereka akan memperhatikan perilakunya, sebab mereka memandangnya sebagai panutan di dalam beragama.

Ini ada beberapa kalimat yang kami tujukan kepada ikhwan dan akhwat yang tinggal dengan masyarakat.

Semua ini tentu sudah diketahui oleh ikhwan dan akhwat, namun ini sekedar saling mengingatkan di dalam kebenaran dan kesabaran.

1. Perlu Bergaul Dengan Masyarakat

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ الَّذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ ويَصْبِرُ عَلَى أذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar terhadap kejahatan mereka lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap kejahatan mereka.”([1])

Hadits ini menunjukkan keadaan mukmin itu bertingkat-tingkat.

Ada mukmin yang sibuk dengan dirinya sendiri, ada yang berusaha bergaul dengan masyarakat sekitarnya.

Dan syariat mendorong kita agar menjadi makhluk yang bersosial.

Hal ini banyak dijumpai dalam berbagai amalan ibadah semisal shalat berjamaah di masjid, shalat Jumat, shalat ‘id, dan lainnya.

Demikian pula dalam muamalah, hendaklah berusaha untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya, walaupun harus bersabar menanggung gangguan.

Akan tetapi bukan berarti di dalam bergaul dia tidak mengontrolnya.

Jika ada teman yang mengajak ikut bermaksiat, maka tentu ajakan ini tidak boleh diikuti.

Hendaklah kita bergabung dengan masyarakat di dalam acara yang bukan maksiat, seperti arisan RT, kerja bakti, membantu kerepotan tetangga ketika hajatan atau kematian, atau semacamnya.

Tentu dengan berusaha menghindari kemaksiatannya.

2. Menjaga Akhlaq Yang Mulia

Rosululllah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»

Dari Abu Dzarr radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku: “Bertaqwalah kepada Alloh dimana saja engkau berada; Susulkanlah kebaikan terhadap keburukan, kebaikan itu    akan menghapusnya; Dan bergaullah kepada manusia dengan akhlaq yang baik”.([2])

Para ulama’ menjelaskan bahwa akhlaq yang baik itu antara lain: berbuat baik kepada orang lain, pemurah, tidak menganggu, sabar terhadap gangguan, tidak mudah marah, wajah ceria, pemaaf, dll.

Maka hendaklah kita bersikap ramah kepada tetangga kita, menyapa ketika berjumpa, tersenyum ketika berbicara, dan bersikap sopan kepada mereka.

Tentu dengan memperhatikan batas-batas hubungan laki-laki dan wanita.

Demikian juga menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan beruasaha berbuat baik dan tidak mengganggu tetangga.

3. Mengamalkan Hak-Hak Sesama Muslim

Tetangga kita kebanyakan muslim, atau mungkin semuanya muslim, maka sepantasnya kita menunaikan hak-hak sesama muslim.

Nabi ﷺ bersabda:

«حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ»

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam; Jika engkau bertemu dengannya, maka berilah salam kepadanya; Jika dia mengundangmu, maka penuhilah; Jika dia minta nasihat kepadamu, maka berilah nasihat; Jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah, maka doakanlah; Jika dia sakit, maka tengoklah; Dan jika dia meninggal dunia, maka antarkanlah (ke kuburan)”.([3])

4. Mengamalkan Hak-Hak Tetangga

Berbuat Baik Kepada Tetangga

Diantara hak-hak tetangga terhadap tetangganya adalah: berbuat baik kepadanya semampunya, baik berupa harta, kehormatan dan manfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.”([4])

Beliau ﷺ juga bersabda:

«إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ»

“Jika engkau memasak masakan daging berkuah, maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu!”([5])

Termasuk berbuat baik terhadap tetangga: memberikan hadiah kepadanya dalam peristiwa-peristiwa tertentu. Itu mendatangkan cinta dan menghapus permusuhan.

Tidak Mengganggu Tetangga

Termasuk hak tetangga adalah tidak mengganggunya, baik gangguan dengan perkataan atau perbuatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ» قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ»

“Demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman, demi Allah, dia tidak beriman”.

Beliau ditanya “Siapa dia wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya”.([6])

Inilah sedikit tulisan untuk mengingatkan diri kami pribadi dan ikhwan dan akhwat sekalian, semoga Alloh menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang diberkahi di manapun kita berada.

Ditulis oleh Muslim Atsari,

Sragen, Bakda isya, Selasa, 24-Jumadal Ula-1443 H / 28-Desember-2021 M

 

________________

Footnote:

([1]) HR. At-Tirmidzi no. 2507; Ibnu Majah no. 4032

([2]) HR. Ahmad, 5/153, 158, 177, 236; Tirmidzi, no: 1987; Darimi, 2/323; Al-Hakim, 1/54; At-Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir, 20/145, Mu’jamul Ausath, 4/125, Mu’jamus Shoghir, no. 350. Dimuat oleh Imam Nawawi di dalam Arba’in, no. 18. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohihul Jami’, no. 97

([3]) HR. Muslim, no. 2162

([4]) HR. Muslim, no. 48

([5]) HR. Muslim, no. 2625

([6]) HR. Bukhori, no.6016

Untuk lebih lengkapnya, Yuk baca artikel ini di website attabiin.com pada url:
https://www.attabiin.com/kalimat-untuk-ikhwan-dan-akhwat-yang-tinggal-dengan-masyarakat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *