Oleh:

Ziyad At-Tamimi, S.ThI, M.H.I

(Kajian di Masjid Al-Hidayah – Probolinggo. Ahad, 8 Rabi’ul awwal 1434H./ 16 Januari 2013 M)

Sesungguhnya diantara nikmat Allah terhadap seorang hamba bila dia diberi hidayah/ taubah/ istiqamah apalagi saat masih muda dan kuat-kuatnya syahwah. Akan tetapi ke-istiqamahan ini bila tidak ditopang dengan acara-acara dan amal yang kontinu bisa tidak berumur panjang dan berkelanjutan karena banyaknya fitnah, hal-hal yang melalaikan, tipu daya setan, teman-teman yang jelek, kerinduan jiwa pada masa lalu yang suram/ sesat dll. dari penghalang-penghalang yang ada. Karenanya pada saat ini kita melihat para pemuda yang jenuh dan berbalik serta ragu-ragu untuk melakukan ketaatan dan melanjutkannya.

Diantara kita ada yang konsentrasi di bidang penyuluhan terhadap orang-orang yang sesat, namun kurang dalam membuat acara-acara yang menjamin keselamatan manhaj/ metode dan bagaimana kesinambungan mereka dalam ketaatan. Tentunya hal ini memberikan dampak yang besar dalam menetapkan keimanan dan terus-menerus diatas ketaatan, menerangi mata hati dengan ilmu dan keyakinan. Meninggalkan sebab-sebab kesesatan dan jalan-jalan yang menjerumuskan. Dari sini, bagi orang-orang yang baru mendapat hidayah, agar istiqomah dengan acara-acara semacam ini secara terus-menerus dan tidak bergampang atau mengabaikannya hal ini sampai keimanannya menguat dan keistiqamahannya laksana tiang kokoh.

Berikut beberapa wasiat yang mungkin untuk dilakukan:

Wasiat ke-1: Banyak berdoa setiap harinya, khususnya di saat-saat istijaabah (malam jum’at/ hari jumatnya hingga sebelum matahari terbenam, antara adzan & iqamah, dll). berdoa seperti:

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك على طاعتك…. اللهم ألهمني رشدي وقني شر نفسي

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu… diatas ketaatan terhadap-Mu… ya Allah ilhamkanlah kepadaku petunjuk dan jauhkanlah diriku dari kejelekan diriku sendiri” dll. dari doa yang terdapat dalam sunnah. Perbanyak berdoa dengan jujur, berbaik sangka menampakkan kebutuhan, kefakiran dan khusyu’. Ummu salamah pernah bertanya kepada Nabi SAW: alangkah banyaknya engkau berdoa: يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك Nabi SAW menjawab: wahai ummu salamah, tidak ada seorang pun melainkan hatinya berada diantara jari-jemari Allah, yang dibolak-balikkanNya menurut yang Dia kehendaki. Kalau Allah berkehendak hati itu tegak, ia akan tegak. Dan bila Allah menghendaki tergelincir, ia akan tergelincir (HR. Ahmad).

Wasiat ke-2: Sangat menjaga ibadah-ibadah fardhu dengan menunaikannya sebaik mungkin dengan menegakkan rukun-rukunnya, wajib-wajib dan sunnahnya, ruh shalatnya (khusyu’nya) dengan datang awal dan memutus semua rintangan yang akan menghalangi buah dari ibadah.

قال الله تعالى ( وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ).

“Tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari kekejian dan kemungkaran dan hendaklah mengingat Allah yang Maha Besar. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian lakukan”.

Wasiat ke-3: Memelihara ibadah-ibadah sunnah yang 12 rakaat (2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib dan 2 rakaat setelah isya’)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( ما من عبد مسلم توضأ فأسبغ الوضوء، ثم صلى لله في كل يوم وليلة ثنتي عشرة ركعة تطوعا غير فريضة إلا بنى الله له بيتا في الجنة‏) رواه مسلم

“Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seorang hamba muslim berwudhu hingga sempurna kemudian shalat sunnah 12 rakaat di waktu siang dan malam selain yang wajib melainkan Allah bangun untuknya rumah di surga”. Selain itu melaksanakan shalat dhuha minimal 2 rakaat max 8 rakaat, waktunya 15 menit setelah terbit matahari hingga 15 menit sebelum masuk waktu zhuhur, yang terutama saat matahari mulai menyengat,

. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( صلاة الأوابين حين ترمض الفصال ) رواه مسلم

“Sholat awwabiin (orang-orang yang kembali) atau dhuha itu pada saat anak unta merasa kepanasan di kandangnya”. Ini juga merupakan wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Hurairah RA, yang juga kepada kita ummatnya. Beliau RA bersabda:

أوصاني خليلي بثلاث: أن أوتر قبل أن أنام, وأن أصلي ركعتي الضحى , وأن أصوم ثلاثة أيام من كل شهر

“Kekasihku mewasiatkan kepadaku tiga perkara: aku melakukan witir sebelum aku tidur, aku sholat dua rakaat dhuha dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (ayyaamul biidh/ 13, 14, 15 H.)” Sholat ini dengan tanpa dzikir atau doa tertentu, sebab tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW atau para sahabat membaca dzikir/ doa tertentu.

Wasiat ke-4 :Benar-benar menjaga shalat malam hingga waktu subuh, atau minimal 1 raka’at max 11 rakaat baik dalam keadaan bepergian atau diam di daerahnya dan tatkala mengakhirkan waktunya itu lebih baik.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( أفضل الصلاة بعد الصلاة المكتوبة ، الصلاة في جوف الليل ) رواه مسلم.

Rasulullah SAW bersabda: “Paling utamanya shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam” (HR. Muslim).

قالت عائشة: ( كان النبي يقوم من الليل حتى تتفطر قدماه. فقلت له: لِمَ تصنع هذا يا رسول الله، وقد غُفر لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟ قال: أفلا أكون عبداً شكوراً ) متفق عليه.
‘Aisyah berkata: “Dahulu Nabi SAW bangun malam sampai bengkak kedua kaki beliau. Aku bertanya: Mengapa engkau sampai berbuat demikian wahai Rasulullah, padahal engkau telah diampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang (ma’shum)? Beliau menjawab: Tidakkah aku menjadi hamba Allah yang bersyukur” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Wasiat ke-5: Menjadikan wirid dari kitabullah/ Al-Qur’an Al-Karim sebagai bacaan setiap harinya, juga menghafal dan mengulang-ulang hafalan yang di hafal tanpa melihat mushhaf, sebagai bentuk penjagaan dari setan baik kalangan jin/ manusia. Demikian hati hamba bila dipenuhi dengan Al-Qur’an Allah berfirman:

( كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ).
“Sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad) agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan mengingatkan orang-orang yang berakal”.

Wasiat ke-6: Senantiasa menjaga agar menghadiri majlis ilmu yang bermanfaat sebagai bekalnya, khususnya bagi pemula berupa ilmu aqidah dan fiqih. Dia aktif dengan menghafal dan mengulang hafalan serta bersabar di dalamnya. Setelah itu dia akan merasakan kelezatan, yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya.

Wasiat ke-7: Menjadikan bacaan rutin seperti buku-buku mengenai zuhud/ menjaga diri dari hal-hal yang akan mengurangi agama, membaca buku sejarah untuk mengetahui bagaimana keadaan generasi awal ummat ini dalam kehidupan mereka dalam hal keimanan, ibadah dan zuhud mereka. Bagaimana mereka menegakkan perintah, bagaimana berjihad, mengerahkan usaha, berinfaq dll. dari amal dan ibadah. Kalau seseorang membaca maka semangatnya akan muncul, banyak berbuat dan menjadi kuat dalam menuju ketaatan.

Wasiat ke-8: Sebagaimana juga baik bagi seseorang tatkala sendirian untuk berfikir mengenai nikmat-nikmat Allah yang dirasakannya dan bagaimana kekuasaan-Nya, dan bagaimana dirinya. Berusaha mengambil hikmah meski sedikit, kalau seorang hamba berbuat demikian, niscaya Allah akan membukakan hati orang tersebut dan meneranginya dengan iman dan dia tidak akan terkena fitnah syubhat/ perkara yang samar dan syahwat/ hawa nafsu yang menjerumuskan. Allah SWT berfirman:

( الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ).

“Orang-orangyang mengingat Allah saat berdiri, duduk dan berbaring serta berfikir dalam penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) wahai Rabb kami tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha suci Engkau dan jauhkanlah kami dari api neraka” (QS, Ali Imran: 191).

Seseorang apabila menjaga hal-hal tadi maka dia akan mendapatkan ilmu dan keyakinan, kekuatan iman, lezatnya ibadah, keteguhan diatas kebenaran dan dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil serta mendapat rahmat Allah.

Bagi yang lalai dari hal-hal tadi, berarti dia terhalang dari banyak kebaikan. Menjadi pengikut setan dan tentaranya dari kalangan manusia, serta terancam oleh godaan/ goncangan hawa nafsu dan syahwat menurut kadar kurangnya. Dan yang berbahaya, dia bisa berbalik karena kelalaiannya. Sesungguhnya ketetapan Allah itu berlaku bagi makhluk-Nya dan balasan itu menurut kadar perbuatannya.

Wasiat ke-9: Menjaga Akhlak

قال الله عز وجل ( وقولوا للناس حسنا ) وقال النبي ص ( وخالق الناس بخلق حسن ) رواه الترمذي
Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada manusia perkataan yang baik”. Nabi SAW bersabda: (Dan pergaulilah manusia itu dengan akhlak yang baik) HR. At-Tirmidzi.

Dalam hadits shahih yang masyhur Aisyah pernah ditanya oleh sahabat: Bagaimanakah akhlak Rasulullah SAW? beliau menjawab: “Nabi itu akhlaknya adalah Al-Qur’an” maksudnya nilai-nilai Al-Qur’an teraplikasi dalam diri beliau. Nah, kalau kita sebagai suami, apa yang akan dikatakan oleh istri kita bila ditanya orang mengenai akhlak kita? Demikian tetangga kita bila ditanya orang tentang kita…..dst

Agama Islam amat menaruk perhatian terhadap masalah akhlak. Imam Al-Aajurri dalam kitabnya asy-syari’ah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada yang lebih memberatkan timbangan, melebihi dari akhlak yang baik”.

Akhlak yang baik merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi suatu ummat. Akhlak merupakan barometer wawasan dan kemajuannya. Menurut kadar ketinggian akhlak, suatu bangsa akan tinggi peradabannya dan membuat yang lainnya tertarik serta membuat musuh takut dan bingung. Sebaliknya menurut kadar rendahnya akhlak suatu bangsa, ia tidak akan berharga, peradabannya direndahkan, tidak dianggap oleh bangsa yang lain. Berapa banyak bangsa yang dihormati dan disegani karena memiliki akhlak yang mereka pegang teguh. Seperti: menjaga keadilan dan hak asasi dll. Berapa banyak bangsa sekalipun kebanyakan penduduknya muslim, namun direndahkan dan tidak dianggap karena menyia-nyiakan akhlak.

انما الأمم أخلاق ما بقيت فان ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Sesungguhnya suatu ummat itu akan tetap didingat karena akhlaknya

Jika akhlak itu telah hilang, mereka pun akan pergi hanyut bersama kehilangannya

Bila dalam suatu masyarakat tersebar sifat-sifat yang baik berupa jujur, amanah, adil dan saling menasehati maka orang-orang akan merasa aman, hak-hak terjaga, sebab-sebab kecintaan menjadi kuat diantara sesama di tengah masyarakat, hal-hal yang jelek menjadi sirna, keutamaan bertambah dan Islam menguat. Sebaliknya, bila akhlak buruk yang menyebar seperti: dusta, khianat, zhalim, menipu, sogok-menyogok maka rusaklah masyarakat, keamanan lenyap, hak-hak dilanggar dan hubungan terputus diantara keluarga dan masyarakat. Agama menjadi lemah di kalangan para penganutnya dan barometer timbangan berubah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (سيأتي على الناس سنوات خداعة؛ يصدق فيها الكاذب، ويكذب فيها الصادق، ويؤتمن فيها الخائن، ويخون فيها الأمين، وينطق فيها الرويبضة، قيل: ومن الرويبضة يا رسول الله؟! قال: الرجل التافه يتكلم في أمر العامة) رواه أحمد.

Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa yang menipu. Orang yang dusta dibenarkan, yang jujur tidak dipercaya. Pengkhianat diamanahi, yang jujur dikhianati. Kaum ruwaibidhah banyak berkomentar. Beliau ditanya Siapa ruwaibidhah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang yang rendah berbicara mengenai perkara orang banyak”.

Bagi yang merenungkan keadaan ummat Islam, akan mendapati kelemahan yang parah dari sisi akhlak. Kelemahan-kelemahan itu nampak di berbagai sisi berikut:

  1. Keluarga: seorang anak yang tidak menghargai orang tuanya, tidak menghargai ibunya, durhaka terhadap kedua orang tuanya. Tidak mau disuruh, tidak nyahut dipanggil, merasa berat membantu keduanya di rumah. Diantara peringai anak yang negatif adalah tidak mau tau terhadap orang tuanya, menghindari mereka berdua. Yang diinginkan oleh anak hanyalah bermain dan menuruti hawa nafsunya berupa makanan dan pakaian yang mewah, mobil dan hal-hal yang sifatnya sekunder. Kalau ada yang berbakti, itu pun karena ingin balasan berupa imbalan. Wallaahu al-musta’an!! Bagi anak laki-laki enggan membantu ayahnya di luar, sedangkan anak perempuan enggan membantu ibunya di rumah seperti membantu pekerjaan dapur.

  2. Lingkungan pengajaran: seorang pelajar tidak menghormati gurunya. Tidak izin pada saat mau masuk/ keluar kelas, berbicara pada saat pelajaran, bising, mengangkat suara dan menentangnya. Bahkan sampai pada derajat mencela dan mencari-cari aib gurunya. Apalagi di luar sekolah, murid tambah tidak menghormati. Hal ini bertambah parah dengan tidak adanya dukungan/ undang-undang yang melindungi guru. Kemaren diajari gurunya, besoknya sang guru dikata-katai, dicap ini dan itu……..dst.

  3. Dalam acara perkumpulan: anak kecil duduk di depan. Berbicara seolah menggurui yang tua, pada saat makanan dihidangkan tidak mempersilahkan yang tua terlebih dahulu dll.

  4. Dalam berteman: kebanyakan dibangun diatas kepentingan berupa materi/ syahwat. Berdusta, dengki dan mengingkari kebaikan. Ada yang berwajah dua, namun tidak disadari mengadu-domba diantara mereka.

  5. Hubungan suami istri: Pada saat di rumah suami merupakan sosok yang garang, namun bila keluar rumah dia santun. Otoriter terhadap anak dan istrinya tanpa mendengarkan mereka. Si istri tidak hormat kepada suaminya, berdandan hanya pada saat keluar dll.

  6. Di kantor/ tempat kerja: diantara akhlak yang jelek, mereka yang dengki dengan rekan kerjanya. Kadang penyebabnya perkara yang sepele, sehingga misalnya temannya lebih berhasil, berprestasi dll. kalau seseorang diuji dengan teman yang dungu, maka dia usahakan menghindar. Dengan demikian dia memelihara akhlak yang mulya.

  7. Pasar: Sebagian besar pedagang zaman sekarang tidak memperhatikan rambu-rambu, seperti: berdusta, menipu, bersumpah palsu, kasar dan kikir terhadap pembeli. Sedikit diantara mereka yang memberi peluang bagi yang kesulitan dan memenuhi timbangan. Kaum wanita yang di pasar/ yang belanja tidak memperhatikan bagaimana menutup auratnya. Juga yang ada di warung-warung, ini menandakan hilangnya perasaan malu.

  8. Media massa: Tidak jujur dalam menyiarkan berita, membesar-besarkan perkara yang kecil atau sebaliknya hingga banyak dari kaum muslimin yang lebih percaya pada media barat.

  9. Di medan dakwah: ketika ada perbedaan dalam perkara cabang, terlihat permusuhan dan akhlak yang buruk, tingkah laku yang mungkar, kefanatikan yang membabi buta, masuknya materi duniawi dan kepentingan khusus memperburuk suasana.

  10. Dalam rekreasi: foto memfoto tanpa izin dan malu, adanya musik/ konser yang mengganggu, berjoget dan buang hajat di tempat umum.

  11. Sarana komunikasi: diantara manusia ada yang menyalahgunakan telp/ hp untuk mengganggu ketenangan. Bahkan saat sekarang dunia Islam dibisingkan dengan makalah-makalah/ MP3 dengan nama-nama tak dikenal atau samaran.

Wasiat ke-10: Di bidang kedokteran: Para dokter muslim tidak menampakkan akhlak yang baik, seperti: tergesa-tergesa dalam memutuskan perkara tanpa memberi kesempatan pada si sakit untuk menjelaskan penyakitnya. Lalu terburu-buru memutus dengan tindakan operasi. Sementara dokter non muslim, dikenal teliti, amanah dan terpercaya. Membebani pasien dengan biaya yang tidak wajar/ mahal, khususnya mereka yang tidak mampu.

Hal-hal ini berupa krisis akhlak memiliki sebab:

  1. Lemahnya agama di kalangan kaum muslimin.

  2. Pemikiran yang salah mengenai ajaran Islam, hukum-hukumnya dan ruhnya.

  3. Tidak adanya sosok yang layak untuk dicontoh.

  4. Adanya hubungan hanya sebatas kepentingan duniawi/ pekerjaan.

  5. Sedikitnya acara yang bermanfaat/ penyuluhan untuk mereka.

  6. Minimnya pelajaran akhlak di semua jenjang pendidikan.

  7. Tidak adanya undang-undang yang memberi sangsi bagi pelaku kebejatan.

Namun bukan berarti di tengah ummat ini tidak ada kebaikannya, atau mengecap semua orang buruk, sehingga berputus asa dan lemah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (إذا قال الرجل هلك الناس فهو أهلكهم ) رواه مسلم.

“Apabila ada orang yang mengatakan: celaka orang-orang, maka dia orang pertama yang akan celaka”.

Tujuan dari pengungkapan ini adalah agar menyadarkan atau membuat kita hati-hati supaya tidak tergelincir.

Wasiat ke-11: Virus memvonis orang lain. Kita mendapati sebagian ikhwah gampang mengecap, fulan begini, dia ahli bid’ah…tahdzir….dll. dia memposisikan dirinya sebagai ulama, hendak memakai madzhab ahli hadits sementara dirinya jauh dari kriteria itu dan bukan kapasitasnya. Jika ditanya juz ‘amma saja tidak hafal!! Para ulama pun memberikan kaedah terhadap al-jarh wa at-ta’diil. Jadi untuk menerapkannya tidak sembarang orang boleh, hal bukan untuk orang yang baru ikut halaqah beberapa kali/ minggu/ bulan langsung mengecap orang lain dst….

Wasiat ke-12: Hati-hati terhadap penyakit futur.

Futuur artinya kendor, hilang semangat dalam menjalankan agama/ ibadah dalam kehidupan yang tadinya getol bersemangat. Dalam sebuah hadits: “Ashbaha ar-rajulu mikminan wa yumsii kaafiran…..” Hal ini terlihat melalui:

  1. Bermalas-malasan dalam menjalani sholat wajib/ sunnah dan ibadah lainnya.

  2. Berpaling dari membaca Al-Qur’an/ menghafalkannya.

  3. Memutuskan diri dari majlis ilmu yang bermanfaat.

  4. Tidak ikut serta dalam berdakwah/ amal kebajikan.

  5. Mersa sempit/ sesak dadanya menahan problem.

  6. Lancang melakukan maksiat dan rindu kepada masa lalu yang kelam.

  7. Banyak memiliki problem dengan sesama.

Futuur itu dalam dua macam:

  1. Malas menjalankan ibadah yang wajib dan berat menegakkan yang sunnah. Orang yang sadar akan keadaan yang demikian dia akan cepat kembali dengan izin Allah. Ali RA berkata: “Sesungguhnya jiwa itu kadang lapang untuk menerima dan kadang berpaling. Pada saat mau, manfaatkanlah untuk beribadah dan bertekad, namun bila berpaling maka singkatlah dengan melakukan yang wajib-wajib saja”.

  2. Merendahkan diri sampai pada derajat meninggalkan yang wajib, melakukan sebagian dosa-dosa besar, bergampang dalam berteman dengan orang-orang fasik, hingga hatinya jadi keras, mendengarkan perkataan orang-orang yang bathil dan penuh syubhat, mencari keringanan dalam berbagai masalah. Inilah penyakit berbahaya yang harus disadari oleh setiap muslim agar dia tidak berbalik…… wal’iyaadzu billaah!!

Sebab-sebab futuur:

  1. Agama: seseorang tatkala belajar tidak mengambil sumber yang benar dari sisi metode pengajaran dalam ilmu, amal dan keyakinan. Atau mengambil agama dengan keras atau berlebihan dalam ibadah, tingkah laku dan menilai masyarakat serta menhukumi orang lain. Bila semangatnya hilang, maka dia akan melenceng dan tidak kuat melanjutkan karena dia tidak membangun agamanya diatas pondasi yang kokoh.

  2. Kejiwaan: seseorang ditimpa penyakit seperti: waswas, depresi, fobia dan perasaan takut atau meremehkan hingga berdampak pada agamanya dan hilang semangatnya hingga meninggalkan keterikatan dengan agama sama sekali.

  3. Kemasyarakatan: seperti orang bujang yang butuh terhadap pasangan hidup, atau statusnya baru bercerai sementara hatinya masih terpaut dengan mantan pasangannya, atau wanita yang ditinggal mati suaminya lalu terasa hampa hidupnya…..problem-problem tadi dapat menguasai seseorang hingga batas fitrah dalam dirinya lenyap dan berpaling dari istiqamah.

  4. Lingkungan: Pada awalnya dia berkumpul dengan orang-orang shaleh hingga menopangnya dalam hal ibadah dan kesahalehan. Namun sebelum matang, dia beranjak dan berpindah ke lingkungan yang jelek dan teman-teman yang buruk hingga timbul perasaan futuur yang besar karena berhubungan dengan orang-orang di masa lalunya yang kelam, merasa rindu padanya dan imannya berkurang

قالالنبيصلىاللهعليهوسلم(إنمايأكلالذئبمنالغنمالقاصية)

Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya srigala itu memakan kambing yang menyendiri”

  1. Perekonomian: karena miskin, atau mantan orang kaya kemudian berlalu dan menjadi orang-orang yang faqir serta keadaan yang menghimpit. Lalu dia berusaha sekuat tenaga memenuhi kebutuhannya dan meninggalkan majlis ilmu serta teman-teman baiknya. Demikian dia berlari mengejar sesuap nasi dan tidak mampu menyeimbangkan antara agama dan dunianya. Demikianlah kesehariannya untuk dunia saja, hingga hal ini memberi dampak pada keimanannya.

  2. Setan: inilah yang paling berbahaya, setan memanfaatkan saat manusia kendor, lalai, lemah imannya dan sedang memerangi diri. Setan membisikkan: engkau tidak mendapat manfaat apa-apa dengan berbuat baik, hati yang rusak tidak bermanfaat meski pelakunya berusaha menampakkan kebaikan secara zhahir. Setan membuatya putus asa, setan membisikkan padanya bahwa dia orang munafik, akan masuk ke neraka…..dst. Demikianlah tipu daya setan dan jeratannya.

  3. Setiap pribadi pria/ wanita yang memiliki masa lalu jelek, keadaan yang menyelisihi agama, pelaku dosa besar dll. keadaan ini bisa kambuh bila digoncang dengan keras kecuali orang yang dirahmati Allah. Perkara ini dapat disaksikan, karenanya bagi yang merasa demikian hendaklah dia mencari-cari sebab yang akan menguatkannya.

Pengobatan:

Setiap problematika itu ada solusi/ jalan keluarnya secara khusus, hal ini berbeda antara satu orang dengan yang lain, antara satu lingkungan dengan lingkungan yang lain. Mengenai sarana pengobatannya juga banyak, terdapat perkara yang umum untuk setiap problem, siapa yang memanfaatkannya akan bermanfaat dan lenyaplah futuur darinya. Diantara sarana tersebut antara lain:

  1. Memohon kepada Allah dengan jujur dan ikhlash agar memperbaiki keadaannya, memperbanyak bersimpuh dan bermunajat kepada Allah dan terus demikian dengan memilih waktu dan tempat yang utama. Siapa yang selalu memohon, Allah akan memperkenakannya.

  2. Belajar agama Islam menurut kemampuannya, untuk mengangkat kebodohan darinya guna menyingkap keraguan dan mengatasi was-was dan bisikan syahwat.

  3. Bersugguh-sungguh mencari teman yang baik mengikuti acara yang membangkitkan keimanan yang akan memperbaiki hatinya, membangun agamanya dan menguatkan kegiatannya dalam kebaikan. Kalau tidak memungkinkan keadaannya, maka bisa menggunakan cara modern seperti telepon/ internet.

  4. Menjauhi lingkungan yang rusak dan orang-orang yang mengikuti syahwat dengan segala cara. Karena itulah agama Islam yang bijak menyuruh orang yang bertaubat agar berpindah dari tempat kemaksiatan dan kelalaian untuk merubah lingkungan.

  5. Berusaha mengobati penyakit yang ada dimulai dari awal jangan sampai membesar, apabila merasa ada perubahan dan mengalami kekendoran hendaknya dia mencari sebab dan solusinya.

  6. Mengutarakan permasalahannya kepada para ulama, ahli pendidikan dan kejiwaaan agar mendiskusikannya dan mencarikan jalan keluar agar yang bersangkutan kembali bersemangat dengan izin Allah.

  7. Mencari sebab-sebab yang meningkatkan keimanan, memperbaiki hati dan melembutkannya dengan senantiasa berdzikir, bertaubat, membaca Al-Qur’an, berziarah ke kuburan (pada saat hatinya terasa keras, bukan untuk meminta kepada ahli kubur) dan membaca sejarah.

  8. Meminta pertolongan kepada Allah, berlidung kepada-Nya dari setan, menyakini bahwa kesembuhan ada di tangan-Nya. Allah kuasa untuk merubah keadaannya, Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan ada obatnya. Berbaik sangka kepada Allah dan memperbesar harapan kepada-Nya.

Wasiat ke-13: Menerima nasehat/ kritikan dengan dada lapang. Sekalipun telah sampai pada kedudukan tertentu di tengah masyarakat/ ummat.

Wasiat ke-14: Memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Tidak mencari-cari kesalahan orang khususnya sesama ahli sunnah. Kitab syekh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad “Rifqan ahli sunnah bi ahli sunnah” sangat baik untuk kita pelajari.

Wasiat ke-15: Banyak membaca dan berkunjung ke perpustakaan umum yang bermanfaat/ menjadikan perpustakaan pribadi. Membaca kitab Al-‘Ilm karya: Syekh Al-‘Utsaimin, Hilyah Thaalib Al-‘Ilm karya: Syekh Bakr Abu Zaid rahimahumallah, ma’aalim fi thariiq thalab al-‘ilm karya: Syekh Abdul Aziz As-Sadhan dll. sebagai tangga menuju manhaj/ metode yang lurus.

*****

Daftar Pustaka:

Al-Ajurri, Abu Bakar Muhammad ibn Al-Husain Asy-Syari’ah cet ke-2 th. 1420 H./ 1999 M. Daar Al-Kitab Al-‘Arabi Beirut Libanon.

As-Sadhan, Abdul Aziz Ma’aalim fi Thariiq Thalab Al-‘Ilm cet. ke-3 th. 1420 H./ 1999 M. Daar Al-‘Aashimah Riyadh- KSA.

Internet:

Makalah-makalah syekh Khalid ibn Su’ud Al-Belaihid

http://www.saaid.net/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *