Oleh:

M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’at Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah , dan kita tingkatkan pula kecintaan (mahabbah) kita kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad , sebagai wujud kecintaan dan ketakawaan kita kepada Allah . Karena tidak sempurna iman seseorang sebelum mencintai Rasulullah melibihi cintanya kepada yang lain. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah bersabda:

لَايُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ (متفق عليه)

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari – Muslim)

Hadits ini tersebut adalah dalil tentang wajibnya mencintai Rasulullah dengan kualitas cinta tertinggi, yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati, yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan terhadap orang-orang terdekat sekalipun, seperti: anak, istri, ibu dan bapak. Bahkan cinta Rasul itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri sendiri.

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khaththab berkata kepada Nabi :

لَأَنْتَ يَارَسُوْلَ اللهِ اَحَبُّ اِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ اِلَّا مِنْ نَفْسِى. فَقَالَ: لَا, وَالَّذِيْ نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَاِنَّكَ الْآنَ اَحَبُّ اِلَيَّ مِنْ نَفْسِى. فَقَالَ: اَلْآنَ يَا عُمَرَ.

“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri. Nabi . Bersabda: “Tidak, demi Zat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Maka Umar berkata kepada beliau, “Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda, “Sekarang (telah sempurna kecintaanmu/imanmu padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari)

Jadi, cinta Rasul adalah perintah agama. Tidak boleh kita mengekspresikan cinta Rasul itu secara serampangan, menurut selera dan hawa nafsu sendiri, tanpa memperhatikan tuntunan Rasulullah .

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Cinta Rasul itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin, dan senantiasa terpatri di dalam hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih, dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

Orang yang mengaku cinta Rasul itu ada tanda-tandanya. Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul itu antara lain:

  1. Mentaati Rasulullah , dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ

“Dan apa-yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Bahkan, hakekat cinta Rasul itu, ya taat kepada Rasul itu dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan siapa yang taat kepada Rasul, berarti ia taat kepada Allah. Allah berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[1].” (QS. An-Nisa’: 80)

Seorang pencinta sejati Rasulullah , manakala ia mendengar Nabi bersabda memerintahkan sesuatu, ia akan segera menunaikannya. Ia tidak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Rasul, serta menerjang berbagai kemungkaran, maka pada dasarnya ia hanya mencintai dirinya sendiri atau bahkan mencintai hawa nafsunya saja. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, dsb. Padahal Nabi sangat mengagungkannya. Dan orang jenis ini akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya, seperti berbuat curang, korupsi, zhalim, dsb. Na’udzubillahi min dzalik.

  1. Menolong dan mengagungkan Rasul , sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat sebelum dan sesudah beliau wafat, yakni dengan menolong dan mendakwahkan agama Islam ini, serta menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnah Rasul di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan risiko yang dihadapinya.

[Nah, untuk ini, tidak bisa tidak, kita harus sering dan banyak membaca atau mempelajari hadits Nabi, dan Sirah Nabi .]

  1. Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui Rasul . Dan rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatupun dari sunnah-sunnahnya. Adapun selain beliau, termasuk para ulama dan shalihin, maka mereka adalah para pengikut Nabi . Tidak seorangpun dari mereka boleh diterima perintah dan larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi .

  2. Mengikuti dan menghidupkan Sunnah Rasul , serta mengikuti beliau dalam segala hal; dalam hal shalat, wudhu, dan berbagai macam ibadah lainnya, juga dalam hal akhlak, seperti: kasih sayang, rendah hati, dermawan, kesabaran, kezuhudan, dll.

  3. Meneladani Rasulullah . Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang mencontoh Rasulullah dalam berbagai perkataan, perbuatan, dan perilakunya. Untuk itu Allah tabaroka wa ta’ala memerintahkan manusia untuk meneladani Kanjeng Nabi pada hari Ahzab dalam kesabaran, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabarannya dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya.”2

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjekaskan, “Para ulama ushuliyyin (ahli ushul fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah , (Perbuatan Rasulullah adalah dalil hukum syar’i, pent.) dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar’i yang mengecualikan kekhususan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah . Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan berteladan kepada selain beliau –apabila menyalahi beliau- maka itulah teladan yang buruk… suri teladan yang baik ini hanya akan ditelusuri dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan hari akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepada-Nya, takut akan siksan-Nya yang semuanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah .”3

  1. Memperbanyak shalawat atas Nabi kapan saja dan di mana saja berada. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[4]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[5].” (QS. Al-Ahzab: 56)

Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا (رواه مسلم)

“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.”[6] ( HR. Muslim)

Adapun contoh bentuk shalawat Nabi adalah sebagaimana yang diajarkan Nabi ketika ditanya sahabat, yaitu:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ (رواه البخارى)

“Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.” (HR. Bukhari)

  1. Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi , seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah dan lain-lain yang disebutkan Nabi dalam haditsnya. Kita harus mencintai orang yang dicintai Nabi, dan (sekaligus) membenci orang yang dibenci Nabi. Lebih dari itu, hendaknya kita juga mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi termasuk ucapan, perbuatan, dan sesuatu yang lain.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Itulah bukti atau tanda-tanda orang yang Cinta kepada Rasul . Kalau tidak memenuhi itu, berarti pengakuan kita hanya sekedar pengakuan tanpa bukti, alias omong kosong belaka, meskipun dengan melakukan berbagai aktivitas yang mengatasnamakan “Cinta Rasul”.

Semoga uraian tadi dapat membuka hati kita untuk benar-benar mencintai Rasululllah dengan bentuk yang benar, sesuai dengan Sunnah Rasul . Amiin.

KHUTBAH KE DUA

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Bagaimana agar kita bisa mencintai Rasul?!

  1. Hendaknya kita ingat bahwa Nabi adalah orang yang paling baik dan paling berjasa kepada kita, bahkan dari orang tua kita sendiri. Beliaulah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya, yang menyampaikan agama dan kebaikan kepada kita, dan yang memperingatkan kita dari kemungkaran.

  2. Kita renungkan perjalanan hidup Nabi, jihad, dan kesabarannya dalam berdakwah, serta apa yang beliau korbankan demi tegaknya agama ini.

  3. Kita renungkan kegungan akhlak beliau, sifat dan sikapnya yang sempurna, renadah hati kepada kaum mukminin dan keras (tegas) terhadap kaum munafik dan musyrikin, pemberani, dermawan, dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah atas beliau dalam Firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

  1. Mengetahui kedudukan Nabi di sisi Allah. Beliau adalah orang yang paling mulia di antara segenap umat manusia, penutup para nabi, dan diistimewakan pada hari kiamat atas segenap para nabi untuk memberikan syafaatul ‘uzhma, yang memiliki maqom mahmud (kedudukan terpuji), orang yang pertamakali membuka pintu surga, serta berbagai keutamaan beliau lainnya.

Kita memohon kepada Allah , semoga kita benar-benar dijadikan Allah sebagai orang-orang yang mencintai Rasulullah dengan benar, dan dicintai oleh Baginda Rasul . Amin ya rabbal ‘alamin. [*]

Sumber Rujukan:

1. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI., Khadim al-Haramain asy-Syarifain, Saudi Arabia, tt.

2. Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’anul Azhim, Juz VI, Bairut: Darul Jiil, tt.

3. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir al-Qur’an, terj., Muhammad Iqbal, Lc. Dkk., Jakarta: Darul Haq, 1433 H/ 2012.

4. Dan berbagai sumber lainnya.

1 Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, 132)

2 Tafsir Ibnu Katsir, 6/461.

3 Tafsir as-Sa’di, V/647.

4 Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad. (al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, 678)

5 Dengan mengucapkan perkataan seperti: Assalamu’alaika ayyuhan Nabiy artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi. (al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI, 678)

6 Bershalawat kepada Nabi adalah mendo’akan beliau dengan rahmat, berkah, serta tempat yang luhur. Sedangkan shalawat dari Allah kepada hamba adalah rahmat bagi hamba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *