I’TIKAF DI MASJID JAMI’ AL-UMM

oleh: Aisyah al-Qomariyah (9 Tahun)

Masjid 013-2012Ketika itu.. aku tidak tahu-menahu tentang i’tikaf. Saat aku diajak Ummi i’tikaf, aku hanya berkata “ya”, karena aku ingin tahu bagaimana i’tikaf itu. Akhirnya, tanggal 20 Ramadhan 1433 H, tepatnya hari Kamis sore, aku berangkat bersama Ummi, Akhi Hamzah, dan Ukhti Iffah ke Masjid Al-Umm dengan menaiki mobil berwarna hijau. Lokasi masjid yang dituju tidak terlalu jauh dari kota. 

Saat aku sudah berada di sana, aku segera ke tempat yang telah disediakan panitia. Di sana aku i’tikaf bersama Ummi, Abi, Ukhti Iffa, dan Akhi Hamzah. Selesai menata tempat untuk tidur, aku pun segera keluar dari tempat i’tikaf dan pergi bermain. Aku tidak tahu kalau i’tikaf itu ternyata harus berdiam di dalam masjid dengan beribadah dan membaca al-Qur’an hingga khatam. Tetapi, aku malah bermain pasir dan gerobak yang biasa dipakai pak tukang.

Hari ke-21 Ramadhan

Hari ini adalah hari pertama bagiku melakukan i’tikaf. Setelah bermalam, hari ini aku melakukanya dengan lumayan baik. Selalu di sisi Ummi yang selalu berdzikir. Tak lama kemudian adzan zhuhur berkumandang. Aku segera beranjak ke kamar mandi. Segera berwudhu dan mengerjakan shalat berjamaah. Seusai sholat aku melanjutkan bermain lagi. Aku bosan kalau beristirahat di dalam masjid terus. Hingga adzan ashar aku masih bermain. Badanku terasa capek sekali. Dan aku memutuskan kembali ke dalam masjid.

Di atas masjid ternyata Ummi sedang istirahat sambil berdzikir.  

“Ummi, aku capek!” rajukku, tanganku memeluk leher ummi. Lalu aku mencium pipinya yang putih.

Ummi menatapku, “Nak, i’tikaf itu beribadah kepada Allah, bukan bermain hingga capek,” ujar Ummi mengingatkan. Aku hanya tersenyum simpul.

“Habis shalat ashar, tadarus ya!” perintah Ummi lagi. Tangannya membelai lembut kepalaku. Aku hanya mengangguk lemah.

….

Selesai shalat, “Alif.. laaamm… miiimmm. ghulibatir ruuumm.. bibirku melantunkan ayat-ayat al-Qur`an Al-Karim. Sekarang aku sudah sampai surat Ar-Ruum, juz 21. Aku memulai dari juz 1 semenjak awal Ramadhan. Tetapi, aku tak bertahan lama. Aku cepat-cepat ingin keluar dari masjid. He..he..he..aku ingin bermain kembali. Ternyata aku tak kapok juga, kalau aku nanti kecapekan.

….

Hari ke-22 Ramadhan

 Masjid Al-Umm lt. 1Keesokan harinya aku dibangunkan Ummi untuk sahur.

“Aisy…ayo sahur, Nak!” kata Ummi yang membangunkanku. Aku hanya menggeliat enggan. Mataku masih terpejam kuat. Rasanya aku sangat mengantuk, tak ingin bangun lebih cepat.

“Aisy.. bangun..sahuur.. ntar keburu adzan subuh,” rayu Ummi yang tak putus asa membangunkanku. Tanganku langsung ditarik Ummi, berusaha mendudukkanku. Mataku masih terpejam. Langsung saja Ummi membasahi wajahku.

“Aahhh..” kataku gusar.

“Ayo, anakku…itu Ukhti Iffa juga sedang sahur..”

Aku langsung membuka mata. Dan segera beranjak ke kamar mandi, berwudhu, lalu sahur.

Selesai sahur aku segera menggosok gigi, dan bersiap menanti adzan subuh.

Setelah shalat subuh aku duduk di pojokan, tadarus. Alhamdulillah, sekarang aku sudah juz 22. Aku yakin, insyaAllah aku dapat menyelesaikan 30 juz dalam sebulan ini.  

Mentari mulai muncul malu-malu di peraduannya. Sebentar aku beristirahat dari tadarus. Mataku lelah. Akupun segera mandi dan keramas hingga bersih. Setidaknya aku bisa menyegarkan tubuhku dari rasa penat, akibat duduk terlalu lama. Lalu aku kembali ke tempatku dan melanjutkan tadarus hingga matahari meninggi.

….

Hari ke-23 Ramadhan

Masjid Al-Umm lt.2Esoknya aku dibangunkan Ummi untuk sahur. Tetapi pagi ini, mataku sungguh berat. Ingin rasanya aku terjatuh tidur. Aku begitu sulit untuk dibangunkan. Dan akhirnya, karena kesadaranku belum pulih. Maka Ummi menyuapiku sementara mataku tetap terpejam.

“Sudah.. ayo minum..,” perintah Ummi. Aku menyipitkan kelopak mataku. Mencoba melihat apa yang Ummi sodorkan padaku. Segelas air minum sudah ada tepat di depan mataku. Akupun segera meminumnya. Selesai sahur aku langsung berwudhu, bersiap-siap menunggu iqomat sholat shubuh.

Niatku untuk tadarus seusai shalat subuh batal. Aku masih sangat mengantuk. Aku menyerah, dan tertidur pulas hingga matahari meninggi.

Sinar mentari menerpa wajahku. Panas. Aku terbangun, aku sadar kalau suasana begitu sepi. Maka aku beranjak dan berjalan keluar dari tempat tidur, kulihat Ummi dan Ukhti Iffa sedang tidur, di samping mereka terdapat al-Qur’an yang terbuka. Aku hanya berlalu dan berlari menuruni tangga. Mencari sosok akhi, kakakku.

Di luar aku tadarus bersama akhi Hamzah karena akhi Hamzah kesepian, dia satu-satunya peserta i’tikaf laki-laki yang masih anak-anak.

….

awan langitUdara sudah semakin panas. Kami memutuskan untuk melanjutkan tadarus di depan masjid. Sembari menatap arakan awan yang bermacam-macam bentuk di atas kota Malang.

“Akh.. awan itu bentuknya seperti apa?” tanyaku tiba-tiba saat melihat awan yang berbentuk unik. Akhi menoleh. Memandang awan yang aku tunjuk dengan jari telunjukku.

“Bentuknya.. apa? Aku nggak tahu. Orang bentuknya aja aneh. Nggak berbentuk,”komentar akhi. Matanya masih saja memandang awan yang tadi. “Emang kamu tahu itu bentuknya seperti apa?” akhi balik bertanya kepadaku.

“He..he..he. aku juga nggak tahu,” ujarku nakal. Aku turunkan telunjukku. “Aku merasa itu seperti adonan roti aja.” Tambahku. Pikiranaku membayangkan adonan roti.

“Hmmm…aku lapar.,” lamunku sembari memegang perutku yang mulai kosong.

“Eh, aku puasa..,” ujarku tersenyum. Aku tertawa kecil sendiri. Akhi bingung melihatku yang tertawa sendiri. Ia hanya menggelengkan kepala, tanpa mengerti aku.

Siang cepat berlalu, sore pun menggantikannya. Aku baru selesai sholat ashar. Aku lanjutkan tadarusku. Menunggu ta’lim sebelum berbuka.

bersambung…

SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA, UNTUK MENJADI PESERTA I’TIKAF DI MASJID JAMI’ AL-UMM 1435 H

CP: 085 6369 6309 / 0812 1788 2233

________________

Karya tulis diatas dimuat di Majalah al-Umm edisi 8 th. 1 pada Rubrik ‘Alamul Aulad

Para pembaca yang budiman, rubrik ini kami khususkan untuk karya tulis putra-putri kita. Tujuan kami adalah memotivasi mereka untuk mengembangkan bakat mereka dalam tulis menulis.

Maka, kirimkanlah karya tulis putra-putri anda (cerpen, puisi, pantun dll.) ke alamat Redaksi al-Umm,

Jl. Joyo Agung No.1 Merjosari Lowokwaru Malang 65144,

dengan melampirkan identitas diri dan mencantumkan “ALAMUL AULAD” dipojok atas surat. Atau kirimkan ke email,

majalah@binamasyarakat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *