Jalan LurusOleh: Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.
(Pengasuh Pesantren Tinggi al-Aimmah)

A. Dakwah Adalah Tugas Para Rasul

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Arti: Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36)

 

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Arti: Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS. Asy-Syura: 13)

B. Tujuan Berdakwah

“Untuk merealisasikan tujuan penciptaan manusia yaitu tunduknya mereka kepada kebenaran dan masuknya mereka kedalam agama yang benar, dan untuk menegakkan kalimat tauhid demi terciptanya persatuan.”

C. Manhaj Dakwah Para Nabi

Yang dimaksud dengan manhaj dakwah adalah metode dan cara yang ditempuh oleh para Nabi dalam berdakwah. Manhaj dakwah para Nabi itu antara lain:

1. Memulai dengan tauhid dan fokus pada tauhid.

Semua Nabi dan Rasul selalu memulai dakwahnya dengan memperbaiki segi akidah. Hal ini sesuai dengan tuntutan akal, hikmah dan fitrah. Sebagaimana kenyataan berikut:

    • Bahwa kerusakan-kerusakan yang berkaitan dengan masalah akidah manusia, berupa kemusyrikan, khurafat dan bid’ah, jauh lebih berbahaya daripada kerusakan-kerusakan di bidang hukum, ekonomi, sosial dan politik.

    • Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengutus para Rasul kecuali untuk mengajarkan kepada ummat manusia tentang kebaikan, memberikan peringatan akan siksaan Allah, dan menjauhkan dari tindak kejahatan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya; “Manusia itu adalah ummat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (al-Baqarah: 213)

    • Allah Ta’ala tidak membebani para pembawa risalah untuk menjatuhkan satu daulah Islamiyah demi tegaknya daulah yang lain. Allah tidak pula membebani mereka untuk mencapai tujuan kekuasaan, karena dakwah yang menempatkan penegakan daulah sebagai tujuan pertama dan utama, tidak akan terlepas dari tendensi mencari kekuasaan dunia, kedudukan dan jabatan. Pada diri Nabi sendiri, kalaupun harus melakukan dakwah dengan tahapan penegakan daulah, bukanlah karena hal yang lain, akan tetapi untuk menegakkan daulah dengan hanya niatan yang ikhlash memenuhi perintah Allah berkenaan dengan jihad di jalan-Nya, dan dalam rangka meninggikan kalimat Allah di muka bumi-Nya.

Akidah yang pertama kali diserukan oleh para Nabi adalah tiga pilar:

    1. Iman kepada Allah , dengan tauhid yang sempurna

    2. Iman kepada kenabian, dengan ketaatan yang sempurna

    3. Iman dengan hari akhir, dengan kepasrahan dan kerinduan yang sempurna..

Dengan dibarengi tiga pilar ini maka masyarakat beralih dari jahili menuju Islam.

 

2. Mempertimbangkan Situasi

Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam berada di Makkah dan Ummat Islam masih sedikit sedangkan musuh sangat banyak dan kuat, maka beliau cukup mengajak kepada agama Islam, menjelaskan kebaikan-kebaikan Islam dan berusaha menarik simpati masyarakat. Disini Nabi melancarkan jihad dakwah dan melarang jihad perang karena hal tersebut bertolak belakang dengan perilaku hikmah. Dan dalam dakwahnya Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam banyak melakukan strategi mudaroh atau musalamah.

Ketika beliau hijrah ke Madinah, jumlah ummat Islam telah banyak dan kuat, sementara permusuhan orang-orang kafir kepada Islam semakin hebat. Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam diizinkan oleh Allah untuk memerintahkan jihad perang disamping jihad dakwah. Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang sangat baik bagi kaum muslimin.

 

3. Ucapan Nabi dalam berdakwah selalu sesuai dengan obyek dakwah

Khitab Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam kepada mad’u memiliki banyak keistimewaan antara lain:

– Nabi shallallahu’alayhi wasallam berbicara dengan kaumnya dengan lisan dan bahasa mereka

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Arti: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS.Ibrahim: 4)

– Ucapan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam sangat jelas, beliau memiliki kata, kalimat dan gaya yang dapat dicerna oleh semua lapisan.

– Untuk memahamkan satu ajaran beliau menggunakan seribu cara yang dalam bahasa al-Qur`an disebut 

– Khitab Nabi selalu didukung oleh argumentasi (dalil) dan alasan hukum (Ta’lil) yang memuaskan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Ta’ala didalam al-Qur`an. Seperti dalam surat al-Nur ayat 58.

– Ucapan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam selalau serius dan meyakinkan, menggugah emosi dan akal secara serempak.

– Ucapan beliau fokus dan konsisten dalam berfikir dan berucap, tidak bingung dan membingungkan.

– Ucapan beliau jauh dari bias yang membuat salah paham atau yang menusuk perasaan mad’u, tetapi lembut, bijak dan obyektif sebagaimana perintah Allah.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Arti: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl: 125)

 اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

 

Arti: Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.(QS. Thaha: 43-44)

 4. Mempermudah tidak mempersulit, memotivasi tidak membuat lari

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

 5. Mengajak kepada tawassuth (keseimbangan) dalam segala hal

Allah memerintah tawassuth dan i’tidal dan mencela taqshir dan ghuluw.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Arti: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, (QS. An-Nahl: 90)

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ

Arti: Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. (QS.Al-A’raf: 29)

Tawassuth dalam ibadah (dengan menggabungkan antara Ikhlash kepada ma’bud dan mutaba’ah kepada rasul). Tawassuth mengenai para Nabi, ulama dan wali, dalam sedekah dan infak, makan, minum, gerak, jalan dan suara dan dalam segala hal.

6. Menerapkan prinsip tatsabbut dalam hal-hal yang dikhawatirkan buruk akibatnya dan prinsip tasabuq dalam hal-hal yang dikhawatirkan terlewatkan kesempatannya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا

Arti: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah (QS. An-Nisa: 94)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Arti: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (QS. Al-Hujurat: 6)

Dalam satu qiraat keduanya dibacaفَتَبَيَّنُوا

Allah mencela orang yang mudah menyebar isu:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Arti: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS. An-Nisa: 83)

Dan Allah memerintah bersegera dalam kebaikan:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Arti: Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan (QS. Al-Baqarah: 148)

 

7. Memperioritaskan mashlahat yang paling tinggi

Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

أَبَا ذَرٍّ، إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا فَإِنْ أَنْتَ أَدْرَكْتَهُمْ فَصَلِّ الصَّ ةَالَ لِوَقْتِهَا-وَرُبَّمَا قَالَ: فِي رَحْلِكَ-ثُمَّ ائْتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتَهُمْ قَدْ صَلُّوا كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَإِنْ وَجَدْتَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا صَلَّيْتَ مَعَهُمْ فَتَكُونُ لَكَ نَافِلَةً.

Yang paling afdhal shalat itu tepat pada waktunya tetapi demi mashlahat persatuan maka beliau memerintahkan agar kita shalat bersama mereka.

 

8. Memilih satu diantara dua mashlahat yang tertinggi dan satu diantara dua kerusakan yang paling ringan.

Dua kaidah ini banyak disinggung oleh ayat al-Qur’an, dan diantaranya adalah mafhum mukhalafah (pemahaman kontras) dari firman Allah:

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ

Arti: oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, (QS. Al-A’la: 9)

Jika nasihat itu akan mendatangkan bahaya besar maka meninggalkannya adalah wajib.

 

9. Memanfaatkan setiap sarana (wasilah) yang mubah.

Syeikh Nashir al-Sa’di berkata: ” Diantara sifat pejuang agama adalah tegar, berani, sabar dan berupaya dengan semua sarana yang bisa menolong agama, dengan jiwanya, dengan hartanya, dengan suaranya, dengan pangkat dan profesinya” Beliau juga berkata: “Sampai orang mukmin yang shadiq dalam iman dan ma’rifatnya ada yang meniatkan tidur, istirahat dan kelezatannya agar kuat melakukaan kebaikan, membina raga agar dapat melakukan ibadah dan meningkatkan ketahanannya dalam kebaikan”

Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz mengatakan: “Adapun berhubungan dengan para penguasa dan orang-orang yang memiliki kekuatan luas, mereka terkena kewajiban yang lebih banyak lagi, mereka wajib menyampaikan dakwah ini kepada seluruh penjuru dunia yang mungkin mereka jangkau, dengan cara yang mungkin, dengan bahasa-bahasa yang digunakan oleh umat manusia dan mereka wajib menyampaikan syariat Allah dengan bahasa-bahasa itu. Hingga agama ini sampai kepada setiap orang dengan bahasa yang ia fahami, dengan bahasa Arab atau lainnya. Sesungguhnya hal tersebut saat ini sangat mungkin dilakukan, dengan sangat mudah, dengan cara-cara yang sudah diterangkan diatas; melalui siaran radio, televisi, jurnalistik dan sarana-sarana lain yang memungkinkan saat ini dan tidak mungkin dimasa lalu. Begitupula wajib bagi para khatib”

 

10. Teratur dan rapi dalam berdakwah.

Diantara sebab kemenangan yang diajarkan oleh Allah adalah sabar dan bagus dalam memenej (tadbir, tartib, tanzhim) semua gerak pasukan (QS. Ali Imran: 121). Identifikasi kebutuhan, pembagian tugas, penempatan orang, komando kontrol adalah lazim dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Sebagaimana beliau menganalisa kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang serta mengambil langkah-langkah antisipasi.

 

D. Wajib Mengikuti Manhaj Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam

Setelah kita tahu sebagian dari manhaj para Nabi dan terutama Nabi shallallahu â’alayhi wasallam dalam berdakwah tentu kita wajib mengikutinya karena:

  1. Manhaj Anbiya’ adalah jalan yang paling lurus, yang telah Allah tetapkan kepada seluruh Nabi, dari yang pertama hingga yang terakhir.
  2. Para Nabi telah benar-benar beriltizam, mengikuti dan menyesuaikan langkah dakwahnya dengan manhaj yang ditetapkan Allah itu, yaitu yang mendahulukan dan mengutamakan pada prinsip yang satu; tauhidullah.
  3. Allah telah mewajibkan kepada rasul kita yang mulia untuk menempuh manhaj yang telah ditetapkan-Nya, dan Allah mewajibkan atas kita untuk mengikuti dan meneladaninya.
  4. Kesempurnaan konsepsi dakwah para Nabi tergambar dalam system dakwah Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam, sehingga Allah memerintahkan Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam untuk mengikuti manhajnya, sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah Dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah).” (an-Nahl: 123)

 

 

Malang, 10 Ramadhan 1423 H

(disusun oleh Ust. Abu Hamzah Agus Hasan Bashari al-Sanuwi, Lc.,M.Ag.)

Sumber: http://mahad-aimmah.binamasyarakat.com/manhaj-rasul-shalallahu-alaihi-wa-salam-dalam-berdakwah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *