Oleh : M. MUJIB ANSOR, S.H.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala- dengan sebenar-benarnya. Dan marilah kita tingkatkan juga perhatian kita kepada al-Qur’an, kitab suci dan pedoman hidup umat Islam.

Pada khutbah terdahulu telah kami sampaikan ada 5 tuntutan kepada al-Qur’an, yaitu:

  1. membacanya
  2. memahami dan menghayati ayat-ayatnya
  3. mengamalkannya
  4. sabar dalam mengamalkan kandungannya
  5. mendakwahkannya.

Pada kesempatan ini kami akan menyampaikan jaminan bagi yang mengikuti petunjuk al-Qur’an, dan ancaman bagi yang berpaling dari al-Qur’an.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengikuti petunjuknya, tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. Allah berfirman:


ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

 

“Maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Kata Ibnu Abbas -Radiallahuanhuma-, “Ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”[1]

Ini yang kita mohon setiap hari itu:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6 ) supaya tidak sesat/ salah jalan.

Munculnya berbagai aliran sesat, seperti: Syi’ah, Khawarij, Jahmiyah, Mu’tazilah, Ahmadiyah, atau berbagai kelompok sempalan baru di Indonesia, seperti:

  • Kelompok Kyai Yusman Roi (yang mengajarkan shalat berbahasa Indonesia)
  • Mbah Ali (yang mengajarkan tidak perlu shalat, yang penting sabar)
  • Lia Aminudin atau Lia Eden (mengaku sebagai malaikat Jibril dan anaknya sebagai Isa, dan terakhir mengusulkan agar agama Islam dan yang lain dihapuskan saja)
  • Termasuk JIL dan berbagai faham liberal Islam lainnya.

Semua itu terjadi karena tidak menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk (huda), atau bisa juga salah dalam memahami al-Qur’an, karena tidak mau memahami al-Qur’an secara utuh, berdasarkan pemahaman para ulama salaf (para sahabat, tabi’in, dan pengikut setianya sampai kiamat). Mereka hanya mengandalkan pemahaman/pendapatnya sendiri.

Dalam hal ini Imam Ahmad -Rahimahullah- mengatakan:

اَلْأُصُوْلُ اَرْبَعَةٌ دَالٌّ وَدَلِيْلٌ وَمُبَيِّنٌ وَمُسْتَدِلٌّ. فَاالدَّالُّ هُوَ اللهُ, وَالدَّلِيْلُ هُوَ الْقُرْآنُ, وَالْمُبَيِّنُ الرَّسُوْلُ, وَالْمُسْتَدِلُّ اُولُو الْعِلْمِ الَّذِيْنَ اجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى هِدَايَتِهِمْ وَوِلَايَتِهِمْ.

“Rukun (memahami) agama itu ada empat, yaitu: 1) Yang menunjukkan, 2) petunjuk, 3) yang menjelaskan, dan 4) yang beristimbath. 1) Yang menunjukkan adalah Allah, 2) petunjuknya adalah al-Qur’an, 3) yang menjelaskan adalah Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-, dan 4) yang beristimbath adalah para ulama yang telah disepakati oleh umat Islam tentang kelurusan dan wala’ (loyal)nya kepada Islam.”[2]

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jadi memahami al-Qur’an tidak bisa sempurna jika tidak menggunakan penjelasan Rasulullah r. Allah I berfirman:

بِ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)

Maka Rasulullah pun menjelaskan seluruh al-Qur’an dengan bimbingan wahyu. Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan macam-macam bayan (penjelasan) yang dilakukan oleh Rasulullah r, yaitu: menjelaskan lafazh-lafazh al-Qur’an dan kandungannya; dengan ucapan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan)nya.[3]

Ibnu Mas’ud t berkata:

سَتَجِدُوْنَ قَوْمًا يَدْعُوْنَكُمْ اِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدَّعْ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعْ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ

“Kalian akan mendapatkan suatu kaum yang mengajak kalian kepada Kitab Allah, padahal mereka sendiri yang telah mencampakkannya di balik punggung mereka. Maka ikutilah ilmu dan hindarilah prilaku bid’ah, hindarilah sikap memaksa-maksakan kehendak dan ikutilah salaf.”[4]

Jadi, untuk memahami al-Qur’an dengan benar adalah dengan metode salaf, yaitu dengan mengikuti pemahaman para ulama salaf: para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dst. Kalau Imam Ibnu Katsir merumuskan dalam Tafsirnya: 1) menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, 2) menafsirkan dengan as-Sunnah, 3) menafsirkan dengan pendapat sahabat, dan 4) menafsirkan dengan keterangan tabi’in.

Kalau tidak demikian, maka akan menjadi sesat dan menyesatkan. Dan semua mengaku berdasarkan al-Qur’an!! Padahal pemahamannya yang salah.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sedangkan orang yang berpaling dari al-Qur’an, Allah mengancamnya:

مَّنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُۥ يَحْمِلُ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وِزْرًا

“Barangsiapa berpaling dari al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat.” (QS. Thaha: 100)

Atau di ayat yang lain Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Imam Ibnu Katsir j menjelaskan:

  • Berpaling dari peringatan-Ku artinya menyelisihi perintah-Ku dan yang diturunkan kepada Rasul (berpaling dari Qur’an dan Sunnah), serta mengambil petunjuk lain selain Qur’an dan Sunnah.
  • Kehidupan yang sempit artinya hatinya tidak tenang, selalu gelisah, dadanya sesak/sempit karena kesesatannya. Atau kehidupannya yang sempit/susah, atau disempitkan kuburannya.
  • Di akherat dalam keadaan buta, karena kesesatannya itu yang menghantarkan ke neraka Jahannam.[5]

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Menurut Imam Ibnul Qoyyim -Radiallahuanhu-, bahwa perilaku meninggalkan al-Qur’an (berpaling dari al-Qur’an) itu bermacam-macam bentuknya, diantaranya adalah:

  1. Tidak mau (enggan) mendengarkannya dengan seksama. (atau mau mendengarkan tetapi tidak iman)
  2. Tidak mengamalkan kandungannya.
  3. Tidah bertahkim atau menjadikannya sebagai landasan hukum dalam memutuskan setiap perkara.
  4. Tidak bertafakkur, memahaminya dan mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah [bukan dengan kehendak kita, seperti yang dilakukan orang-orang Islam liberal].
  5. Tidak menjadikannya sebagai obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit hati.

Kesimpulan

  • Orang yang mengikuti petunjuk al-Qur’an (dengan benar) akan berada di atas jalan yang lurus (ash-shiratul mustaqim), tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.
  • Sedangkan yang berpaling dari al-Qur’an, ia akan tersesat, hidupnya sempit, dan di akherat dikumpulkan dalam keadaan buta.

KHUTHBAH KE DUA

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jika ingin dekat dengan Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- maka kita harus banyak membaca shalawat dan meniru akhlak beliau, sedangkan jika ingin dekat dengan Allah maka kita harus banyak membaca al-Qur’an dan mengamalkan hukum-hukumnya. Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَىٰ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ، قالوا: من هم يا رسول الله؟ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari manusia. Maka mereka bertanya: ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Mereka adalah Ahli al-Qur’an, yaitu keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim, dari Anas bin Malik t, dengan sanad shahih)

Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

“Nanti ahli al-Qur’an akan datang di hari kiamat, lalu al-Qur’an akan berkata: ‘Ya Rabb, berilah ia perhiasan!’ Maka Allah memakaikan kepadanya perhiasan karomah (kemuliaan). Lalu al-Qur’an berkata: ‘Ya Rabb, tambahkan padanya!’ Maka Allah memakaikan padanya mahkota karomah. Kemudian al-Qur’an berkata: ‘Ya Rabb, ridhailah dia!’ Maka Allah pun meridhainya, lalu dikatakan kepadanya: ‘Bacalah dan naiklah!’ Maka setiap satu ayat yang dibacanya ia diberi satu kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim, dihasankan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Hakim)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian bebrapa jaminan yang Allah janjikan untuk orang-orang yang mau mengikuti al-Qur’an dan ahli al-Qur’an. Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahli al-Qur’an. Amin, ya Rabbal ‘alamin. [*]

Sumber Rujukan:

  1. Tafsir Ibnu Katsir, juz III, Darul Jiil, Bairut, tt.
  2. Ust. Agus Hasan Bashori, Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur’an, Pustaka as-Sunnah, Surabaya, Oktober 2003.
  3. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Sepuluh Kekasih Allah, Pustaka Azzam, Jakarta, 2000.

Muhammad al-Khalaf, Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup, Yayasan al-Sofwa, Jakarta, 1422 H.

 


[1] Tafsir Ibnu Katsir, III/164

[2] Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur’an, hal. 67

[3] Ibid, hal. 144

[4] Ibid, hal. 200

[5] Tafsir Ibnu Katsir, III/hal. 164

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *