Ndunyo 2

Oleh: Abdul Aziz Setiawan, SKM.

PANDANGAN SEORANG MUKMIN TERHADAP DUNIA

Tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan kekayaan dalam kehidupan dunia ini, karena itu adalah kenikmatan dunia. Dan setiap syahwat manusia menginginkan kenikmatan. Tidak ada seorangpun yang enggan ketika dibuka pintu-pintu kenikmatan dunia, semua akan condong untuk mendapatkannya. Hingga akhirnya kebanyakan manusia lupa bagian mereka dalam kehidupan akhir. Allah ta’ala berfirman :

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ١ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ ٢

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur” (At Takaatsur 1-2)

Ibnu Katsir berkata : Allah berfirman : kecintaan kalian kepada dunia, kenikmatannya dan perhiasannya telah menyibukkan kalian dari mencari kehidupan akhirat. Dan hal itu terus kalian lakukan hingga datang kematian kepada diri kalian dan kalian mendatangi kubur untuk menjadi penghuninya!

Ibnu Abi Hatim berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu : Bermegah-megahan telah melalaikan kamu dari taat kepada Allah, hingga kalian mendatangi kubur (datang kematian kepada kalian).

Padahal seharusnya kita berlomba-lomba untuk mendapatkan akhirat sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat al Muthoffifin ayat 26 :

وَفِي ذَٰلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ ٢٦

dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba

Inilah kenyataan yang saat ini terjadi, kebanyakan manusia lalai dari taat kepada Allah ta’ala. Kita bisa melihat kenyataan ini dalam shalat jamaah yang sepi jamaah. Kita juga bisa melihat sepinya majelis-majelis ilmu dari pendengar. Padahal akhiratlah yang harus dicari, adapun dunia maka diambil seperlunya yang dapat mengantarkan kita kepada akhirat. Allah ta’ala berfirman :

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al Qashash : 77)

Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : gunakanlah apa yang telah Allah ta’ala karuniakan kepada kalian dari harta yang banyak dan nikmat yang melimpah untuk taat kepada Penciptamu dan mendekatkan diri kepada-Nya sedekat-dekatnya, yang dapat mendatangkan pahala bagi kalian dalam kehidupan akhir. Dan janganlah kalian lupa bagian kalian dalam kehidupan dunia yang telah Allah ta’ala berikan kepada kalian, seperti makanan, minuman, pernikahan, pakaian, karena sesungguhnya Penciptamu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, keluargamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan berilah haknya setiap yang berhak.

Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa dunia adalah alat atau sarana untuk mendapatkan nikmat akhirat, dunia adalah persinggahan. Dunia bukanlah akhir, tetapi jalan menuju kehidupan akhir, yaitu akhirat. Tetapi perilaku kebanyakan umat manusia menunjukkan bahwa dunia adalah tujuan akhir.

KEKAYAAN SEBENARNYA SEORANG MUKMIN

kaya jiwa

Seorang mukmin memiliki kekayaan yang tidak ternilai jika dibandingkan dengan kekayaan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa“ (muttafaq ‘alaih)

Dalam kitab Fathul Bari Dalam hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menceritakan : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda kepadaku : “Wahai Abu Dzar, apakah menurutmu banyaknya harta itulah kekayaan?“, Abu Dzar menjawab : “Iya !, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Dan apakah engkau berpendapat bahwa orang yang sedikit hartanya adalah orang fakir?“, Abu Dzar menjawab :”Iya Wahai Rasulullah!“. Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : Sesungguhnya saja (yang dimaksud) kekayaan adalah kekayaan hati, dan (yang dimaksud) kefakiran adalah kefakiran hati“ (Ibnu Abi Hatim)

Ibnu Baththal berkata : makna dari hadis ini adalah bahwa 
hakekat kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, karena 
kebanyakan orang yang dilapangkan hartanya tidak puas dengan 
apa yang telah diberikan kepadanya, sehingga ia mengeluarkan 
daya upayanya untuk menambah dan tidak memperdulikan darimana 
ia mendapatkannya. Jadi seolah-olah ia fakir karena besarnya 
keinginannya. Akan tetapi kekayaan sebenarnya adalah

KEKAYAAN JIWA,

yaitu orang yang merasa cukup terhadap apa yang telah 
diberikan kepadanya, ridla dan tidak punya keinginan kuat 
untuk menambah serta tidak tamak dalam mencari. 
Maka seolah-olah ia adalah orang yang kaya.

taubatImam Al Qurthubi berkata : makna dari hadis ini adalah bahwa kekayaan yang bermanfaat, yang banyak, atau yang terpuji adalah kekayaan jiwa. Penjelasannya adalah jika suatu jiwa merasa cukup, maka ia akan menahan dirinya dari sifat tamak. Jiwa tersebut menjadi mulia, agung, dan ia akan menjadi bersih, terhormat dan terpuji. Ini semua lebih banyak dari kekayaan yang diterima oleh orang yang jiwanya fakir karena keinginannya yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang hina, yang disebabkan keinginannya yang hina dan kekikirannya. Akhirnya banyak manusia yang mencela dan merendahkan kedudukannya, sehingga jadilah ia orang yang paling hina diantara yang hina. Intinya adalah siapa yang memiliki jiwa yang kaya akan senantiasa qana’ah (merasa cukup) terhadap rizki Allah, tidak punya keinginan kuat untuk menambah tanpa ada keperluan, tidak pula mendesak dalam mencari, tidak pula bersumpah dalam meminta, akan tetapi ia ridla terhadap pemberian Allah ta’ala, seolah-olah ia mendapati Allah ta’ala selama-lamanya. Adapun orang yang fakir jiwanya sebaliknya, karena ia tidak puas terhadap pemberian-Nya, bahkan seperti itulah keadaannya selama-lamanya yang senantiasa mencari dan mencari dari jalan manapun yang memungkinkan. Kemudian jika yang ia cari tidak ia dapatkan, maka ia bersedih dan menyesal, seolah-olah ia adalah orang yang fakir.

Inilah kekayaan yang sebenarnya. Tidak ada yang lebih baik dari kekayaan ini. Hal ini sebagaimana yang pernah digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam salah satu hadisnya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»

Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Beruntunglah orang yang telah masuk islam, diberikan rizki yang cukup dan dikaruniai sifat qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya” (Muslim). Rizki yang cukup diiringi dengan sifat qana’ah adalah kekayaan yang sesungguhnya. Lebih banyak dari yang diberikan kepada orang-orang kafir.

Mereka inilah orang yang dicintai Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam.

عن سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ»

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata : aku mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, kaya dan menyembunyikan“(Muslim)

Ibnu Utsaimin berkata : yang dimaksud orang kaya adalah orang yang tidak butuh kepada manusia, ia hanya butuh kepada Allah ta’ala dan tidak kepada selain-Nya. Ia tidak meminta kepada manusia sedikitpun. Ia tidak menghinakan dirinya dihadapan manusia, bahkan ia tidak butuh kepada manusia, ia butuh kepada Allah dan tidak berpaling kepada selain-Nya.

Dari perkataan Ibnu Utsaimin kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seorang mukmin hanya butuh kepada Allah ta’ala. Ia tidak butuh kepada selain-Nya, hanya butuh kepada-Nya. Hal itu terjadi karena Allah ta’ala pemilik alam semesta beserta isinya, sedangkan selain-Nya tidak memiliki apapun di alam semesta ini.

nantikan bagian ke-2… “SUMBER-SUMBER KEKAYAAN SEORANG MUKMIN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *