MENGGAPAI KEBAHAGIAAN SEJATI1

Oleh: M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

Allahu Akbar… 3 x, walillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Sholat Id yang berbahagia

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala- . pada pagi hari ini kita dikaruniai kesempatan untuk menyambut hari raya Idul Adha 1441 H. Setelah kaum muslimin melakukan wukuf di Padang Arofah pada tgl. 9 Dzulhijjah dan setelah umat Islam melaksanakan puasa sunnah mulai tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, khususnya tanggal 8 dan 9, yaitu hari Tarwiyah dan Arofah.

Selanjutnya, walau bagaimanapun, dalam keadaan Pandemi Covid-19 sekalipun, setiap ia datang kita sambut Idul Adha ini dengan rasa syukur dan gembira. Kita sambut dengan menyerukan satu jalinan kalimat-kalimat suci dan mengumandangkan rajutan benang-benang tauhid.

  • kalimat takbir (ألله أكبر), kita mengagungkan Allah Yang Maha Besar.

  • kalimat tauhid (لا إله إلا الله), kita mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

  • kalimat tahmid (الحمد لله), kita mensyukuri berbagai nikmat Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah, yang tidak terhitung jumlahnya.

Allahu Akbar… 3 x, walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Manusia yang bermacam-macam rupa, bangsa, dan agama itu, dan memiliki bermacam-macam pekerjaan, profesi, dan tingkat pendidikan itu, kalau diperhatikan, ternyata yang mereka cari itu sama, yaitu ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan. Termasuk kita.

Ketahuilah, bahwa manusia tidak akan mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia ini apalagi di akhirat, kecuali hanya melalui satu jalan, yaitu Islam. Baginda Rasul bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافاً، وَقَنَّعَهُ اللّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang-orang yang berserah diri (masuk Islam), diberi rezki yang cukup, dan diberikan perasaan puas oleh Allah (qanaah) atas apa yang telah Dia berikan kepadanya.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Dalam riwayat lain Nabi bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلاَمِ، وَرُزِقَ الْكَفَافَ، وَقَنِعَ بِهِ

Sungguh beruntung orang yang mendapat petuntuk ke dalam Islam, dan hidup berkecukupan, serta merasa puas atas pemberian Allah (qonaah).” (HR. Turmudzi dan Nasa’i, Ibnu Majah. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, II/566)

Jadi, sekali lagi, jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan hakiki/sejati –menurut petunjuk Allah dan Rasul-Nya- adalah melalui jalan Islam. Alhamdulillah, kita sudah beragama Islam, berarti kita sudah memiliki jalan menuju kebahagiaan itu. Tinggal menyempurnakan jalan tersebut. Yaitu, dengan mengimani, mengilmui, dan mengamalkan Islam. Karena itu, mari kita bangun Islam kita ini di atas landasan iman dan ilmu yang benar.

Allahu Akbar… 3 x walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Sungguh, kebahagiaan itu tidak diperoleh dengan mengumbar hawa nafsu, memuaskan sahwat, dan menumpuk harta. Akan tetapi kebahagiaan itu diperoleh dengan himmah (gairah hidup), pola pikir, dan pola hidup yang islami.

Orang yang jauh dari agama serta rapuh imannya, selamanya tidak akan mendapatkan kebahagiaan hakiki (sejati). Justru semakin kaya, ia semakin bertambah sengsara dan menderita.

Allah -Subhanahu wa ta’ala-menegaskan bahwa kebahagiaan sejati itu hanya diperoleh melalui iman dan taqwa. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

  مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Ayat ini menjelaskan, siapa yang mengerjakan amal shaleh, yaitu amal yang mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, baik laki-laki maupun perempuan, sementara hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan diberi kehidupan yang baik di dunia, dan diberi balasan yang lebih baik dari amalnya di akherat.

Menurut Ibnu Katsir -Rahimahullah-, kehidupan yang baik itu mencakup seluruh bentuk ketenangan, bagaimanapun wujudnya.

Sedangkan menurut Syekh Abdurrahman as-Sa’di -Rahimahullah-, “Hal tersebut dengan pemberian ketenteraman hati dan ketenangan jiwa serta tiada menoleh kepada obyek yang mengganggu hatinya, dan Allah memberinya rezki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Dan Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

Baragsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas oleh Allah dengan dua hal, pertama: Allah akan mengadakan jalan keluar baginya. Artinya, Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan dunia maupun akherat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas dalam Tafsir al-Qurthubi. Kedua: Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya, Allah akan memberinya rizki yang tidak pernah ia harapkan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir -Rahimahullah- dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yaitu dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, IV/380)

Bahkan Allah mempertegas lagi dalam ayat berikutnya:

  وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

Dan siapa yang taqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Dari ayat-ayat tersebut -serta ayat-ayat yang lain- Allah menjelaskan sekaligus menjamin bahwa siapa saja, termasuk rumah tangga, yang mewujudkan iman, amal shalih, dan taqwa, maka rumah tangganya akan diliputi rahmat dan berkah, dicukupi rizki, seta diberi kehidupan yang baik. Yang kalau menurut bahasa kita, kehidupan yang baik itu ya berupa kebahagiaan, ketenangan, dan kesejahteraan lahir dan batin.

Alahu Akbar…3 x, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam rangka menggapai kebahagiaan sejati itu, Islam mengajarkan kepada kita beberapa hal (prinsip), paling tidak ada tiga prinsip, yaitu:

Pertama: Carilah kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa kehidupan duniamu.

Bukan dibalik: Carilah kehidupan duniamu tetapi jangan melupakan akhiratmu. Tidak. Itu terbalik dan keliru. Allah berfirman:

  وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Maksud dari ayat tersebut ialah:

  • Gunakanlah nikmat badan, akal, dan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada kita ini untuk mencari ridho Allah, taat kepada-Nya dalam bentuk ibadah serta mengikuti hukum-hukum-Nya.

  • Tetapi sisakanlah, jangan lupa “sisakan” untuk sekedar kehidupan duniamu, dari makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan keluargamu.

  • Berbuat baiklah kepada sesama muslim dan kepada sesama makhluk Allah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

  • Janganlah berbagai nikmat Allah tersebut, kita gunakan untuk berbuat kerusakan dan kemaksiatan di muka bumi Allah ini.

  • Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan dan maksiat. Wallahu a’lam.

Allahu Akbar… 3 x, walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kedua: Untuk Mendapatkan Akhirat kita harus berani mengorbankan dunia.

Bukan sebaliknya: untuk mendapatkan dunia kita harus mengorbankan akhirat, alias dengan melanggar syari’at Islam. Ini juga keliru dan sesat.

Ingatlah kisah Nabi Ibrahim ketika diperintah Allah untuk menyembelih putranya Ismail . Yang kisahnya sudah masyhur kita dengar. Coba kita bayangkan…!!

  • Adakah sesuatu yang paling dicintai manusia selain dari darah dagingnya sendiri?! [tidak ada]

  • Adakah anak yang paling dicintai selain anak satu-satunya yang ia miliki?! [tidak ada]

  • Adakah anak tunggal yang paling dicintai selain anak yang sudah lama dinanti-nanti kehadirannya serta diidam-idamkan, dan lahir ketika orang tua sudah lanjut usia?! [tidak ada]

  • Adakah anak tunggal seperti tersebut di atas yang paling dicintai selain anak yang tampan, pintar, dan berbakti?!

  • Tidak ada. Semua itu hanya ada pada diri Ismail dan Nabi Ibrahim , namun demikian:

  • Adakah itu semua lebih berharga daripada ridho Allah?! [Tidak]

  • Adakah kebahagiaan duniawi tersebut lebih berharga dari kebahagiaan ukhrawi?!

  • Adakah itu semua membuat Nabi Ibrahim bimbang dan membangkang?!

Oh…tidak. Ternyata tidak. Demi mendapatkan ridha Allah beliau rela mengorbankan anak satu-satunya yang lebih berharga dari nyawanya sendiri. Bahkan tidak hanya itu, beliau sendiri yang menggenggam pedang dan menyembelihnya. Yang pada akhirnya diri Ismail diganti dengan domba (kambing) oleh Allah .

Subhanallah…! Seandainya bukan karena iman yang benar dan kokoh, tentu tidak akan sanggup berbuat demikian. Inilah contoh terbaik dari keimanan, ketaatan, dan keikhlasan itu.

Allahu Akbar… 3 x walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Di manakah diri kita dari kisah Nabi Ibrahim ini?! Relakah kita, atau pernahkah kita mengorbankan harta, raga atau jiwa kita untuk membela agama Allah dan untuk mencari ridha Allah?! Ataukah justru sebaliknya, guna mendapatkan sejumlah materi kita rela melupakan Allah, rela meninggalkan ibadah, rela meninggalkan halal-haram, atau bahkan kita rela menjual agama kita dengan harga murah? Naudzubillah…tsumma na’udzu billah

Ma’asyirasl muslimin rahimakumullah

Ketiga: Kita harus bersabar dalam beribadah, atau dalam menjalankan syari’at Islam. Ingatlah ketika sang bapak yang dengan belas kasihnya menawarkan: “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, bagaimanakah pendapatmu?” Maka si anak yang shalih itu, yang berbakti kepada Allah dan orang tuanya dengan tegar, sabar, dan tawakkal menjawab: “Wahai ayah, kalau itu memang perintah Allah maka lakukanlah, dan wajib engkau lakukan, insyaAllah saya akan bersabar…” Ini yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam firman Allah:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Subhanallah…! Bapak dan anak sama-sama hebatnya; tunduk dan patuh kepada Allah dengan segenap jiwa dan raga…!!! Jadi, ketaatan itu butuh kesabaran…!

Allahu Akbar… 3 x walillahil Hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Sekali lagi, marilah kita renungkan kisah Nabi Ibrahim beserta anaknya, Ismail ‘alaihimassalam ini. Mari kita tanamkan dalam lubuk hati yang paling dalam. Ingatlah, siapa diri kita ini sebenarnya. Hanyalah seorang manusia yang hina, penuh noda, dan dosa, tidak memiliki apa-apa, dan pasti mati, kembali kepada Sang Pencipta untuk diperiksa dan dihisab amal perbuatan kita.

Demi Allah, semua manusia pasti merugi, semua sengsara dan menderita. Dengan susah payah, siang dan malam mereka berupaya mencari kebahagiaan, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Allah berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-Ashr: 1-3)

Akhirnya, marilah kita tutup dengan doa, memohon kepada Allah untuk kebaikan kita semua, dan umat Islam pada umumnya. Semoga kita bersama keluarga senantiasa dilimpahi rahmat dan berkah oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala- dan benar-benar dianugerahi kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin. [*]

Malang, 31/07/2020

1 Disampaikan di Masjid (Perum) Latansa, 31/07/2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *